DEAL EKBIS | Nama Desa Najiahu mungkin tidak sepopuler kota-kota besar di Tiongkok yang identik dengan gedung pencakar langit, jaringan kereta cepat, dan kawasan industri modern. Letaknya jauh dari hiruk-pikuk pusat ekonomi negara itu. Selama bertahun-tahun, kawasan tempat desa ini berada kerap dikaitkan dengan wilayah pedalaman yang tingkat kesejahteraannya tertinggal dibandingkan dengan daerah pesisir timur Tiongkok. Bahkan, tidak sedikit cerita yang berkembang di kalangan wisatawan dan pelancong yang menyebut desa tersebut sebagai bagian dari kawasan termiskin di negeri Tirai Bambu.
Namun, kesan itu perlahan berubah ketika kaki benar-benar menginjak jalan-jalan desa Najiahu.
Apa yang terlihat justru menghadirkan pemandangan yang berbeda dari bayangan tentang sebuah wilayah miskin. Jalan-jalan desa terbentang rapi dan bersih. Hampir tidak terlihat tumpukan sampah di sudut-sudut permukiman. Rumah-rumah penduduk berdiri teratur dengan halaman yang terawat. Pepohonan tumbuh di sejumlah ruas jalan, menghadirkan suasana teduh yang membuat lingkungan terasa nyaman bagi warga yang berjalan kaki maupun bersepeda.
Di pagi hari, aktivitas masyarakat berlangsung dengan tenang. Sejumlah warga tampak membersihkan halaman rumah mereka. Anak-anak berangkat menuju sekolah, sementara para lansia bercengkerama di teras rumah atau berjalan santai menikmati udara segar. Tidak ada kesan kumuh yang sering dilekatkan pada daerah yang dianggap miskin.
Bagi pengunjung yang datang untuk pertama kali, Najiahu menghadirkan paradoks yang menarik. Di satu sisi, desa ini berada di wilayah yang secara historis pernah menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Namun di sisi lain, kualitas lingkungan yang terlihat justru menunjukkan tingkat pengelolaan desa yang baik dan kehidupan masyarakat yang relatif stabil.
Najiahu dikenal sebagai salah satu desa yang dihuni komunitas Muslim Hui, kelompok etnis yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang Tiongkok selama berabad-abad. Identitas keagamaan dan budaya mereka masih terlihat kuat dalam kehidupan sehari-hari. Masjid berdiri sebagai pusat kegiatan sosial dan spiritual masyarakat, sementara nilai-nilai kebersamaan masih menjadi bagian penting dalam hubungan antarwarga.
Ketika menyusuri jalan-jalan desa, kesan yang muncul bukanlah kemewahan, melainkan kecukupan. Banyak rumah dibangun dengan sederhana, tetapi terawat. Kendaraan pribadi memang tidak sebanyak di kota-kota besar, namun kebutuhan dasar masyarakat tampak terpenuhi. Toko-toko kecil yang menjual kebutuhan harian beroperasi dengan normal, sementara aktivitas ekonomi warga berjalan tanpa kesan stagnan.
Beberapa warga terlihat sibuk menjalankan usaha keluarga. Ada yang berdagang makanan, mengelola usaha kecil, atau bekerja di sektor jasa. Sebagian lainnya menggantungkan penghasilan dari pertanian dan aktivitas ekonomi lokal yang telah berlangsung turun-temurun. Pola kehidupan seperti ini menciptakan ritme sosial yang lebih tenang dibandingkan kehidupan perkotaan yang serba cepat.
Yang paling mencolok adalah budaya menjaga kebersihan yang tampaknya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Halaman rumah terlihat rapi, saluran air terpelihara, dan ruang publik dijaga bersama. Di berbagai sudut desa, hampir tidak ditemukan sampah berserakan. Kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa kesejahteraan tidak selalu identik dengan kemewahan material, tetapi juga berkaitan dengan kualitas lingkungan dan kesadaran kolektif warga.
Di tengah berkembangnya narasi tentang kesenjangan antara kota dan desa di Tiongkok, Najiahu menghadirkan perspektif lain. Desa ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari tingginya gedung atau ramainya pusat perbelanjaan. Ada ukuran lain yang sering kali lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, yakni rasa aman, lingkungan yang sehat, hubungan sosial yang harmonis, dan kemampuan memenuhi kebutuhan hidup secara layak.
Masyarakat Najiahu tampaknya memahami hal tersebut. Warga saling mengenal satu sama lain. Interaksi sosial berlangsung hangat dan alami. Anak-anak bermain di lingkungan yang bersih, sementara para orang tua menjalani kehidupan dengan ritme yang relatif tenang. Nilai kebersamaan yang masih terjaga menjadi salah satu modal sosial yang memperkuat kehidupan masyarakat desa.
Meski demikian, bukan berarti Najiahu terbebas dari tantangan. Sebagaimana banyak wilayah pedesaan lainnya, desa ini tetap menghadapi kebutuhan untuk meningkatkan peluang ekonomi, memperluas akses pendidikan, dan membuka kesempatan kerja bagi generasi muda. Namun tantangan tersebut tidak menghapus fakta bahwa kualitas hidup yang terlihat di lapangan jauh lebih baik dibandingkan stigma yang selama ini melekat.
Pengalaman berada di Najiahu memberikan pelajaran sederhana bahwa istilah “miskin” sering kali tidak mampu menggambarkan kondisi masyarakat secara utuh. Pendapatan mungkin menjadi salah satu indikator, tetapi kehidupan manusia tidak hanya diukur dari angka statistik. Kebersihan lingkungan, rasa kebersamaan, keamanan sosial, dan kemampuan hidup secara bermartabat juga merupakan bagian penting dari kesejahteraan.
Saat matahari mulai tenggelam di balik perbukitan dan lampu-lampu rumah warga menyala satu per satu, Desa Najiahu memperlihatkan wajahnya yang sesungguhnya. Bukan desa yang tenggelam dalam kemiskinan sebagaimana kerap dibayangkan banyak orang, melainkan sebuah komunitas yang terus berusaha hidup dengan sederhana, tertata, dan penuh rasa syukur.
Di tempat itu, kesejahteraan tidak selalu tampil dalam bentuk kemewahan yang mencolok. Ia hadir melalui jalan yang bersih, rumah yang terawat, anak-anak yang dapat belajar dengan tenang, serta masyarakat yang masih menjaga nilai-nilai kebersamaan. Najiahu menjadi pengingat bahwa martabat sebuah desa tidak selalu ditentukan oleh seberapa kaya ia terlihat, tetapi oleh seberapa baik masyarakatnya mampu membangun kehidupan yang nyaman, bersih, dan berkecukupan di tengah segala keterbatasan yang ada. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel









