DEAL OLAHRAGA | Ketika sebagian besar sorotan publik tertuju pada pembangunan gedung-gedung pemerintahan, jalan protokol, dan hunian aparatur negara, ada sisi lain dari Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mulai menarik perhatian: ruang-ruang terbuka hijau yang menjelma menjadi arena olahraga dan rekreasi bagi para pelancong dan warga lokal.
Di pagi hari, kabut tipis masih menggantung di antara rimbunnya pepohonan. Suara burung enggang dan aliran sungai kecil menjadi latar alami bagi para pejalan kaki, pesepeda, hingga pelari lintas alam yang menjajal trek-trek alami di kawasan hutan kota IKN. Pemandangan seperti ini sulit ditemui di ibu kota lama yang padat dan penuh polusi.
“Ini seperti lari di alam mimpi,” ujar Reza, wisatawan asal Surabaya yang ikut dalam IKN Green Trail Run, sebuah ajang lari lintas alam yang mulai digelar rutin di kawasan inti IKN. “Jalan setapaknya membelah hutan tropis, tapi infrastruktur dasarnya sudah cukup baik. Ada papan arah, titik istirahat, bahkan WiFi di beberapa titik.”
Dengan konsep forest city, IKN memang tidak hanya dirancang sebagai pusat pemerintahan, tapi juga sebagai kota yang menyatu dengan alam. Dari awal, 65% wilayah IKN diproyeksikan tetap menjadi kawasan hijau dan konservasi. Ruang ini tidak hanya untuk keanekaragaman hayati, tetapi juga untuk aktivitas ekowisata dan olahraga luar ruang.
Taman kota IKN, yang kini dalam proses pembangunan tahap awal, dirancang memiliki jalur sepeda sepanjang puluhan kilometer, jogging track yang membelah hutan sekunder, hingga arena outbond dan panjat tebing alami. Kawasan danau dan sempadan sungai juga mulai dimanfaatkan untuk kegiatan dayung dan paddle board.
“Wisatawan yang datang ke IKN bukan hanya untuk melihat-lihat gedung pemerintahan. Mereka juga ingin merasakan sensasi berolahraga di tengah alam Kalimantan yang asri dan menenangkan,” kata Maya Putri, pegiat komunitas IKN Eco Walk, yang rutin mengajak wisatawan jalan kaki sambil edukasi lingkungan.
Hal ini pun membuka peluang baru bagi masyarakat lokal. Warga desa di sekitar IKN mulai membuka jasa sewa sepeda, pemandu lari alam, hingga warung kopi sederhana di tepi jalur hijau yang dilewati wisatawan. Tanpa harus merusak hutan, masyarakat bisa mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari keberadaan kota ini.
Namun para ahli mengingatkan, potensi ini harus dikelola hati-hati. Ekowisata dan aktivitas olahraga luar ruang hanya bisa berkembang jika konservasi tetap menjadi prioritas. “Jangan sampai trek jogging berubah jadi jalan beton. Justru yang dicari pelancong adalah keasrian dan kealamiannya,” ujar Prof. Yusran Effendi, pakar perencanaan wilayah dari Universitas Mulawarman.
Kini, setiap akhir pekan, IKN mulai hidup bukan hanya oleh suara mesin dan proyek, tapi oleh tawa anak-anak yang bermain di taman, peluh pesepeda yang menyusuri jalan setapak, dan langkah-langkah pelancong yang menjelajah keheningan hutan.
Sisi lain IKN ini mungkin tidak setenar istana presiden atau apartemen ASN, tapi justru di sinilah denyut kehidupan paling alami kota masa depan Indonesia berdetak—tenang, hijau, dan penuh harapan bagi wisatawan yang ingin menyatu dengan alam. (ath)








