Data terbaru memperlihatkan bahwa pembagian kerja rumah tangga di Indonesia masih timpang. Perempuan memikul lebih banyak pekerjaan domestik dan perawatan, sementara partisipasi mereka di pasar kerja masih tertinggal dari laki-laki.
DEAL GENDER | Perdebatan mengenai gender di rumah tangga Indonesia semakin bergeser dari soal pembagian peran tradisional menuju persoalan waktu, kesempatan ekonomi dan pengakuan terhadap pekerjaan perawatan. Data yang disampaikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada September 2026 menunjukkan perempuan menghabiskan waktu 2,8 kali lebih banyak dibanding laki-laki untuk pekerjaan domestik dan perawatan tidak berbayar.
Jika pekerjaan berbayar dan tidak berbayar digabung, perempuan rata-rata mencurahkan sekitar 11,6 jam per hari, sedangkan laki-laki sekitar 9,2 jam. Data BPS yang dikutip KPPPA juga mencatat sekitar 35,7 juta perempuan melakukan kegiatan mengurus rumah tangga, dibanding sekitar 3,6 juta laki-laki.
Kesenjangan ini berhubungan dengan peluang perempuan masuk dan bertahan di pasar kerja. TPAK perempuan pada 2024 tercatat 56,42 persen, sementara TPAK laki-laki 84,66 persen. Dalam jangka panjang, ketimpangan waktu dapat memengaruhi pendapatan, pengalaman kerja, perlindungan sosial dan kesiapan ekonomi perempuan menghadapi usia lanjut.
Namun, isu gender dalam rumah tangga tidak seharusnya dipahami sebagai pertentangan antara laki-laki dan perempuan. Persoalan utamanya adalah bagaimana keluarga membagi waktu dan tanggung jawab secara adil sesuai kondisi masing-masing. Ayah yang mengambil bagian dalam pengasuhan dan pekerjaan rumah, misalnya, dapat membantu mengurangi beban waktu ibu sekaligus menciptakan lingkungan keluarga yang lebih seimbang.
Negara juga memiliki peran melalui ekonomi perawatan, layanan penitipan anak yang terjangkau, perlindungan pekerja, kebijakan kerja fleksibel dan akses pekerjaan yang aman. Jika pekerjaan perawatan tetap dianggap sebagai urusan privat semata, kontribusinya terhadap ekonomi keluarga dan nasional akan terus kurang terlihat.
Karena itu, ukuran kesetaraan gender di rumah tangga tidak cukup dilihat dari siapa yang menjadi kepala keluarga. Yang lebih penting adalah siapa yang bekerja, siapa yang mengurus rumah, siapa yang mengambil keputusan, bagaimana pendapatan dikelola, dan apakah kedua pasangan memiliki kesempatan yang relatif adil untuk berkembang. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel








