DEAL EKBIS | Shiraz, Iran — Di kaki gunung batu yang tandus, sekitar 12 kilometer sebelah utara situs bersejarah Persepolis, berdiri barisan tebing tinggi dengan ukiran monumental di permukaannya. Relief wajah raja, prasasti kuno, dan makam megah yang dipahat langsung dari batu menjadi saksi bisu kejayaan Kekaisaran Achaemenid ribuan tahun silam. Inilah Necropolis — atau yang dikenal warga Iran dengan nama Naqsh-e Rustam, kota makam raja-raja Persia kuno.
Namun di balik keheningan situs pemakaman kuno ini, kini mengalir denyut kehidupan baru. Warga sekitar mulai melihat peluang ekonomi dan bisnis wisata yang menjanjikan. Necropolis bukan lagi sekadar situs arkeologi, tetapi juga ladang ekonomi budaya yang mempertemukan sejarah, kreativitas, dan ketekunan masyarakat lokal.
Contents
Warisan Batu yang Bernilai Abadi
Necropolis dibangun sekitar abad ke-4 SM, menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi empat raja besar Kekaisaran Achaemenid: Darius I, Xerxes I, Artaxerxes I, dan Darius II. Makam-makam megah itu dipahat langsung ke dinding tebing dengan bentuk salib besar, dihiasi relief yang menggambarkan kejayaan dan spiritualitas kerajaan Persia.
Tak jauh dari makam Achaemenid, terdapat pula ukiran dari era Sassanid (224–651 M) — masa kejayaan terakhir sebelum datangnya Islam ke Persia. Relief besar menampilkan adegan penobatan raja, kemenangan perang, dan simbol kekuatan dewa-dewa kuno.
Kini, bagi arkeolog, Necropolis adalah museum terbuka yang memperlihatkan kesinambungan kekuasaan dan seni selama lebih dari seribu tahun. Namun bagi warga sekitar, situs itu juga adalah sumber kehidupan ekonomi baru.
Ekowisata dan Usaha Lokal: Napas Baru dari Situs Kuno
Sejak Iran membuka kembali sektor pariwisatanya pasca pandemi dan meredanya sanksi ekonomi tertentu, Necropolis kembali ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Pemerintah Provinsi Fars mencatat peningkatan kunjungan hingga 40 persen sepanjang 2024–2025.
Melihat peluang ini, warga di sekitar desa Istakhr dan Naqsh-e Rustam mulai berinovasi. Mereka membuka warung teh tradisional, toko suvenir, serta penginapan kecil bergaya rumah Persia yang menawarkan pengalaman autentik.
“Kami dulu hanya menggembala domba dan menjual hasil kebun kurma. Sekarang, setiap akhir pekan, banyak wisatawan datang. Saya menjual lukisan tangan bergambar raja Darius dan suvenir batu lokal,” ujar Fariba Rahmati, pengrajin asal desa Istakhr yang kini memiliki kios kecil di dekat area parkir Necropolis.
Selain itu, pemandu wisata lokal juga tumbuh pesat. Banyak di antara mereka adalah mahasiswa arkeologi dari Shiraz yang bekerja paruh waktu sebagai pencerita sejarah. Mereka membimbing turis dengan gaya tutur yang hangat, menjelaskan kisah raja-raja Persia, hingga simbol-simbol mitologis yang terpahat di batu.
“Kami tidak hanya menjual tiket masuk, tapi pengalaman — rasa takjub yang membuat wisatawan ingin kembali,” kata Mohammad Hosseini, pemandu wisata muda yang bekerja di kawasan Naqsh-e Rustam sejak 2023.
Potensi Bisnis Budaya dan Ekonomi Kreatif
Pemerintah Iran, melalui Kementerian Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan (MCTH), kini menempatkan Necropolis sebagai bagian penting dalam jalur emas wisata sejarah Fars — rute yang menghubungkan Shiraz, Persepolis, dan Necropolis.
Langkah ini membuka peluang bisnis lebih luas bagi masyarakat:
- Kerajinan tangan khas Persia seperti ukiran batu, miniatur relief, dan tenun Shiraz kini banyak dijual di sekitar lokasi.
- Kafe tematik dan galeri budaya bermunculan, menawarkan suasana yang menggabungkan seni kontemporer dengan lanskap sejarah.
- Paket wisata terpadu yang mencakup tur sejarah, kuliner lokal, dan workshop budaya mulai dipromosikan oleh agen perjalanan lokal.
Menurut data Dinas Pariwisata Shiraz, potensi pendapatan dari sektor pariwisata warisan di wilayah ini diperkirakan mencapai USD 15 juta per tahun, dengan ribuan lapangan kerja baru di bidang kuliner, transportasi, dan kerajinan.
“Necropolis adalah aset ekonomi yang tak ternilai. Setiap batu di sini bisa menjadi sumber inspirasi bisnis — asalkan dikelola dengan menghormati nilai sejarah,” ujar Dr. Leila Bahrami, pakar ekonomi budaya dari Universitas Tehran.
Tantangan: Antara Pelestarian dan Komersialisasi
Namun di tengah geliat bisnis ini, muncul tantangan besar: bagaimana menjaga keseimbangan antara pelestarian warisan sejarah dan dorongan ekonomi lokal.
Beberapa pengamat warisan budaya mengingatkan bahwa aktivitas wisata berlebihan dapat mengancam struktur batu kuno yang rentan erosi. Sementara itu, pertumbuhan usaha kecil tanpa regulasi yang ketat bisa menimbulkan persoalan tata ruang dan sampah wisata.
Pemerintah setempat kini memberlakukan zona perlindungan warisan di sekitar situs, dengan batasan pembangunan serta pelatihan bagi pelaku usaha lokal untuk menerapkan prinsip ekowisata berkelanjutan.
“Kami ingin menjaga Necropolis tetap suci dan alami. Tapi kami juga ingin rakyat di sini sejahtera. Keduanya harus berjalan seiring,” jelas Ehsan Rezaei, pejabat pariwisata Provinsi Fars.
Makna Sosial: Dari Batu Mati ke Kehidupan yang Baru
Bagi warga Iran, kebangkitan Necropolis sebagai destinasi budaya memiliki makna sosial yang mendalam. Ia bukan sekadar peluang ekonomi, melainkan rekonsiliasi antara masa lalu dan masa depan — bagaimana warisan kuno bisa menjadi sumber inspirasi bagi generasi modern.
Di sekitar situs, anak-anak sekolah sering datang untuk belajar sejarah. Para guru mengajarkan tentang kebesaran raja Darius dan makna inskripsi kuno yang berbicara tentang keadilan dan persatuan. Banyak di antara mereka bermimpi suatu hari menjadi arkeolog, seniman, atau pemandu profesional.
Sementara para pengrajin, pemandu, dan pemilik usaha kecil menemukan identitas baru: mereka bukan sekadar penjaga situs, tetapi penjaga sejarah bangsa yang hidup dari warisan yang mereka lestarikan.
“Necropolis bukan hanya tempat kematian para raja. Ia adalah tempat di mana rakyat menemukan kehidupan baru,” ujar Fariba sambil tersenyum.
Necropolis kini menjadi contoh nyata bagaimana warisan sejarah dapat menjadi sumber ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Melalui tangan warga lokal, situs pemakaman raja-raja Persia bertransformasi menjadi pusat kegiatan budaya dan ekonomi yang dinamis.
Di antara tebing batu yang sunyi, terdengar gema kehidupan baru — suara pedagang, pemandu, dan anak-anak yang tertawa di bawah bayangan makam kuno. Di sinilah masa lalu dan masa kini berpadu: keheningan sejarah melahirkan peluang ekonomi yang hidup, dan batu-batu mati kembali bernapas dalam denyut bisnis rakyat Iran. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








