DEAL ZIQWAF | Langit pagi di Desa Najiahu masih diselimuti cahaya lembut ketika langkah perlahan memasuki sebuah kawasan yang jauh dari keramaian permukiman. Tidak ada suara kendaraan yang mendominasi, tidak ada hiruk-pikuk aktivitas pasar ataupun lalu lintas warga yang berlalu-lalang. Yang terdengar hanyalah desir angin yang bergerak di antara pepohonan serta sesekali kicauan burung yang memecah keheningan. Di tempat itulah terbentang taman pemakaman masyarakat Muslim Hui, sebuah ruang sunyi yang menyimpan jejak perjalanan hidup generasi demi generasi.
Bagi masyarakat Najiahu, kawasan pemakaman bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang telah meninggal dunia. Tempat ini juga menjadi ruang memori kolektif yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan komunitas Muslim yang telah hidup di wilayah tersebut selama berabad-abad.
Dari kejauhan, area pemakaman tampak sederhana namun tertata rapi. Jalan setapak yang bersih menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya. Pepohonan tumbuh di sejumlah titik, menghadirkan keteduhan alami yang membuat suasana terasa damai. Tidak terlihat kemegahan berlebihan ataupun ornamen yang mencolok. Kesederhanaan justru menjadi karakter utama yang mencerminkan nilai-nilai yang dianut masyarakat setempat.
Ketika berjalan lebih dekat, barisan makam tampak tersusun dengan teratur. Sebagian nisan menampilkan tulisan Arab yang berpadu dengan aksara Tiongkok, memperlihatkan perjumpaan dua identitas yang telah lama hidup berdampingan di komunitas Muslim Hui. Nama-nama yang terukir pada batu nisan menjadi pengingat bahwa setiap makam menyimpan kisah kehidupan yang pernah mewarnai perjalanan desa tersebut.
Banyak dari mereka yang dimakamkan di sini adalah warga biasa yang menghabiskan hidupnya sebagai petani, pedagang, guru, tokoh agama, atau anggota keluarga yang turut membangun kehidupan sosial masyarakat Najiahu. Namun ada pula makam-makam yang diyakini memiliki nilai historis karena terkait dengan tokoh-tokoh yang berperan dalam perkembangan komunitas Muslim di kawasan itu.
Suasana yang menyelimuti taman pemakaman menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di banyak tempat lain. Tidak ada kesan menyeramkan sebagaimana sering digambarkan dalam cerita-cerita populer. Sebaliknya, kawasan tersebut terasa seperti taman refleksi yang mengajak setiap pengunjung untuk merenungkan perjalanan hidup manusia.
Seorang warga lanjut usia tampak berjalan perlahan menuju salah satu makam keluarga. Dengan penuh kehati-hatian, ia membersihkan dedaunan yang jatuh di sekitar nisan sebelum memanjatkan doa dalam keheningan. Tidak jauh dari sana, beberapa anggota keluarga lain juga terlihat berziarah. Mereka datang tanpa keramaian, membawa rasa hormat dan kenangan kepada orang-orang yang telah mendahului mereka.
Bagi masyarakat Muslim Najiahu, tradisi berziarah ke makam memiliki makna yang mendalam. Selain menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, kegiatan tersebut juga menjadi pengingat akan keterbatasan kehidupan dunia. Di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, tempat seperti ini menghadirkan ruang untuk berhenti sejenak dan menengok kembali akar sejarah keluarga maupun komunitas.
Yang menarik perhatian adalah bagaimana kawasan pemakaman ini dijaga dengan baik oleh masyarakat setempat. Kebersihan lingkungan terlihat terpelihara. Rumput dipangkas secara berkala, jalan-jalan kecil tetap rapi, dan tidak tampak sampah yang mengganggu pemandangan. Kepedulian tersebut mencerminkan penghormatan masyarakat terhadap mereka yang telah wafat sekaligus terhadap nilai-nilai yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Di beberapa sudut pemakaman, pepohonan tua berdiri kokoh seakan menjadi saksi perjalanan waktu yang panjang. Batang-batangnya yang besar menyimpan cerita tentang berbagai perubahan yang telah terjadi di Najiahu. Di bawah naungan pohon-pohon itu, makam-makam tetap terjaga dalam suasana tenang yang nyaris tidak berubah oleh pergantian zaman.
Keberadaan taman pemakaman ini juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Muslim Hui. Di tengah dominasi budaya Tiongkok yang luas dan beragam, komunitas Muslim di Najiahu terus mempertahankan tradisi pemakaman yang berakar pada ajaran Islam. Nilai kesederhanaan, penghormatan kepada yang telah meninggal, dan kepedulian terhadap lingkungan tercermin dalam tata kelola kawasan tersebut.
Menjelang siang, cahaya matahari mulai menerobos sela-sela pepohonan dan menyinari barisan makam yang berjajar tenang. Suasana tetap hening, seolah memberikan ruang bagi setiap orang untuk berdialog dengan kenangan dan pikirannya sendiri. Tidak ada yang terburu-buru di tempat ini. Waktu terasa berjalan lebih lambat, mengajak siapa pun yang datang untuk merenungi makna kehidupan yang sering kali terlupakan dalam kesibukan sehari-hari.
Mengunjungi taman pemakaman Muslim di Desa Najiahu bukan hanya tentang melihat deretan makam atau memahami tradisi sebuah komunitas. Perjalanan itu juga menghadirkan pengalaman batin yang lebih dalam. Di antara nisan-nisan yang berdiri diam dan pepohonan yang terus tumbuh dari tahun ke tahun, tersimpan pelajaran tentang kehidupan, tentang warisan yang ditinggalkan manusia, dan tentang hubungan yang tidak pernah benar-benar terputus antara generasi yang telah pergi dan mereka yang masih melanjutkan perjalanan.
Di sudut pedalaman Tiongkok itu, taman pemakaman Najiahu berdiri sebagai ruang sunyi yang penuh makna. Ia bukan hanya tempat peristirahatan terakhir, tetapi juga lembar sejarah yang terbuka, tempat kenangan tetap hidup, doa terus dipanjatkan, dan waktu mengajarkan bahwa setiap kehidupan pada akhirnya akan meninggalkan jejak yang dikenang oleh mereka yang datang setelahnya. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G









