DEAL PROFIL | Madinah — Di pelataran Masjid Nabawi, ketika jutaan langkah jamaah silih berganti siang dan malam, ada barisan manusia yang nyaris luput dari sorotan. Mereka tidak berdiri di saf shalat terdepan, tidak pula menyampaikan khutbah atau memimpin doa. Namun tanpanya, denyut ibadah di kota ini akan pincang. Mereka adalah para petugas kebersihan Masjid Nabawi—penjaga sunyi kesucian ruang, yang datang dari beragam suku dan bangsa.
Wajah-wajah itu memperlihatkan keragaman dunia Islam. Banyak di antara mereka berasal dari India, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina. Logat bahasa berbeda, warna kulit beragam, tetapi seragam kerja yang dikenakan menyatukan mereka dalam satu peran: merawat kebersihan masjid yang menjadi jantung spiritual umat Islam.
Sejak fajar menyingsing hingga larut malam, mereka bergerak tanpa henti. Dengan sapu panjang, kain pel, dan mesin pembersih, mereka menyusuri pelataran marmer yang dingin, membersihkan jejak langkah ribuan jamaah. Gerak mereka teratur, nyaris ritmis—seolah mengikuti irama ibadah yang tak pernah berhenti. Saat jamaah masuk untuk shalat, mereka menepi dengan senyum tipis; ketika jamaah keluar, mereka kembali bekerja dalam diam.
Sebagian besar dari mereka datang ke Madinah dengan kisah hidup yang sederhana. Ada yang meninggalkan keluarga di kampung halaman, ada pula yang mengirim sebagian besar penghasilannya untuk pendidikan anak-anak mereka. Di balik pekerjaan yang tampak teknis, tersimpan pengorbanan panjang dan kerinduan yang jarang terucap. Namun di wajah-wajah itu, kelelahan sering kali kalah oleh rasa bangga: bekerja di Masjid Nabawi dianggap sebagai kehormatan, bukan sekadar mata pencaharian.
Dalam pandangan mereka, membersihkan pelataran masjid bukan pekerjaan biasa. Setiap noda yang dihapus, setiap lantai yang dikeringkan, diniatkan sebagai ibadah. Beberapa di antara mereka mengaku merasa dekat secara spiritual dengan tempat ini—bahwa menyapu lantai Masjid Nabawi adalah cara mereka bershalawat dengan tangan, bukan dengan suara.
Keberagaman latar belakang para petugas kebersihan ini juga mencerminkan wajah Islam yang universal. Di pelataran Masjid Nabawi, batas negara seolah menghilang. Seorang pekerja dari Bangladesh bisa berdampingan dengan rekannya dari Filipina, saling berbagi tugas dan senyum, meski bahasa ibu mereka berbeda. Yang menyatukan bukan asal-usul, melainkan amanah.
Menjelang malam, ketika lampu-lampu masjid memantul di marmer putih dan jamaah mulai berkurang, para petugas itu masih terlihat bekerja. Langkah mereka tetap tenang, konsisten, seolah menyatu dengan kesunyian Madinah. Mereka tahu, kebersihan yang terjaga adalah bagian dari kekhusyukan ibadah jutaan orang.
Di Masjid Nabawi, kesucian tidak hanya dijaga oleh doa dan zikir, tetapi juga oleh tangan-tangan pekerja yang setia. Para petugas kebersihan itu mungkin tak dikenal namanya, tetapi jejak pengabdiannya tertanam di setiap jengkal pelataran masjid. Dari India, Bangladesh, Pakistan, hingga Filipina, mereka hadir sebagai potret nyata bahwa pelayanan kepada rumah Tuhan melampaui batas bangsa—sebuah ibadah universal yang dilakukan dalam diam, namun bernilai besar di hadapan-Nya. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








