Di Balik Gaji Belasan Juta: Suara Sunyi Pekerja Migran Perempuan Indonesia di Taiwan

Pekerja migran perempuan Indonesia di Taiwan menghadapi jam kerja panjang dan keterbatasan hak. Dok : Deal Channel

DEAL GENDER | Taiwan menyala terang di malam hari—gedung-gedung tinggi, jalanan rapi, dan sistem yang bergerak presisi. Namun di balik keteraturan itu, ada ruang-ruang sunyi tempat ribuan perempuan Indonesia menjalani hidup sebagai pekerja migran. Mereka datang membawa harapan, pulang membawa cerita—tak selalu tentang keberhasilan, sering kali tentang pengorbanan yang tak terlihat.

Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pengasuh bayi dan perawat orang tua lanjut usia. Gaji yang diterima, jika dikonversi ke rupiah, bisa mencapai Rp13 hingga Rp15 juta per bulan. Angka yang bagi banyak keluarga di kampung halaman terasa seperti mimpi. Dari uang itulah rumah dibangun, sekolah anak dibayar, dan utang dilunasi.

Read More

Namun gaji itu ditebus dengan waktu yang nyaris habis untuk bekerja. Jam kerja panjang, tanggung jawab besar, dan ruang pribadi yang sempit menjadi keseharian. “Kami bukan cuma kerja pakai tenaga, tapi juga pakai hati,” ujar Siti (bukan nama sebenarnya), pekerja migran asal Jawa Tengah yang sudah enam tahun merawat lansia di Taichung. “Kalau orang tua yang kami rawat sakit atau rewel, kami tidak bisa lepas tangan. Rasanya seperti keluarga sendiri.”

Soal cuti, tak semua datang dengan mudah. Banyak pekerja migran perempuan baru mendapat hak libur satu kali dalam sebulan—dan itu pun sering kali baru diberikan setelah kontrak pertama selama tiga tahun selesai. “Tiga tahun pertama hampir tidak pernah keluar rumah majikan,” kata Nur, pengasuh bayi asal Lombok. “Kalau mau libur, harus minta baik-baik. Kadang ya tidak dikasih.”

Bagi mereka, hari libur bukan sekadar jeda, melainkan momen mengingat diri sendiri. Sekali sebulan, mereka berkumpul di taman kota, stasiun, atau masjid. Di sanalah tawa dilepas, rindu kampung halaman dibagi, dan lelah dipeluk bersama. “Libur sebentar itu rasanya seperti diisi ulang,” ujar Nur pelan.

Meski berat, banyak dari mereka tetap bertahan. Alasannya sederhana: keluarga. “Anak saya bisa sekolah sampai SMA karena saya di sini,” kata Siti. “Kalau saya pulang sekarang, mungkin dia harus berhenti.”

Nasib pekerja migran perempuan Indonesia di Taiwan adalah kisah tentang pilihan yang tak mudah. Antara gaji yang menjanjikan dan kehidupan yang terikat, antara tanggung jawab di negeri orang dan cinta yang tertinggal di rumah. Mereka bukan sekadar angka remitansi, melainkan manusia dengan rasa lelah, harapan, dan keberanian yang sering luput dari sorotan.

Di negeri asing yang tertib dan modern itu, suara mereka mungkin lirih. Namun jika didengarkan lebih dekat, suara itu berkata satu hal yang sama: mereka bekerja keras bukan untuk menjadi kuat, tetapi karena keadaan menuntut mereka bertahan. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts