DEAL EKBIS | Indonesia lahir dari air. Sungai-sungai membelah daratan, menghubungkan hulu dan hilir, kampung dan kota, manusia dan penghidupan. Namun di banyak daerah hari ini, nadi itu justru terabaikan. Sungai dan kanal yang dahulu menjadi urat nadi perdagangan kini berubah wajah—terbengkalai, dipenuhi sampah, berbau busuk, bahkan menjadi sumber banjir yang berulang.
Di sejumlah kota dan kawasan permukiman, kanal-kanal hanya dipandang sebagai saluran pembuangan. Air menghitam, alirannya tersumbat, dan kehidupan menjauh. Padahal, di balik permukaan yang keruh itu tersimpan potensi besar: jalur transportasi murah, ramah lingkungan, dan berdaya ungkit tinggi bagi ekonomi rakyat.
Eksplorasi transportasi sungai bukan gagasan baru, tetapi gagasan yang lama dilupakan. Di masa lalu, perahu dan kapal kecil menjadi alat utama distribusi hasil bumi, bahan pangan, dan manusia. Sungai mengurangi biaya logistik, memperpendek jarak, dan membuka akses bagi wilayah-wilayah yang sulit dijangkau darat. Kini, ketika biaya transportasi darat kian mahal dan kemacetan menjadi beban, sungai justru menawarkan solusi yang tenang dan efisien.
Jika sungai dan kanal direvitalisasi—dibersihkan, dinormalisasi, dan dikelola dengan tata ruang yang berpihak pada publik—ia dapat menjadi sarana transportasi harian masyarakat. Perahu penyeberangan, angkutan sungai, hingga logistik skala kecil bisa kembali beroperasi. Pedagang pasar, petani, nelayan, dan pelaku UMKM memperoleh jalur distribusi yang lebih murah dan cepat.
Lebih dari itu, sungai yang hidup akan melahirkan ekonomi turunan. Dermaga rakyat, pasar terapung, wisata air, hingga ruang publik di bantaran sungai dapat membuka lapangan kerja baru. Sungai tidak lagi menjadi beban kota, melainkan wajah baru pembangunan yang berkelanjutan.
Persoalannya bukan sekadar teknis, melainkan keberanian melihat sungai sebagai aset, bukan tempat buangan. Pengelolaan terpadu—antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha—menjadi kunci. Kesadaran warga untuk menjaga sungai harus berjalan seiring dengan kebijakan yang tegas dan perencanaan yang berpihak pada masa depan.
Menghidupkan kembali transportasi sungai berarti mengembalikan fungsi alam sesuai kodratnya. Air kembali mengalir, ekonomi rakyat bergerak, dan banjir bisa dikurangi. Di negeri yang dianugerahi ribuan sungai, membiarkan mereka mati adalah kerugian besar. Sebaliknya, ketika sungai dihidupkan kembali, Indonesia sesungguhnya sedang membuka jalan air menuju kemandirian ekonomi yang lebih adil dan lestari. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G









