DEAL EKBIS | Gorengan Sri Lanka menghadirkan cerita sederhana dari sudut-sudut kota, ketika aroma rempah dan minyak panas menguar dari warung kecil, kedai pinggir jalan, pasar tradisional, hingga rumah-rumah makan yang ramai menjelang sore. Makanan yang digoreng itu menjadi bagian dari keseharian masyarakat, disantap sebagai kudapan, teman minum teh, maupun pengganjal perut di sela kesibukan.
Gorengan Sri Lanka memiliki karakter yang berbeda dari gorengan Indonesia, meskipun keduanya sama-sama dekat dengan kehidupan masyarakat. Jika gorengan Indonesia akrab dengan bakwan, tahu, tempe, pisang goreng, dan risoles, Sri Lanka mempunyai berbagai kudapan goreng yang banyak menggunakan lentil, sayuran, ikan, kentang, tepung, serta campuran rempah khas Asia Selatan.
Parippu Vadai, misalnya, menjadi salah satu kudapan yang mudah ditemukan. Bentuknya bulat pipih dengan permukaan kasar dan warna keemasan. Bahan utamanya adalah lentil yang direndam kemudian ditumbuk atau dihaluskan secara kasar. Campuran bawang, cabai, daun kari, dan rempah membuat rasanya gurih, pedas, serta memiliki aroma yang kuat.
Parippu vadai sering hadir bersama secangkir teh panas. Tekstur luarnya yang renyah bertemu dengan bagian dalam yang lebih padat dan lembut. Kesederhanaan tersebut membuatnya mudah diterima sebagai makanan ringan maupun teman berbincang.
Ulundu Vadai menawarkan karakter berbeda. Kudapan berbentuk lingkaran dengan lubang di tengah ini dibuat terutama dari kacang urad atau black gram. Bagian luarnya digoreng hingga kecokelatan, sedangkan bagian dalamnya cenderung lebih lembut. Vadai kemudian dapat disantap bersama sambal, kari, atau saus pendamping.
Ulundu vadai memperlihatkan kuatnya pengaruh tradisi kuliner India Selatan dalam kehidupan gastronomi Sri Lanka. Hubungan sejarah dan budaya antara Sri Lanka dengan kawasan India Selatan membuat sejumlah jenis makanan berkembang dan beradaptasi dengan selera lokal.
Isso Wade, atau wade udang, membawa cerita lain dari dunia gorengan Sri Lanka. Kudapan ini memadukan adonan berbahan dasar lentil dengan udang yang ditempatkan di bagian atas. Setelah digoreng, udang menjadi semakin harum sementara adonan menghasilkan permukaan yang renyah.
Isso wade sering menarik perhatian bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena tampilannya. Udang yang terlihat pada permukaan membuat kudapan sederhana tersebut tampak lebih istimewa dibandingkan gorengan lentil biasa.
Kukul Mas Cutlet menghadirkan bentuk gorengan yang lebih menyerupai bola atau kroket kecil. Kudapan ini menggunakan daging ayam yang dicampur dengan kentang, bawang, cabai, dan berbagai rempah. Adonan kemudian dibentuk, dilapisi tepung roti, lalu digoreng sampai permukaannya berwarna keemasan.
Kukul mas cutlet memperlihatkan bagaimana masyarakat Sri Lanka mengolah bahan makanan yang tersedia menjadi kudapan yang praktis. Rasanya gurih dan aromatik, sementara lapisan luarnya memberikan tekstur renyah yang menjadi ciri khas makanan goreng.
Fish cutlet juga memiliki tempat penting dalam budaya makanan ringan Sri Lanka. Ikan yang telah dimasak dicampur dengan kentang, bawang, cabai, dan rempah, kemudian dibentuk menjadi bola atau lonjong. Setelah dilapisi tepung roti, adonan digoreng hingga kecokelatan.
Fish cutlet kerap menjadi makanan rumahan sekaligus sajian dalam berbagai kesempatan. Bentuknya yang kecil membuatnya mudah disantap dan cocok disandingkan dengan teh, saus pedas, atau hidangan pendamping lainnya.
Gorengan Sri Lanka tidak dapat dilepaskan dari penggunaan rempah. Cabai, lada, jintan, ketumbar, kunyit, kayu manis, daun kari, dan berbagai bumbu aromatik memberikan karakter yang kuat. Minyak panas bukan sekadar alat memasak, tetapi menjadi medium yang menyatukan aroma rempah dengan bahan utama.
Pasar-pasar tradisional Sri Lanka menjadi tempat yang menarik untuk melihat bagaimana makanan goreng hadir dalam kehidupan sehari-hari. Di antara suara pedagang, lalu-lalang pembeli, sayuran segar, ikan, buah-buahan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga, nampan berisi gorengan sering menjadi pemandangan yang menggoda.
Colombo memiliki suasana tersendiri ketika sore mulai datang. Aktivitas jalanan tetap berlangsung, kendaraan memenuhi ruas jalan, sementara aroma makanan perlahan muncul dari kedai-kedai kecil. Gorengan yang baru diangkat dari minyak panas kemudian disusun di atas nampan, menunggu pembeli yang datang mencari kudapan murah dan mengenyangkan.
Gorengan juga memperlihatkan sisi lain dari ekonomi makanan Sri Lanka. Makanan yang menggunakan bahan relatif sederhana dapat berubah menjadi komoditas yang menghidupi keluarga. Warung kecil, kedai teh, pedagang pasar, hingga penjual makanan jalanan menjadikan kudapan goreng sebagai bagian dari aktivitas perdagangan sehari-hari.
Kebiasaan menikmati gorengan bersama teh menjadi salah satu gambaran menarik mengenai budaya kuliner Sri Lanka. Teh memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Sri Lanka, dan kudapan gurih menjadi pasangan yang alami untuk minuman hangat tersebut. Pertemuan antara teh dan gorengan menciptakan ritual sederhana yang dapat berlangsung di rumah, kantor, pasar, maupun kedai pinggir jalan.
Gorengan Sri Lanka pada akhirnya bukan hanya tentang makanan yang renyah dan gurih. Di balik setiap vadai, wade, cutlet, dan kudapan lainnya terdapat perjalanan panjang mengenai bahan pangan, rempah, pengaruh budaya, kreativitas dapur, serta kehidupan masyarakat.
Jalanan Sri Lanka menyimpan banyak cerita melalui makanan. Di tengah bangunan modern dan perkembangan kota, makanan sederhana yang digoreng tetap memiliki ruangnya sendiri. Aroma minyak panas dan rempah yang keluar dari sebuah kedai kecil dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah kota tidak selalu menghapus makanan tradisionalnya.
Gorengan Sri Lanka bertahan justru karena kesederhanaannya. Ia tidak membutuhkan meja makan mewah atau ruang restoran yang luas. Sepiring gorengan hangat, secangkir teh, dan percakapan ringan sudah cukup untuk menciptakan sebuah pengalaman kuliner yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Di balik kulitnya yang renyah, gorengan Sri Lanka menyimpan wajah lain negeri kepulauan di Samudra Hindia itu: sederhana, berani dalam rempah, kaya pengaruh budaya, dan akrab dengan kehidupan jalanan. Dari pasar hingga kedai kecil, dari pagi hingga malam, makanan-makanan tersebut terus menjadi bagian dari denyut keseharian Sri Lanka. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel









