DEAL EKBIS | Saat Anda berada di Kota Den Haag, air bukan hanya bagian dari lanskap kota, tetapi juga menjadi elemen penting yang membentuk identitas dan kehidupan warganya.
Di antara gedung-gedung pemerintahan, pusat diplomasi internasional, kawasan bisnis modern, serta bangunan tua berarsitektur klasik, kanal-kanal yang jernih mengalir dengan tenang. Permukaan airnya memantulkan langit khas Belanda dan wajah kota yang tertata rapi. Tidak terlihat sampah yang mengapung, tidak tercium bau tak sedap, dan tidak ada kesan kumuh seperti yang sering dijumpai di banyak kota berkembang.
Di kota ini, kanal bukan sekadar saluran pembuangan atau pengendali banjir.
Kanal adalah bagian dari denyut ekonomi.
Selama ini, Den Haag dikenal sebagai pusat pemerintahan Belanda sekaligus rumah bagi lembaga-lembaga hukum internasional seperti International Court of Justice. Namun di balik citra politik dan diplomasi itu, kota ini juga membangun kekuatan ekonominya melalui tata kota yang bersih, sehat, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Salah satu kunci utamanya adalah pengelolaan kanal.
Belanda sejak lama memahami bahwa air bukan ancaman yang harus dilawan, melainkan aset yang harus dimanfaatkan. Kanal tidak hanya berfungsi sebagai sistem pengendali air, tetapi juga menjadi sumber daya yang mendukung pariwisata, usaha lokal, transportasi, kuliner, hingga peningkatan nilai properti.
Kesadaran inilah yang terus dijaga di Den Haag.
Pemerintah kota bekerja sama dengan berbagai komunitas sosial seperti TrashUre Hunt dan Grondstofjutters untuk memastikan kebersihan saluran air tetap terjaga agar sampah tidak mengalir hingga ke laut. Program seperti “fishing for plastic” bahkan diperkenalkan kepada anak-anak sekolah, sementara masyarakat diajak berpartisipasi dalam kegiatan membersihkan kanal melalui paddleboarding sambil memungut sampah. Pada tahun 2023, lebih dari 5.800 orang tercatat ikut serta dalam gerakan menjaga kebersihan perairan kota tersebut.
Di titik inilah lingkungan dan ekonomi saling bertemu.
Kanal yang bersih menciptakan daya tarik wisata yang kuat. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat gedung parlemen atau museum terkenal, tetapi juga untuk menikmati suasana kota dengan berjalan santai di sepanjang kanal, duduk di kafe pinggir air, menaiki perahu wisata, atau makan malam di restoran kecil dengan pemandangan yang damai.
Keindahan kota ternyata mampu menghasilkan keuntungan ekonomi.
Sektor pariwisata di Den Haag menjadi salah satu penopang utama perekonomian kota. Bahkan kota ini dikenal sebagai destinasi wisata terbesar kedua di Belanda setelah Amsterdam, dengan nilai belanja wisata mencapai sekitar 2 miliar euro per tahun. Sekitar satu dari sepuluh penduduknya juga bergantung pada sektor pariwisata untuk penghidupan mereka.
Artinya, menjaga kebersihan kota bukan sekadar biaya operasional, tetapi merupakan investasi jangka panjang.
Studio arsitektur ternama MVRDV bahkan pernah mengusulkan agar kanal-kanal tua abad ke-17 yang dahulu ditutup antara tahun 1910 hingga 1970 dibuka kembali. Gagasan tersebut bukan hanya untuk mempercantik kota, tetapi juga sebagai strategi membangkitkan ekonomi kawasan pusat bersejarah.
Menurut mereka, kawasan kanal tua merupakan bagian penting dari identitas kota sekaligus penopang utama pariwisata. Dengan membuka kembali kanal, ekonomi lokal dapat tumbuh lebih kuat, kualitas lingkungan meningkat, lalu lintas menjadi lebih baik, dan bisnis-bisnis kecil di pusat kota kembali hidup. Bahkan konsep tersebut dikaitkan dengan pengembangan jalur gastronomi, pasar baru, hingga penguatan usaha lokal.
Dengan demikian, kanal bukan hanya ruang air.
Ia berubah menjadi ruang usaha.
Di sepanjang kawasan kanal, berbagai bisnis kecil tumbuh subur: restoran keluarga, toko bunga, butik lokal, galeri seni, kafe artisan, hingga operator wisata kanal. Ketika ruang publik nyaman dan sehat, masyarakat cenderung menghabiskan lebih banyak waktu di sana. Dan ketika orang tinggal lebih lama, aktivitas ekonomi pun meningkat.
Inilah bentuk ekonomi yang dibangun dari kualitas hidup.
Banyak warga lokal juga melihat pentingnya peran kanal dalam masa depan kota. Dalam berbagai forum diskusi publik, mereka menilai bahwa menghidupkan kembali kanal bersejarah akan menjadi langkah besar dalam memperbaiki pusat kota, terutama jika dipadukan dengan ruang hijau, kawasan ramah pejalan kaki, dan peningkatan kualitas bisnis lokal.
Bagi mereka, kanal bukan hanya simbol masa lalu, tetapi fondasi pembangunan masa depan.
Pelajaran ini sangat relevan bagi banyak kota di Asia, termasuk Indonesia.
Banyak daerah memiliki sungai dan kanal yang seharusnya bisa menjadi aset besar, tetapi justru diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah. Air dianggap sebagai masalah, bukan peluang ekonomi.
Padahal jika sungai dan kanal ditata dengan baik, potensinya sangat besar.
Restoran dapat tumbuh, UMKM berkembang, wisata meningkat, nilai properti naik, kesehatan masyarakat membaik, dan wajah kota ikut berubah menjadi lebih layak huni.
Den Haag menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak selalu harus dimulai dari gedung tinggi atau pusat perbelanjaan modern.
Kadang, semuanya bermula dari air yang bersih.
Dari kanal yang sehat.
Dari kesadaran sederhana untuk menjaga lingkungan bersama.
Ekonomi modern ternyata tidak hanya lahir dari kawasan industri besar, tetapi juga dari ruang publik yang nyaman, lingkungan yang tertata, dan kota yang membuat orang betah untuk datang—lalu ingin kembali lagi.
Di Den Haag, kanal menjadi pelajaran bisnis yang sederhana namun sangat nyata.
Air mengalir perlahan.
Wisatawan berdatangan.
Usaha tumbuh.
Dan kota terus hidup.
Karena pada akhirnya, kota yang bersih bukan hanya indah dipandang.
Tetapi juga mampu menciptakan kesejahteraan. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G









