DEAL TECHNO| JAKARTA — Lanskap kehidupan keluarga modern tengah menghadapi pergeseran budaya yang masif seiring dengan penetrasi internet yang kian tidak terbendung. Data terbaru menunjukkan bahwa Generasi Z (Gen Z) saat ini mendominasi struktur pengguna internet di tanah air. Kendati demikian, fenomena dominasi ini tidak diimbangi dengan kesiapan emosional dan teknis yang merata di ruang domestik. Berbagai pengamat sosial dan praktisi teknologi menyoroti bahwa tingkat literasi digital orang tua dinilai masih tertinggal jauh di belakang anak-anak mereka. Kesenjangan kompetensi siber antar-generasi ini memicu urgensi implementasi pola asuh baru yang dikenal sebagai smart digital parenting.
Untuk mengantisipasi meluasnya dampak negatif dari ketertinggalan literasi ini, raksasa teknologi Meta secara agresif menggandeng berbagai pemangku kepentingan guna mengampanyekan pentingnya pemahaman pengasuhan digital. Langkah ini diambil demi memutus kebiasaan lama orang tua yang kerap memperlakukan gawai sekadar sebagai instrumen “penenang” instan bagi anak.
Kesenjangan Literasi: Anak Melompat, Orang Tua Tertinggal
Dominasi Gen Z di dunia maya menuntut respons pengawasan yang adaptif dari lingkungan keluarga. Faktanya, mayoritas anak muda masa kini menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk belajar, bersosialisasi, dan mengeksplorasi identitas diri lewat platform digital. Namun, karena tingkat literasi digital orang tua dinilai masih tertinggal, fungsi kontrol dan proteksi di dalam rumah sering kali lumpuh atau tidak berjalan optimal.
Banyak orang tua yang gagap menghadapi kompleksitas fitur media sosial, algoritma konten, hingga potensi bahaya siber seperti cyberbullying dan komersialisasi data anak. Ketidakpahaman ini membuat batasan-batasan yang diterapkan di rumah sering kali tidak realistis atau sekadar berbentuk larangan kaku yang justru memicu resistensi dari sang anak.
Mengubah Paradigma: Alat Bantu, Bukan ‘Teman Diam’
Pakar pengasuhan anak menegaskan bahwa di era modern seperti sekarang, para orang tua tidak bisa lagi hanya menggunakan pendekatan konvensional seperti sekadar memerintahkan anak untuk “mengurangi gadget“. Pendekatan tersebut dinilai sudah tidak lagi relevan karena teknologi telah menyatu secara struktural dengan sistem pendidikan dan interaksi sosial anak.
Kunci utama dari smart digital parenting yang efektif terletak pada perubahan paradigma berpikir orang tua dalam memandang gawai. Teknologi harus diposisikan secara ketat sebagai assistive tool atau alat bantu yang mendukung kecerdasan serta tumbuh kembang anak, dan bukan sebagai “teman diam” yang digunakan orang tua agar anak tenang dan tidak mengganggu aktivitas orang dewasa. Ketika gawai dialihfungsikan menjadi pengasuh pengganti, di situlah risiko kecanduan dan paparan konten berbahaya dimulai.
Kolaborasi Global demi Ruang Siber yang Sehat
Menyadari besarnya tantangan di tingkat akar rumput, Meta turut menginisiasi program edukasi terintegrasi untuk memberikan pembekalan teknis kepada para kepala keluarga. Melalui rangkaian program Smart Digital Parenting, orang tua diajarkan cara memanfaatkan fitur-fitur proteksi privasi, melakukan manajemen waktu layar (screen time), hingga mengaktifkan fitur perlindungan khusus pada akun remaja.
“Inisiatif seperti ini sangat penting karena literasi digital saat ini bukan lagi sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan bagaimana kita bersama dapat membangun ruang digital yang aman dan sehat khususnya bagi anak-anak kita,” ujar Alex, perwakilan dari gerakan inisiatif literasi digital tersebut.
Pada akhirnya, keamanan digital anak tidak dapat bersandar penuh pada regulasi pemerintah atau sistem filtrasi penyedia platform semata. Benteng pertahanan utama tetap berada di meja makan dan ruang keluarga, di mana komunikasi dua arah yang terbuka antara orang tua berliterasi tinggi dan anak yang kritis dapat tercipta secara harmonis. (wam)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G









