Potret Perempuan Muslim Najiahu: Penjaga Tradisi dan Kehangatan Hari Kurban

Kesibukan perempuan Muslim Najiahu berkerudung lembut memasak hidangan tradisional hari raya
Peran penting para perempuan Hui dalam menyemarakkan perayaan Idul Adha di rumah

DEAL GENDER | Pagi Hari Raya Idul Adha di Desa Najiahu berjalan perlahan, seolah memberi ruang bagi setiap warganya untuk menikmati momen yang hanya datang sekali dalam setahun. Setelah gema takbir mereda dan jamaah kembali dari masjid, aktivitas desa mulai berpusat pada pelaksanaan ibadah kurban. Di tengah kesibukan tersebut, perhatian tertuju pada sosok-sosok perempuan Muslim Hui yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian perayaan hari besar itu.

Tim liputan yang berkesempatan menyaksikan langsung suasana Idul Adha di desa yang terletak di wilayah barat laut Tiongkok itu mendapati bahwa para perempuan tidak berada di garis depan lokasi penyembelihan hewan kurban. Namun kehadiran mereka justru terasa kuat dalam setiap tahapan kegiatan yang berlangsung sepanjang hari.

Read More

Di halaman-halaman rumah dan gang-gang kecil desa, perempuan dari berbagai usia tampak sibuk mempersiapkan kebutuhan keluarga. Sebagian menata perlengkapan dapur, sebagian lainnya menyiapkan hidangan untuk tamu dan kerabat yang akan datang bersilaturahmi. Di wajah mereka terlihat kesibukan yang berjalan beriringan dengan suasana syukur menyambut hari raya.

Mengenakan kerudung sederhana dengan warna-warna lembut, para perempuan Najiahu menjalankan aktivitasnya dengan tenang. Sesekali mereka berhenti untuk berbincang dengan tetangga yang melintas atau membantu anggota keluarga lain yang tengah mempersiapkan pelaksanaan kurban. Anak-anak perempuan mengikuti orang tua mereka, belajar memahami tradisi yang telah diwariskan selama beberapa generasi.

Ketika proses penyembelihan hewan kurban dimulai di lokasi yang telah disiapkan masyarakat, sejumlah perempuan memilih menyaksikannya dari jarak tertentu. Mereka tidak berdesakan mendekati area penyembelihan. Sebagian berdiri bersama anggota keluarga, sementara yang lain memperhatikan dari halaman rumah atau titik-titik yang memungkinkan mereka melihat jalannya prosesi.

Bagi masyarakat Muslim Hui di Najiahu, penyembelihan hewan kurban bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga tradisi sosial yang menghubungkan keluarga dan komunitas. Karena itu, keterlibatan perempuan tidak semata-mata diukur dari keberadaan mereka di lokasi penyembelihan, melainkan dari peran yang mereka jalankan dalam menjaga keberlangsungan seluruh rangkaian kegiatan hari raya.

Dari kejauhan, para perempuan tampak mengamati proses kurban dengan penuh perhatian. Beberapa mengangkat tangan dalam doa ketika penyembelihan dilakukan. Di wajah mereka tersirat penghormatan terhadap makna pengorbanan yang menjadi inti peringatan Idul Adha. Tidak ada sorak-sorai atau ekspresi berlebihan. Yang terlihat justru suasana hening yang dipenuhi rasa khidmat.

Seorang ibu paruh baya terlihat menggandeng tangan cucunya sambil menjelaskan makna kurban dalam bahasa yang sederhana. Anak itu mendengarkan dengan penuh rasa ingin tahu. Pemandangan tersebut menjadi gambaran bagaimana nilai-nilai keagamaan ditanamkan secara perlahan melalui pengalaman langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, di rumah-rumah warga, perempuan lain mulai bersiap menerima bagian daging kurban yang nantinya akan dibagikan kepada keluarga dan masyarakat. Mereka menyiapkan wadah penyimpanan, mengatur kebutuhan memasak, serta berdiskusi mengenai hidangan yang akan disajikan kepada tamu. Aktivitas tersebut berlangsung hampir bersamaan di berbagai sudut desa.

Tim liputan juga menangkap bagaimana solidaritas antarperempuan terlihat kuat pada hari itu. Mereka saling membantu menyelesaikan pekerjaan, berbagi informasi, dan memastikan tidak ada keluarga yang terlewat dalam pembagian daging kurban. Tradisi gotong royong yang hidup di tengah masyarakat Najiahu menjadi salah satu wajah lain dari perayaan Idul Adha yang jarang terlihat oleh orang luar.

Menjelang siang, aroma masakan mulai memenuhi udara desa. Daging kurban yang telah dibagikan perlahan diolah menjadi berbagai hidangan khas Muslim Hui. Di dapur-dapur sederhana, perempuan menjadi pusat aktivitas keluarga. Mereka mengubah hasil ibadah kurban menjadi santapan yang akan dinikmati bersama dalam suasana penuh kebersamaan.

Di tengah arus modernisasi yang terus menjangkau berbagai wilayah Tiongkok, perempuan Muslim Najiahu tetap memegang peran penting dalam menjaga tradisi dan identitas komunitas mereka. Mereka mungkin tidak selalu tampil di depan publik, tetapi keberadaan mereka menjadi penyangga utama kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Hari itu, penyembelihan hewan kurban memang menjadi peristiwa utama yang menarik perhatian banyak orang. Namun di balik prosesi tersebut, tersimpan kisah tentang perempuan-perempuan yang merawat makna hari raya melalui kerja-kerja sunyi yang sering kali tidak terlihat. Dari tangan mereka lahir hidangan yang mempererat silaturahmi, dari tutur kata mereka nilai-nilai agama diwariskan kepada generasi muda, dan dari ketulusan mereka semangat berbagi menemukan bentuknya yang paling nyata.

Ketika matahari mulai bergerak ke arah barat dan aktivitas kurban berangsur selesai, kehidupan di Desa Najiahu tetap berdenyut dalam suasana hangat khas hari raya. Di antara suara percakapan keluarga dan tawa anak-anak, perempuan-perempuan Muslim Hui terus menjalankan perannya dengan tenang. Mereka menjadi bagian dari kisah Idul Adha yang tidak selalu berada di pusat perhatian, tetapi justru menyimpan makna mendalam tentang pengabdian, kebersamaan, dan keberlanjutan tradisi yang hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Are you human? Please solve:Captcha