Ketika Raja Thailand Berdiri di Tengah Ulama: Maulid Nabi Menjadi Panggung Persatuan di Negeri Mayoritas Buddha

Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dan Ratu Suthida berdiri di tengah perayaan Maulid Nabi di Bangkok bersama para ulama.

DEAL ZIQWAF | Raja Thailand Maha Vajiralongkorn bersama Ratu Suthida menghadiri pembukaan Maulid Tengah Thailand 1446 Hijriah pada 18 April 2025 di Pusat Administrasi Urusan Islam Nasional di Nong Chok, Bangkok. Kehadiran kepala negara kerajaan itu bersama Chularatchamontri, Arun Boonchum, dan para tokoh Islam Thailand menghadirkan pemandangan yang kuat secara simbolik: seorang raja dari negeri mayoritas Buddha berdiri di tengah komunitas Muslim untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Komunitas Muslim Thailand menyambut kedatangan Raja dan Ratu bukan sekadar sebagai tamu negara, tetapi sebagai bagian dari tradisi panjang hubungan antara kerajaan dan umat Islam. Acara Maulid Tengah Thailand telah menjadi salah satu perayaan penting bagi Muslim Thailand, dengan tujuan menghidupkan kembali ajaran dan keteladanan Nabi Muhammad SAW serta mendorong masyarakat menjalankan kehidupan berdasarkan nilai kasih sayang, kedamaian, dan persaudaraan.

Read More

Raja Maha Vajiralongkorn datang ke pusat kegiatan tersebut dengan kendaraan kerajaan dan membuka secara resmi peringatan Maulid. Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Phumtham Wechayachai, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Anutin Charnvirakul, serta Chularatchamontri Arun Boonchum turut menyambut kedatangan pasangan kerajaan.

Para ulama Thailand kemudian menjadi bagian penting dari rangkaian acara. Raja menerima laporan mengenai penyelenggaraan Maulid, mendengarkan penjelasan mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW dari Chularatchamontri, serta menyaksikan pembacaan Al-Qur’an dan penerjemahan maknanya ke dalam bahasa Thai.

Chularatchamontri atau pemimpin tertinggi urusan Islam Thailand memiliki posisi penting dalam peristiwa tersebut. Kehadirannya memperlihatkan bahwa Maulid bukan sekadar festival kebudayaan, tetapi juga kegiatan keagamaan yang melibatkan struktur resmi komunitas Muslim Thailand.

Kerajaan Thailand memiliki sejarah panjang dalam hubungan dengan umat Islam. Pemerintah Thailand mencatat bahwa tradisi kehadiran kerajaan dalam peringatan Maulid Tengah dimulai pada 1964 ketika Raja Bhumibol Adulyadej dan Ratu Sirikit memimpin perayaan yang diselenggarakan oleh Dewan Islam Pusat Thailand. Sejak itu, hubungan antara kerajaan dan komunitas Muslim berkembang menjadi bagian dari sejarah kehidupan keagamaan Thailand.

Raja Bhumibol pada masa pemerintahannya juga dikenal memberikan perhatian terhadap kehidupan Muslim Thailand. Salah satu jejak pentingnya adalah dukungan terhadap penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Thai sehingga masyarakat Muslim yang tidak menguasai bahasa Arab dapat memahami isi dan ajaran kitab suci tersebut dengan lebih baik.

Kerajaan bahkan menjadikan dukungan terhadap kehidupan keagamaan Muslim sebagai bagian dari gagasan mengenai raja sebagai pelindung agama-agama. Konstitusi dan tradisi Thailand menempatkan raja sebagai penganut Buddha, tetapi pada saat yang sama kerajaan memiliki tanggung jawab sebagai pelindung seluruh agama yang hidup di negeri tersebut.

Muslim Thailand memang merupakan minoritas dalam struktur demografi nasional. Karena itu, kehadiran raja dalam sebuah perayaan Islam membawa pesan sosial yang lebih luas daripada sekadar agenda seremonial. Kehadiran tersebut memperlihatkan bahwa identitas keagamaan minoritas tetap memiliki ruang dalam kehidupan nasional.

Bangkok pada hari itu memperlihatkan wajah Thailand yang jarang muncul dalam gambaran wisata. Negeri yang sering dikenal melalui kuil Buddha, istana, pasar, dan kehidupan metropolitan tersebut memiliki komunitas Muslim yang menjalankan kehidupan keagamaannya dengan tradisi yang kuat.

Nong Chok menjadi salah satu wilayah penting dalam cerita tersebut. Kawasan di bagian timur Bangkok itu menjadi lokasi Pusat Administrasi Urusan Islam Nasional yang menjadi tempat berlangsungnya Maulid Tengah Thailand 1446 Hijriah. Di tempat inilah simbol kerajaan dan kehidupan Muslim bertemu dalam sebuah acara yang penuh dengan ritual, penghormatan, dan kebersamaan.

Maulid Nabi sendiri bukan hanya perayaan kelahiran seorang tokoh sejarah. Bagi umat Islam, Nabi Muhammad SAW merupakan teladan dalam akhlak, kepemimpinan, keadilan, kasih sayang, dan kehidupan sosial. Karena itu, penyelenggara Maulid Tengah Thailand menekankan pentingnya mengambil nilai-nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat.

Raja Thailand menyaksikan rangkaian kegiatan yang juga memperlihatkan kebudayaan Islam Thailand. Pameran yang dikunjungi dalam acara tersebut antara lain menampilkan seni dan budaya Islam, kehidupan masyarakat Muslim Thailand, serta produk halal yang dikembangkan oleh para pengusaha Muslim.

Produk halal memberikan dimensi lain pada perayaan tersebut. Islam di Thailand bukan hanya persoalan ritual. Komunitas Muslim juga merupakan bagian dari kegiatan ekonomi, pendidikan, perdagangan, budaya, dan inovasi. Pameran halal dalam rangkaian Maulid memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Islam bertemu dengan perkembangan ekonomi modern.

Generasi Muslim Thailand kemudian memiliki ruang untuk melihat bahwa identitas keagamaan mereka bukan sesuatu yang harus disembunyikan dari kehidupan nasional. Maulid menjadi panggung tempat tradisi Islam tampil berdampingan dengan simbol-simbol negara.

Persatuan menjadi kata yang berulang dalam filosofi penyelenggaraan Maulid Tengah Thailand. Panitia menempatkan peringatan kelahiran Nabi sebagai sarana menumbuhkan cinta, kedamaian, dan kehidupan sosial yang harmonis.

Kehadiran kerajaan memberikan bobot simbolik terhadap gagasan tersebut. Ketika Raja hadir di tengah ulama dan masyarakat Muslim, pesan yang terlihat bukan mengenai perubahan agama kerajaan, melainkan penghormatan terhadap keberagaman yang hidup di dalam kerajaan Thailand.

Thailand memiliki sejarah panjang sebagai masyarakat multikultural. Pemerintah Thailand sendiri pernah menggambarkan hubungan kerajaan dengan komunitas Muslim sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan di tengah keberagaman.

Perbedaan agama dalam konteks itu tidak otomatis menjadi tembok pemisah. Seorang raja Buddha dapat hadir dalam perayaan Islam sebagai kepala negara dan pelindung kehidupan keagamaan masyarakatnya. Justru di situlah makna simboliknya menjadi kuat.

Ulama tidak hanya hadir sebagai pemimpin ritual. Mereka menjadi bagian dari dialog sosial yang lebih luas antara komunitas Muslim dan negara. Chularatchamontri, dewan Islam, komite masjid, organisasi Muslim, dan berbagai lembaga keagamaan bekerja bersama dalam penyelenggaraan Maulid tersebut.

Peringatan Maulid 1446 Hijriah juga menunjukkan bahwa tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kalender sosial-keagamaan Thailand. Perayaan berlangsung selama 18–20 April 2025 dan melibatkan lembaga-lembaga Islam dari tingkat pusat hingga daerah.

Sejarah membuat pemandangan itu semakin menarik. Kehadiran kerajaan dalam Maulid bukan fenomena baru yang muncul pada masa Raja Maha Vajiralongkorn. Tradisi tersebut memiliki akar sejak era Raja Bhumibol, bahkan berlanjut melalui kehadiran Putra Mahkota ketika mewakili ayahandanya dalam perayaan Maulid pada periode berikutnya.

Raja Maha Vajiralongkorn sendiri telah melanjutkan tradisi tersebut. Pada 2025, ia tidak sekadar hadir, tetapi membuka langsung Maulid Tengah Thailand dan menyaksikan berbagai kegiatan keagamaan, budaya, dan ekonomi yang menyertainya.

Masjid dan pusat Islam di Thailand dengan demikian tidak berdiri di luar cerita kebangsaan. Mereka menjadi bagian dari wajah Thailand yang lebih luas—wajah yang memperlihatkan bahwa kehidupan beragama dapat berjalan bersama kehidupan bernegara.

Maulid Nabi akhirnya menjadi sebuah jendela untuk melihat Thailand dari sudut yang berbeda. Di balik citra negeri dengan kuil-kuil Buddha dan tradisi kerajaan yang kuat, terdapat jutaan warga Muslim yang memiliki sejarah, institusi, ulama, masjid, sekolah, tradisi, serta kehidupan ekonomi sendiri.

Raja dan ulama yang berada dalam satu ruang pada peringatan tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan agama tidak selalu harus menghasilkan jarak. Dalam konteks kehidupan bernegara, penghormatan terhadap keyakinan warga dapat menjadi bahasa yang lebih kuat daripada perdebatan tentang mayoritas dan minoritas.

Cahaya Maulid di Bangkok pada akhirnya bukan hanya berasal dari lampu, dekorasi, atau kemeriahan acara. Cahaya itu muncul dari sebuah perjumpaan: kerajaan, ulama, masyarakat Muslim, dan negara bertemu dalam satu ruang untuk mengingat seorang Nabi yang bagi umat Islam membawa pesan tentang akhlak, kasih sayang, dan kedamaian.

Thailand mungkin bukan negara Muslim. Raja Thailand juga bukan seorang Muslim. Tetapi justru fakta itulah yang membuat pemandangan Raja Maha Vajiralongkorn berdiri bersama para ulama dalam peringatan Maulid Nabi memiliki makna jurnalistik yang kuat.

Kerajaan sedang menunjukkan bahwa menjadi pelindung kehidupan beragama bukan berarti harus menjadi bagian dari agama yang dilindungi. Seorang raja dapat tetap berdiri pada keyakinannya sendiri sekaligus memberikan ruang penghormatan kepada keyakinan rakyatnya.

Maulid Nabi di Thailand pada akhirnya bukan hanya cerita tentang kelahiran Rasulullah SAW. Ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah bangsa yang beragam mencari titik temu: antara kerajaan dan rakyat, antara mayoritas dan minoritas, antara tradisi dan modernitas, serta antara identitas agama dan kehidupan kebangsaan.

Raja Thailand hadir di tengah ulama bukan untuk menghapus perbedaan, melainkan untuk memperlihatkan bahwa perbedaan dapat dihormati.

Dan di situlah perayaan Maulid di Negeri Gajah Putih menemukan pesonanya yang paling dalam: ketika seorang raja Buddha membuka ruang bagi umat Islam untuk merayakan cinta kepada Nabi Muhammad SAW, yang bergema bukan hanya selawat, tetapi juga pesan bahwa kerukunan membutuhkan kehadiran, penghormatan, dan keberanian untuk berdiri bersama di tengah perbedaan. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Are you human? Please solve:Captcha