DEAL JAKARTA | dikenal sebagai wilayah rawan banjir akibat kombinasi faktor cuaca ekstrem, aliran air dari hulu, dan buruknya sistem drainase perkotaan. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan pada awal tahun 2025 diprediksi lebih tinggi dari rata-rata tahunan akibat fenomena La Niña. Dengan kondisi ini, potensi banjir semakin besar, terutama di wilayah dataran rendah.
Sebagai tindakan preventif, pemerintah mengaktifkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang bertujuan untuk mengalihkan hujan sebelum mencapai wilayah Jakarta. “Modifikasi cuaca ini dilakukan dengan tujuan menurunkan curah hujan di kawasan Jakarta dengan cara menginduksi hujan lebih awal di perairan sekitar,” jelas Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto.
Â
Contents
Cara Kerja Modifikasi Cuaca dengan Penyemaian NaCl
Metode yang digunakan dalam modifikasi cuaca ini adalah penyemaian awan atau cloud seeding. Proses ini melibatkan pesawat yang membawa dan menaburkan garam (NaCl) ke dalam awan potensial di langit sekitar Jakarta, terutama di wilayah Ujung Kulon dan Selat Sunda.
Menurut Dr. Tri Handoko Seto, Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), NaCl mempercepat kondensasi di dalam awan, sehingga hujan terjadi lebih cepat dan turun di laut sebelum mencapai daratan Jakarta. “Ketika butiran air dalam awan membesar akibat NaCl, mereka akan turun sebagai hujan lebih awal, sebelum awan tersebut bergerak menuju Jakarta,” ungkapnya.
Â
Dampak Modifikasi Cuaca: Keuntungan dan Kerugian
Modifikasi cuaca menawarkan beberapa keuntungan sekaligus menimbulkan tantangan yang perlu diperhatikan.
Keuntungan:
- Mengurangi Risiko Banjir: Dengan hujan turun lebih awal di luar wilayah Jakarta, volume air yang masuk ke ibu kota dapat dikendalikan.
- Meningkatkan Ketersediaan Air di Daerah Lain: TMC dapat membantu mengisi kembali cadangan air tanah di wilayah tertentu yang membutuhkan hujan.
- Mengurangi Dampak Ekonomi Akibat Banjir: Dengan menekan potensi banjir, kerugian akibat kerusakan infrastruktur dan aktivitas bisnis yang terganggu dapat dikurangi.
Kerugian dan Risiko:
- Efek Lingkungan yang Belum Sepenuhnya Dipahami: Studi dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan bahwa penyemaian garam secara terus-menerus dapat mengubah pola cuaca alami dalam jangka panjang.
- Dampak pada Wilayah Lain: Mengalihkan hujan dari satu tempat ke tempat lain bisa menyebabkan kekeringan atau curah hujan yang berlebihan di lokasi yang tidak diprediksi.
- Biaya yang Tinggi: Operasi TMC membutuhkan biaya besar, mulai dari penggunaan pesawat hingga bahan penyemaian, yang bisa menjadi beban anggaran negara jika dilakukan secara rutin.
Â
Pendapat Ahli dan Kritik terhadap Modifikasi Cuaca
Meski modifikasi cuaca dianggap sebagai solusi jangka pendek, beberapa ilmuwan tetap mengingatkan bahwa tindakan ini bukanlah solusi permanen. “Kita harus tetap fokus pada perbaikan sistem drainase dan tata kelola air di Jakarta, karena modifikasi cuaca hanya menunda masalah, bukan mengatasinya secara fundamental,” ujar Prof. Haryanto, pakar hidrometeorologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Di sisi lain, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, menilai langkah ini sebagai strategi mitigasi yang efektif. “Dampak banjir terhadap sektor bisnis sangat besar. Jika modifikasi cuaca bisa mengurangi risiko tersebut, tentu ini patut didukung,” katanya.
Â
Strategi Pemerintah
Modifikasi cuaca melalui penyemaian garam merupakan salah satu strategi pemerintah dalam mengatasi ancaman banjir di Jakarta. Meski memberikan dampak positif, langkah ini tetap memiliki risiko jangka panjang yang perlu dievaluasi secara berkala. Oleh karena itu, modifikasi cuaca sebaiknya dikombinasikan dengan perbaikan infrastruktur drainase dan upaya mitigasi banjir lainnya untuk menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan. (wam)








