Perempuan India di Industri Teknologi: Menembus Batas ke Kursi Kepemimpinan

Sekelompok pekerja kerah putih India, yang terdiri dari pria dan wanita, sedang berkumpul santai berinteraksi menggunakan gawai dan kopi di luar kantor
Perempuan profesional India masa kini semakin banyak yang mengisi tenaga kerja sektor teknologi informasi dan terus berjuang untuk menembus batas hingga ke level kepemimpinan bisnis

DEAL GENDER | Perempuan India semakin sulit dipandang hanya sebagai pengguna teknologi. Mereka kini hadir sebagai programmer, insinyur perangkat lunak, analis data, pengembang kecerdasan buatan, peneliti, manajer proyek, pendiri perusahaan rintisan, hingga pemimpin di perusahaan teknologi yang bekerja untuk pasar global.

Perempuan India sedang memasuki salah satu arena paling strategis dalam perubahan ekonomi negaranya: teknologi informasi.

Read More

Perempuan yang beberapa dekade lalu lebih sering ditempatkan dalam gambaran tradisional tentang keluarga dan rumah tangga kini memenuhi ruang-ruang kantor perusahaan teknologi di Bengaluru, Hyderabad, Pune, Chennai, Mumbai, Delhi, dan berbagai pusat teknologi lainnya. Di depan layar komputer, mereka mengerjakan kode, menganalisis data, merancang sistem digital dan mengembangkan produk yang digunakan jutaan orang.

Pemerintah India mencatat bahwa perempuan kini mencapai 43 persen dari total mahasiswa yang menempuh bidang STEM pada pendidikan tinggi berdasarkan data AISHE 2021–22. Namun, ketika berbicara mengenai tenaga profesional STEM yang bekerja dalam penelitian dan pengembangan, proporsinya masih jauh lebih rendah, yakni 18,6 persen. Angka tersebut memperlihatkan sebuah paradoks: semakin banyak perempuan memasuki pendidikan teknologi, tetapi perjalanan menuju pekerjaan, karier panjang dan posisi kepemimpinan masih menghadapi hambatan.

Perempuan India karena itu sedang menghadapi persoalan yang lebih besar daripada sekadar mendapatkan pekerjaan pertama.

Dunia teknologi informasi bergerak dengan kecepatan yang tidak selalu memberi kesempatan kepada siapa pun untuk berhenti. Bahasa pemrograman berubah, kecerdasan buatan berkembang, perusahaan melakukan reorganisasi, keterampilan digital terus diperbarui dan persaingan global semakin ketat.

Di sinilah pendidikan menjadi pintu masuk yang sangat penting. Peningkatan jumlah perempuan dalam pendidikan STEM memberikan basis baru bagi India untuk memperbesar tenaga kerja teknologi. Pemerintah dan berbagai institusi juga mengembangkan program yang ditujukan untuk memperluas akses perempuan terhadap pendidikan, pendampingan, beasiswa, dan kesiapan karier STEM.

Perempuan muda India kini tumbuh dalam lingkungan digital yang berbeda dari generasi sebelumnya. Laptop, internet, aplikasi, platform pembelajaran daring dan perangkat kecerdasan buatan membuka kemungkinan yang sebelumnya lebih sulit dijangkau.

Perempuan yang sebelumnya menghadapi keterbatasan mobilitas dapat memperoleh pekerjaan yang sebagian aktivitasnya dilakukan secara digital. Pekerjaan berbasis teknologi memungkinkan sebagian profesional bekerja dengan tim yang berada di kota atau bahkan negara lain tanpa harus selalu berpindah tempat.

UNDP menilai teknologi digital memiliki potensi penting untuk mempersempit kesenjangan gender dalam akses terhadap pasar kerja di Asia Selatan. Dalam konteks India, peningkatan akses terhadap internet dan telepon seluler dikaitkan dengan peluang peningkatan pendapatan dan partisipasi perempuan dalam pasar kerja.

Di balik layar komputer yang menyala sepanjang hari, perempuan masih berhadapan dengan persoalan lama: tanggung jawab keluarga, perkawinan, kelahiran anak, kesempatan promosi, lingkungan kerja, serta ekspektasi sosial mengenai siapa yang harus mengurus rumah.

Sebuah penelitian mengenai tenaga kerja sains dan teknologi India yang diterbitkan pada 2025 menemukan bahwa jeda karier dan tanggung jawab sosial menjadi faktor penting dalam ketimpangan gender. Penelitian tersebut mencatat bahwa 65 persen responden perempuan mengalami dampak dari perkawinan, kelahiran anak dan norma sosial dalam perjalanan karier mereka.

Persoalan itu membuat perjalanan karier perempuan di industri teknologi tidak selalu berbentuk garis lurus.

Seorang perempuan dapat memasuki perusahaan teknologi dengan pendidikan yang sama, kemampuan teknis yang sama dan ambisi yang sama dengan rekan laki-lakinya. Namun beberapa tahun kemudian, keadaan bisa berubah ketika tuntutan keluarga mulai meningkat.

Pertanyaannya adalah apakah perusahaan mampu menciptakan lingkungan yang membuat perempuan tetap bertahan dan berkembang.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika India memasuki era kecerdasan buatan. Industri teknologi India sendiri sedang menghadapi perubahan besar akibat AI generatif. Teknologi tersebut mengubah jenis pekerjaan yang tersedia, mengurangi sebagian pekerjaan rutin sekaligus membuka kebutuhan baru terhadap kemampuan AI, pengembangan produk dan integrasi teknologi.

Perempuan yang memperoleh akses terhadap pelatihan AI, analitik data, cloud computing, keamanan siber dan bidang teknologi baru dapat memasuki lapisan pekerjaan dengan nilai tambah lebih tinggi. Tetapi perempuan yang tidak memperoleh kesempatan reskilling dan upskilling berisiko semakin tertinggal.

Karena itu, kompetisi perempuan India di dunia teknologi pada masa depan bukan hanya mengenai siapa yang memperoleh gelar teknik.

India sebenarnya memiliki modal manusia yang besar. Pemerintah mencatat partisipasi perempuan dalam pendidikan STEM terus meningkat. Pada saat yang sama, partisipasi perempuan dalam angkatan kerja nasional juga menunjukkan perubahan besar. Data PLFS menunjukkan female labour force participation rate meningkat dari 23,3 persen pada 2017–18 menjadi 40 persen pada 2025.

Tetapi jumlah perempuan yang bekerja belum otomatis berarti persoalan kesetaraan telah selesai. Tantangan berikutnya adalah kualitas pekerjaan, tingkat pendapatan, keamanan kerja, kesempatan promosi dan representasi perempuan di posisi pengambil keputusan.

Perusahaan dapat merekrut banyak perempuan pada tingkat awal, tetapi ukuran keberhasilan yang lebih menentukan adalah berapa banyak dari mereka yang mampu mencapai posisi manajerial, eksekutif, pengambil keputusan teknologi dan pendiri perusahaan.

Ketika perempuan hanya menjadi pengguna atau pekerja tingkat awal, sebagian besar keputusan mengenai desain produk, algoritma, kebijakan teknologi dan strategi bisnis masih dibuat oleh kelompok yang lebih sempit. Kehadiran perempuan pada tingkat kepemimpinan karena itu bukan sekadar persoalan representasi, tetapi juga berkaitan dengan keragaman perspektif dalam membangun teknologi.

Pertumbuhan pusat-pusat teknologi India, perkembangan perusahaan global capability centres, ekspansi kecerdasan buatan dan meningkatnya kebutuhan tenaga digital menciptakan ruang baru bagi tenaga profesional. Bahkan laporan terbaru mengenai GCC di India menunjukkan perusahaan-perusahaan tersebut semakin diposisikan sebagai pusat teknologi dan inovasi global, meskipun masih terdapat kesenjangan kesiapan AI yang harus ditutup.

Mereka membangun aplikasi, mengembangkan sistem, mengolah data, menguji kecerdasan buatan, mengelola proyek dan memimpin tim. Sebagian lainnya memilih membangun perusahaan sendiri dan memasuki ekosistem startup yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki.

Perempuan masih harus berhadapan dengan stereotip, kurangnya role model, persoalan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan serta hambatan menuju posisi senior. Penelitian tentang perempuan dalam industri perangkat lunak juga menunjukkan persoalan seperti bias gender, kurangnya pengakuan, fenomena glass ceiling, tekanan setelah menjadi ibu, dan persoalan keseimbangan kehidupan kerja masih menjadi tantangan yang berulang.

Karena itu, kisah perempuan India di bidang teknologi informasi bukan cerita sederhana tentang kemenangan.

Di satu sisi terdapat perempuan muda yang memasuki universitas teknik dan belajar bahasa pemrograman. Di sisi lain terdapat perempuan profesional yang berusaha mempertahankan karier setelah menikah dan memiliki keluarga. Di tingkat yang lebih tinggi terdapat perempuan yang berusaha menembus ruang kepemimpinan yang selama bertahun-tahun lebih banyak dihuni laki-laki.

India sedang bergerak dari gambaran perempuan sebagai tenaga kerja yang sebagian kontribusinya tidak terlihat menuju perempuan sebagai bagian nyata dari mesin ekonomi modern. Pemerintah bahkan menempatkan peningkatan partisipasi perempuan sebagai salah satu unsur penting dalam agenda transformasi ekonomi menuju India yang lebih maju.

Tangga menuju pendapatan yang lebih baik, pekerjaan yang lebih berkualitas, kemandirian ekonomi, kepemimpinan dan kesempatan menentukan arah masa depan.

Perempuan India sudah membuktikan bahwa mereka mampu memasuki dunia teknologi.

Tantangan berikutnya jauh lebih besar: memastikan mereka tidak dipaksa keluar ketika karier mulai menanjak.

Sebab masa depan teknologi India tidak hanya akan ditentukan oleh seberapa cepat negara itu menciptakan kecerdasan buatan, pusat data, perusahaan rintisan atau perangkat lunak baru.

Masa depan itu juga akan ditentukan oleh siapa yang diberi kesempatan untuk menciptakannya.

Dan semakin banyak perempuan India yang kini duduk di depan layar, mengetik kode, membaca data dan membuat keputusan. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Are you human? Please solve:Captcha