DEAL GENDER | Halimah al-Sa’diyah datang dari kehidupan yang jauh dari kemewahan Makkah. Perempuan dari Bani Sa’ad itu hidup di tengah lingkungan pedalaman Arab yang keras, tempat kekeringan, keterbatasan pangan, dan beratnya perjalanan menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Namun, dari tanah yang tampak tandus itulah namanya kemudian terukir dalam sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Halimah bukan perempuan istana, bukan pula tokoh yang sejak awal dikenal oleh masyarakat luas. Ia adalah seorang ibu dari lingkungan sederhana yang datang ke Makkah bersama perempuan-perempuan Bani Sa’ad untuk mencari bayi yang dapat mereka susui. Tradisi pengasuhan seperti itu telah dikenal dalam masyarakat Arab ketika itu, terutama di kalangan keluarga perkotaan yang mengirim anak-anak mereka kepada perempuan pedalaman.
Makkah pada masa itu menjadi tempat berkumpulnya para perempuan penyusu yang berharap mendapatkan bayi untuk diasuh. Bagi mereka, mengasuh bayi bukan hanya persoalan kasih sayang, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan ekonomi keluarga. Semakin baik kondisi keluarga bayi, semakin besar pula harapan mendapatkan imbalan atas jasa pengasuhan.
Muhammad kecil hadir dalam keadaan yang membuat sebagian perempuan penyusu tidak segera memilihnya. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib, telah wafat sebelum kelahirannya sehingga Muhammad berada dalam keadaan yatim. Kondisi tersebut membuat para perempuan penyusu mempertimbangkan kembali karena mereka berharap memperoleh imbalan dari pihak ayah.
Halimah pada akhirnya menerima Muhammad. Keputusan itu menjadi salah satu keputusan paling bersejarah dalam hidupnya, meskipun pada saat itu ia tentu belum mengetahui bahwa bayi yang berada dalam pelukannya kelak menjadi Rasulullah SAW dan membawa risalah Islam kepada umat manusia.
Perjalanan menuju Bani Sa’ad membawa Muhammad kecil keluar dari lingkungan Makkah menuju kehidupan pedalaman. Di sana, ia diasuh dalam suasana yang berbeda dari kehidupan kota. Alam yang keras, kehidupan sederhana, serta tradisi masyarakat Arab pedalaman menjadi bagian dari lingkungan masa kanak-kanaknya.
Keluarga Halimah menjadi tempat Muhammad menjalani masa pengasuhan tersebut. Suaminya, Harits bin Abdul Uzza, dan anak-anak mereka berada dalam lingkungan keluarga yang sama. Dalam tradisi sirah, anak-anak Halimah dikenal sebagai saudara sepersusuan Rasulullah, di antaranya Abdullah, Anisah, dan asy-Syima’.
Kehidupan keluarga Halimah menurut riwayat sirah sebelumnya berada dalam keadaan serba terbatas. Kondisi lingkungan pedalaman yang mengalami kekeringan membuat kehidupan mereka tidak mudah. Hewan ternak menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi keluarga, sementara ketersediaan makanan dan susu sangat bergantung pada kondisi alam.
Kisah keberkahan kemudian menjadi bagian terkenal dari riwayat Halimah. Sejumlah riwayat sirah menggambarkan adanya perubahan keadaan setelah Muhammad berada dalam pengasuhannya. Ternak yang sebelumnya sedikit menghasilkan susu disebut mengalami perubahan sehingga keluarga Halimah dapat memperoleh lebih banyak susu. Riwayat-riwayat tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam tradisi kisah kehidupan Rasulullah.
Riwayat tentang Halimah perlu dibaca dalam konteks literatur sirah dan hadis yang memiliki tingkat kekuatan berbeda-beda. Kisah pengasuhan Muhammad oleh Halimah dikenal luas dalam tradisi Islam, sementara beberapa rincian mengenai peristiwa-peristiwa yang menyertainya memiliki perbedaan dalam sumber-sumber sejarah. Pembedaan semacam itu penting agar penghormatan terhadap sejarah berjalan bersama ketelitian dalam membaca sumber.
Tanah pedalaman memberikan Muhammad sebuah lingkungan masa kanak-kanak yang berbeda. Kehidupan di sana membuat seorang anak dekat dengan alam, keluarga, hewan ternak, serta masyarakat yang kehidupannya tidak bergantung pada kemewahan kota.
Bahasa Arab juga memiliki tempat penting dalam tradisi pengasuhan masyarakat Arab. Keluarga-keluarga Makkah mengenal kebiasaan menitipkan anak kepada perempuan pedalaman karena lingkungan tersebut dianggap mendukung pertumbuhan anak dan penggunaan bahasa Arab yang fasih.
Halimah kemudian tidak sekadar dikenang sebagai perempuan yang memberikan susu kepada Muhammad. Dalam perjalanan sejarah Islam, ia dikenang sebagai ibu susuan yang memiliki hubungan khusus dengan Rasulullah. Hubungan tersebut memberikan tempat tersendiri bagi Halimah dalam kisah masa kecil Nabi.
Masa pengasuhan Muhammad bersama Halimah berlangsung pada tahun-tahun pertama kehidupannya. Terdapat variasi riwayat mengenai durasi persis Muhammad tinggal bersama keluarga Halimah. Karena itu, angka usia atau lamanya masa pengasuhan sebaiknya tidak disampaikan secara mutlak tanpa menjelaskan adanya perbedaan riwayat.
Muhammad kecil akhirnya kembali kepada ibunya, Aminah. Masa kebersamaan dengan Halimah menjadi salah satu bagian awal dari perjalanan hidupnya sebelum menghadapi rangkaian kehilangan besar pada masa kanak-kanak.
Aminah kemudian wafat ketika Muhammad berusia sekitar enam tahun. Setelah kehilangan ibunya, Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dan kemudian oleh pamannya, Abu Thalib. Rangkaian peristiwa tersebut membuat masa kanak-kanak Rasulullah dipenuhi pengalaman kehilangan, perpindahan pengasuhan, dan kehidupan sederhana.
Halimah al-Sa’diyah tetap menjadi bagian penting dari perjalanan itu. Ia hadir pada fase ketika Muhammad belum dikenal dunia sebagai pembawa risalah. Ia mengenal Muhammad sebagai seorang anak kecil yang berada dalam pengasuhannya, bukan sebagai figur besar yang kelak disebut dalam khutbah, doa, dan sejarah umat manusia.
Kisah Halimah juga memperlihatkan sisi manusiawi dari sejarah Rasulullah. Sebelum kenabian, Muhammad mengalami masa kanak-kanak sebagaimana manusia lainnya. Ia membutuhkan kasih sayang, pengasuhan, makanan, perlindungan, dan lingkungan keluarga.
Bani Sa’ad menjadi latar kehidupan bagi fase tersebut. Lingkungan yang jauh dari pusat perdagangan Makkah justru menjadi ruang tempat Muhammad menjalani bagian penting masa kecilnya. Tanah yang keras dan kehidupan yang sederhana menjadi latar yang tidak dapat dipisahkan dari kisah Halimah.
Sosok Halimah akhirnya menghadirkan sebuah ironi sejarah yang menarik. Perempuan yang hidup dalam keterbatasan justru memiliki hubungan dengan seorang manusia yang kelak mengubah arah peradaban. Ia tidak membawa pasukan, tidak memimpin kerajaan, dan tidak memiliki kekuasaan politik. Ia hanya menjalankan perannya sebagai seorang ibu susuan.
Sejarah sering kali bekerja melalui keputusan-keputusan kecil. Halimah menerima seorang bayi ketika pilihan lain mungkin terasa lebih menguntungkan secara ekonomi. Namun keputusan tersebut kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup Muhammad SAW yang dikenang oleh umat Islam selama berabad-abad.
Tanah tandus yang menjadi latar kehidupan Halimah bukan sekadar gambaran geografis. Tanah itu menjadi simbol kehidupan masyarakat yang bertahan melalui kesederhanaan dan ketabahan. Di tengah kondisi tersebut, seorang perempuan bernama Halimah menjalankan tugas pengasuhan dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.
Nama Halimah al-Sa’diyah kemudian melampaui batas sebuah keluarga dan sebuah kabilah. Namanya masuk ke dalam literatur sirah sebagai salah satu figur yang berada di dekat Rasulullah pada masa paling awal kehidupannya.
Kisah Halimah pada akhirnya bukan hanya kisah tentang seorang ibu susuan. Kisah tersebut merupakan bagian dari perjalanan masa kecil Nabi Muhammad SAW—perjalanan yang dimulai dari Makkah, berlanjut di lingkungan Bani Sa’ad, lalu kembali ke Makkah sebelum Muhammad tumbuh menjadi sosok yang membawa risalah Islam.
Halimah al-Sa’diyah mungkin menjalani hidup tanpa pernah membayangkan besarnya tempat yang akan diberikan sejarah kepadanya. Namun, dari tanah pedalaman yang keras, dari sebuah keluarga sederhana, dan dari sebuah keputusan untuk menerima seorang bayi yatim, lahirlah salah satu kisah paling menggetarkan dalam perjalanan masa kecil Rasulullah.
Tanah tandus Bani Sa’ad dengan demikian tidak benar-benar sunyi. Dalam ingatan sejarah Islam, tanah itu seolah menyimpan gema langkah seorang anak kecil yang kelak menjadi Rasulullah SAW—dan nama perempuan yang pernah menggendongnya, Halimah al-Sa’diyah, tetap hidup bersama kisah tersebut. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel









