DEAL ZIQWAF | Suara doa lirih terdengar dari beberapa kursi penumpang ketika pesawat perlahan meninggalkan landasan. Sebagian jamaah menatap jendela dengan mata berkaca-kaca, sebagian lainnya menggenggam tasbih erat di tangan. Tidak sedikit yang untuk pertama kalinya naik pesawat dan langsung menempuh perjalanan panjang menuju Tanah Suci. Di ketinggian ribuan kaki, di atas awan yang membentang melewati India hingga mendekati Saudi Arabia, perjalanan haji bukan lagi sekadar perpindahan jarak, melainkan perjalanan batin yang penuh makna.
Bagi banyak jamaah asal Indonesia, penerbangan menuju Makkah dan Madinah adalah awal dari mimpi panjang yang kadang telah ditunggu belasan bahkan puluhan tahun. Ada yang menabung sejak muda, ada yang menjual hasil panen sedikit demi sedikit, ada pula yang menanti antrean keberangkatan hingga rambut mereka memutih. Karena itu, ketika roda pesawat mulai terangkat dari bumi, perasaan yang muncul bukan hanya bahagia, tetapi juga haru yang sulit dijelaskan.
Di dalam kabin, suasana terasa berbeda dari penerbangan biasa. Wajah-wajah yang duduk berjejer membawa cerita masing-masing. Seorang ibu lanjut usia tampak terus memandangi paspor hijau dan tiket di tangannya, seolah memastikan bahwa perjalanan ini benar-benar nyata. Di sampingnya, seorang ayah berulang kali membuka buku doa kecil yang sudah lusuh karena sering dibaca jauh sebelum keberangkatan.
Ketika pesawat melintasi langit India, pemandangan di luar jendela menghadirkan ketenangan tersendiri. Hamparan awan putih seperti lautan tanpa batas terlihat memanjang di bawah sayap pesawat. Matahari pagi memantulkan cahaya keemasan yang membuat langit terasa begitu dekat. Bagi sebagian jamaah, momen itu menjadi saat paling hening untuk merenung—tentang perjalanan hidup, tentang dosa-dosa masa lalu, dan tentang harapan pulang sebagai pribadi yang lebih baik.
Awak kabin pun memahami bahwa penerbangan ini bukan penerbangan biasa. Mereka melayani bukan hanya penumpang, tetapi orang-orang yang sedang menapaki perjalanan spiritual terbesar dalam hidupnya. Setiap pengumuman terasa lebih lembut, setiap bantuan diberikan dengan kesabaran lebih. Ketika waktu salat tiba, sebagian jamaah tetap berusaha beribadah di kursinya dengan khusyuk, menyesuaikan arah dan keterbatasan ruang.
Memasuki wilayah udara Saudi Arabia, suasana emosional biasanya semakin terasa. Pengumuman dari pilot tentang perkiraan waktu tiba sering kali disambut dengan takbir pelan dan air mata yang tidak lagi bisa ditahan. Tanah yang selama ini hanya dikenal lewat cerita ustaz, buku agama, atau siaran televisi kini benar-benar ada di bawah sana.
Dari jendela pesawat, warna gurun mulai terlihat berbeda dari hijaunya tanah air. Bentang cokelat keemasan membentang luas, sederhana namun terasa agung. Bagi jamaah, itu bukan sekadar lanskap asing, melainkan tanah yang menjadi pusat kerinduan umat Islam dari seluruh dunia.
Penerbangan di atas India dan Saudi Arabia menjadi ruang sunyi yang justru penuh suara hati. Tidak ada hiruk-pikuk pasar, tidak ada rutinitas pekerjaan, hanya waktu panjang untuk berbicara dengan diri sendiri dan dengan Tuhan. Banyak jamaah memanfaatkan perjalanan itu untuk memperbanyak istigfar, membaca Al-Qur’an, atau sekadar diam sambil menatap langit.
Di kursi belakang, seorang bapak terlihat tersenyum kecil sambil berkata bahwa ia tidak pernah membayangkan bisa sampai sejauh ini. Dulu, ia hanya petani kecil di kampung yang setiap musim panen menyisihkan sedikit hasil untuk tabungan haji. Kini, ia sedang melintas di atas awan menuju kota suci yang selama ini hanya hadir dalam doa-doanya.
Penerbangan haji mengajarkan bahwa perjalanan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan sabar. Di atas awan, setiap jamaah membawa kisah perjuangannya sendiri. Ada air mata orang tua, doa anak-anak yang ditinggalkan, dan harapan agar perjalanan ini menjadi ibadah yang diterima.
Ketika roda pesawat akhirnya menyentuh landasan di Saudi Arabia, sebagian jamaah spontan mengucap syukur dengan suara bergetar. Perjalanan udara memang telah selesai, tetapi perjalanan spiritual sesungguhnya baru akan dimulai.
Di atas langit India dan Saudi Arabia, mereka tidak hanya menikmati penerbangan. Mereka sedang menempuh perjalanan pulang—bukan ke rumah, melainkan menuju hati yang ingin kembali lebih bersih. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G









