Istana Wapres IKN Sunyi, Wartawan Perempuan Tak Beranjak: Ketika Sepi Menjadi Ujian Jurnalisme

Seorang wartawan perempuan berdiri membawa tas di area lorong kawasan Istana Wakil Presiden IKN yang masih sepi aktivitas

DEAL GENDER | Wartawan perempuan duduk menunggu di sekitar kawasan Istana Wakil Presiden di Ibu Kota Nusantara ketika suasana belum banyak berubah. Gedung-gedung pemerintahan berdiri megah, jalan kawasan relatif lengang, sementara aktivitas yang biasanya menjadi sumber berita belum selalu hadir setiap hari. Di tengah kesunyian itu, kamera, telepon genggam, buku catatan, dan laptop tetap berada dalam jangkauan tangannya.

Istana Wakil Presiden IKN menghadirkan pemandangan yang berbeda dari pusat pemerintahan di Jakarta. Kawasan baru itu sedang menjalani proses transisi menuju pusat aktivitas pemerintahan. Bangunan telah berdiri, fasilitas terus dilengkapi, tetapi denyut aktivitas kenegaraan belum selalu sepadat kawasan pemerintahan yang telah puluhan tahun beroperasi.

Read More

Wartawan perempuan memahami bahwa pekerjaan jurnalistik tidak selalu berarti mengejar kerumunan, konferensi pers, atau peristiwa besar. Ada hari ketika berita datang bertubi-tubi. Ada pula hari ketika satu-satunya pekerjaan adalah menunggu. Justru dalam penantian semacam itulah konsistensi seorang jurnalis diuji.

Mata wartawan terus memperhatikan pintu masuk kawasan. Setiap kendaraan yang melintas menjadi kemungkinan. Setiap rombongan yang muncul dapat membawa agenda yang belum diketahui publik. Setiap perubahan aktivitas di sekitar kompleks pemerintahan bisa menjadi petunjuk kecil tentang sesuatu yang lebih besar.

Kesunyian tidak selalu berarti tidak ada berita. Dalam dunia jurnalistik, kesunyian justru dapat menjadi berita ketika terjadi di sebuah tempat yang dirancang sebagai pusat kekuasaan. Sebuah Istana yang belum ramai menyimpan cerita tentang proses perpindahan pusat pemerintahan, kesiapan infrastruktur, pola kerja aparatur negara, hingga hubungan antara ruang pemerintahan baru dengan masyarakat di sekitarnya.

IKN sendiri sedang memasuki fase penting dalam perjalanan pembangunannya. Pemerintah menargetkan kawasan tersebut berkembang sebagai pusat pemerintahan baru secara bertahap. Aktivasi pusat pemerintahan dilakukan melalui tahapan, termasuk perpindahan sebagian aparatur dan kesiapan fasilitas pemerintahan.

Wartawan yang berada di lokasi menjadi mata publik selama proses tersebut. Ia tidak hanya bertugas ketika Presiden atau Wakil Presiden tiba. Ia juga mencatat apa yang terjadi ketika tidak ada pejabat yang datang.

Seorang wartawan perempuan mungkin harus menghabiskan berjam-jam di ruang tunggu, pos peliputan, atau area yang diperbolehkan bagi media. Ia menghadapi panas, perjalanan panjang, keterbatasan fasilitas, dan ketidakpastian agenda. Namun tugas jurnalistik menuntutnya tetap siap ketika momentum tiba.

Profesi jurnalistik memang memiliki paradoks yang sering tidak terlihat dari layar pembaca. Pembaca hanya melihat berita yang sudah jadi. Mereka tidak melihat waktu yang dihabiskan wartawan untuk menunggu. Mereka tidak mengetahui berapa kali sebuah informasi harus diverifikasi, berapa banyak narasumber yang belum menjawab, atau berapa lama seorang reporter berada di lapangan hanya untuk mendapatkan satu fakta yang layak ditulis.

Wartawan perempuan menghadapi tantangan yang sama, dengan lapisan persoalan tambahan yang sering kali lebih personal. Mobilitas, keamanan saat bekerja, kondisi lapangan, jam kerja yang panjang, serta tuntutan profesionalisme menjadi bagian dari keseharian. Namun di depan publik, seluruh tantangan itu sering menghilang karena yang dinilai hanyalah kualitas berita.

Konsistensi menjadi modal yang tidak selalu terlihat. Seorang reporter yang terus hadir di lokasi ketika situasi sepi sedang membangun sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar jumlah berita: kepercayaan sumber dan pemahaman terhadap medan.

Istana Wapres adalah ruang yang sangat berbeda dari ruang redaksi. Informasi tidak selalu tersedia secara terbuka. Agenda dapat berubah. Akses media memiliki aturan. Karena itu, wartawan dituntut mampu bekerja secara profesional tanpa mengganggu protokol dan keamanan kawasan.

Wartawan yang baik tidak menerobos batas hanya demi mendapatkan gambar. Ia memahami bahwa kebebasan pers berjalan bersama tanggung jawab. Informasi harus diperoleh dengan cara yang sah, diverifikasi, dan disajikan dengan konteks yang cukup.

Kesabaran menjadi bagian penting dari pekerjaan itu. Menunggu bukan berarti pasif. Menunggu berarti mengamati, mencari konteks, menghubungi sumber, membaca dokumen, memeriksa perkembangan, dan siap ketika fakta muncul.

Sebuah kendaraan yang keluar dari kawasan istana mungkin tampak biasa bagi orang yang melintas. Tetapi bagi reporter yang sudah berhari-hari berada di lokasi, kendaraan tersebut dapat menjadi awal pertanyaan: siapa yang datang, siapa yang pergi, apa agendanya, dan apakah ada perubahan penting dalam aktivitas pemerintahan?

Satu peristiwa kecil kadang menjadi pintu menuju cerita besar. Itulah mengapa wartawan tidak boleh kehilangan kepekaan hanya karena hari itu tidak ada acara besar.

Wartawan perempuan yang tetap stand by di kawasan Istana Wapres IKN juga memperlihatkan wajah lain dari jurnalisme: ketekunan. Ketekunan tidak selalu menghasilkan berita besar setiap hari. Tetapi tanpa ketekunan, berita besar yang muncul tiba-tiba bisa terlewat.

Media massa membutuhkan reporter yang memahami bahwa berita bukan hanya sesuatu yang diumumkan. Berita juga sesuatu yang ditemukan. Proses menemukan itulah yang membutuhkan keberadaan fisik di lapangan.

IKN memberi tantangan tersendiri karena kawasan tersebut masih berkembang. Jalan, gedung, fasilitas publik, permukiman, dan aktivitas pemerintahan berada dalam proses penyesuaian. Kondisi tersebut membuat reporter memiliki kesempatan untuk melihat perubahan dari hari ke hari.

Seorang reporter yang datang hari ini dapat menemukan kawasan yang berbeda beberapa minggu kemudian. Papan informasi berubah, fasilitas bertambah, aktivitas aparatur meningkat, atau agenda kenegaraan mulai lebih sering berlangsung. Perubahan kecil tersebut merupakan bagian dari sejarah pembangunan pusat pemerintahan Indonesia.

Istana Wakil Presiden bukan hanya bangunan yang akan digunakan oleh seorang pejabat negara. Ia merupakan simbol dari perubahan geografis kekuasaan Indonesia. Karena itu, setiap fase perkembangannya memiliki nilai jurnalistik.

Wartawan perempuan yang duduk menunggu di tengah kesunyian sebenarnya sedang merekam fase yang mungkin tidak dianggap penting pada hari ini. Tetapi beberapa tahun kemudian, catatan tentang masa ketika kawasan itu masih sepi bisa menjadi bagian penting dari sejarah IKN.

Kesunyian IKN dengan demikian bukan kekosongan. Ia adalah halaman awal dari sebuah cerita yang sedang ditulis.

Kamera mungkin belum banyak digunakan. Laptop mungkin lebih sering menampilkan halaman kosong daripada naskah berita. Telepon mungkin lebih banyak digunakan untuk menghubungi sumber daripada menerima informasi. Tetapi semuanya tetap siap.

Wartawan perempuan tetap berada di sana karena profesi ini tidak mengenal kepastian bahwa berita akan selalu datang pada waktu yang nyaman. Ia datang ketika fakta terjadi.

Konsistensi akhirnya menjadi bentuk keberanian yang sederhana. Bukan keberanian untuk mencari sensasi, melainkan keberanian untuk tetap bekerja ketika tidak ada yang sedang melihat.

Istana Wapres IKN mungkin masih sunyi. Jalan di sekitarnya mungkin belum dipenuhi kendaraan. Aktivitas pemerintahan mungkin belum seperti Jakarta. Tetapi di satu sudut kawasan itu, seorang wartawan perempuan tetap menunggu.

Publik mungkin tidak pernah mengetahui berapa lama ia menunggu. Publik hanya akan membaca ketika berita akhirnya terbit.

Jurnalisme memang sering bekerja seperti itu: reporter hadir dalam kesunyian agar masyarakat dapat mengetahui ketika sesuatu akhirnya terjadi.

Wartawan perempuan itu tidak sekadar sedang menunggu berita. Ia sedang menjaga satu prinsip lama dalam profesi jurnalistik: hadir ketika peristiwa terjadi, bahkan ketika peristiwa itu belum tahu kapan akan terjadi. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Are you human? Please solve:Captcha