DEAL OLAHRAGA | Tepatnya di tepian Kepulauan Sulu, selatan Filipina, ada ruang yang tidak ramai oleh langkah wisatawan, tetapi padat oleh jejak waktu. Di sanalah kompleks pemakaman para sultan dan bangsawan Kesultanan Sulu bersemayam—sunyi, teduh, dan seolah menolak dilupakan. Bagi seorang jurnalis yang juga memegang kamera, tempat ini bukan sekadar lokasi, melainkan pengalaman yang menguji cara melihat: antara menghormati yang telah tiada dan merekam yang masih tersisa.
Batu-batu nisan berdiri sederhana, sebagian tertutup lumut, sebagian lain mulai aus dimakan cuaca. Tidak ada kemegahan berlebihan, tidak pula ornamen yang mencolok. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Setiap sudut terasa seperti potongan cerita yang belum selesai—tentang kekuasaan yang pernah menguasai laut, tentang keluarga kerajaan yang kini tinggal dalam ingatan, dan tentang waktu yang perlahan mengikis segala bentuk kejayaan.
Di Jolo, kompleks pemakaman ini berada tidak jauh dari pusat kehidupan masyarakat. Anak-anak bermain di kejauhan, suara ombak terdengar samar, dan kehidupan berjalan seperti biasa. Kontras itu menciptakan lapisan makna yang kuat: bahwa kematian tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan, melainkan menjadi bagian darinya.
Fotografi di tempat seperti ini bukan perkara teknis semata. Ia menuntut kepekaan. Kamera bukan alat untuk “mengambil gambar,” tetapi medium untuk merasakan. Cahaya pagi yang jatuh di atas nisan tua, bayangan pohon yang memanjang, dan tekstur batu yang retak—semuanya menjadi elemen visual yang berbicara lebih dari sekadar estetika. Setiap frame adalah upaya untuk menangkap keheningan, bukan memecahkannya.
Ada momen ketika lensa seakan ragu. Bukan karena kurangnya objek, tetapi karena kesadaran bahwa yang dihadapi adalah ruang sakral. Di sinilah etika menjadi penting: bagaimana memotret tanpa mengganggu, bagaimana merekam tanpa merampas makna. Seorang fotografer tidak hanya dituntut untuk peka secara visual, tetapi juga secara moral.
Namun justru dalam keterbatasan itu, lahir keindahan yang berbeda. Foto-foto yang dihasilkan tidak berteriak, tidak dramatis, tetapi perlahan meresap. Ia mengajak yang melihat untuk berhenti sejenak, untuk merasakan jeda, dan untuk mengingat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah. Kadang ia bersembunyi dalam kesederhanaan, menunggu untuk dibaca ulang.
Pemakaman raja-raja Sulu bukan hanya tentang akhir dari sebuah kehidupan, tetapi juga tentang keberlanjutan sebuah warisan. Di antara nisan-nisan itu, tersimpan identitas, nilai, dan sejarah yang masih hidup dalam masyarakat sekitar. Fotografi, dalam konteks ini, menjadi jembatan—menghubungkan masa lalu dengan masa kini, mengabadikan yang fana menjadi ingatan yang lebih panjang.
Ketika matahari mulai condong dan cahaya berubah menjadi lebih hangat, kompleks pemakaman itu tampak semakin hening. Kamera mungkin berhenti bekerja, tetapi kesan yang ditinggalkan justru semakin kuat. Ada perasaan bahwa yang dibawa pulang bukan hanya gambar, melainkan pemahaman baru: bahwa di balik setiap batu nisan, ada cerita tentang manusia, kekuasaan, dan waktu yang tak pernah benar-benar selesai.
Di Kepulauan Sulu, fotografi menemukan bentuknya yang paling jujur—bukan sekadar merekam apa yang terlihat, tetapi menyimpan apa yang terasa. Sebuah upaya sederhana untuk membuat sunyi tetap berbicara, bahkan ketika waktu terus berjalan. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G









