DEAL PROFIL | Pesawat N219 Nurtanio mungkin tidak sebesar pesawat jet komersial yang setiap hari melintasi langit internasional, tetapi ukurannya yang relatif kecil justru menyimpan cerita besar tentang ambisi Indonesia menjadi negara yang mampu merancang dan membangun pesawat sendiri. Pesawat turboprop berkapasitas maksimum 19 penumpang itu lahir dari kerja sama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau LAPAN, dan kemudian menjadi salah satu simbol penting kebangkitan kembali industri rancang bangun pesawat Indonesia.
N219 pertama kali diperkenalkan melalui proses roll-out pada 2015. Dua tahun kemudian, pada 16 Agustus 2017, pesawat tersebut melakukan penerbangan perdana dari Bandung. Penerbangan itu menjadi tonggak penting karena untuk pertama kalinya rancangan pesawat yang dikembangkan untuk kebutuhan Indonesia benar-benar meninggalkan landasan dan memasuki dunia penerbangan.
Indonesia tidak membangun N219 hanya untuk mengejar kebanggaan simbolik. Pesawat tersebut sejak awal dirancang untuk menjawab persoalan geografis Indonesia: ribuan pulau, wilayah pegunungan, daerah terpencil, landasan pendek, serta kebutuhan konektivitas antarkawasan yang tidak selalu dapat dilayani secara ekonomis oleh pesawat berukuran besar.
N219 Nurtanio memiliki konfigurasi high-wing monoplane, kabin tanpa tekanan dengan kapasitas maksimum 19 penumpang, roda pendarat tiga roda yang tidak dapat dilipat, dua mesin turboprop Pratt & Whitney Canada PT6A-42, serta empat bilah baling-baling Hartzell. Sistem navigasi dan komunikasinya menggunakan Garmin 1000 Next Generation.
Desain N219 memperlihatkan sebuah pilihan yang sangat pragmatis. Pesawat ini tidak dibangun untuk menjadi simbol kemewahan udara, melainkan sebagai pekerja keras yang mampu beroperasi dalam misi transportasi penumpang, angkutan barang, penerbangan perintis, hingga kebutuhan khusus seperti evakuasi medis dan operasi lainnya.
Wilayah terpencil menjadi alasan paling kuat di balik kelahiran pesawat ini. Kementerian Perhubungan sejak proses sertifikasinya melihat N219 sebagai salah satu pilihan untuk mendukung konektivitas daerah tertinggal, terpencil, terluar, dan perbatasan atau 3TP, termasuk untuk penerbangan perintis.
Papua, Kalimantan Utara, dan Aceh merupakan contoh wilayah yang pernah disebut pemerintah sebagai pasar potensial karena membutuhkan pesawat dengan kapasitas lebih kecil dan kemampuan melayani landasan pendek. Karakter tersebut membuat N219 memiliki ceruk pasar yang berbeda dari pesawat komersial berkapasitas besar.
PT Dirgantara Indonesia tidak mendapatkan jalan yang mudah untuk membawa N219 dari meja desain menuju pesawat yang dinyatakan laik. Proses sertifikasi berlangsung bertahun-tahun, melibatkan pengujian teknis dan evaluasi keselamatan yang ketat sebelum akhirnya Type Certificate diterbitkan pada Desember 2020.
Sertifikasi menjadi salah satu babak paling penting dalam perjalanan N219. Pada 18 Desember 2020, proses final Type Certification Board Meeting diselesaikan, dan sertifikat tipe untuk N219 kemudian diterbitkan dengan Type Certificate No. A118.
Kementerian Perhubungan menyebut pencapaian tersebut sebagai tonggak bersejarah bagi kebangkitan industri rancang bangun pesawat Indonesia setelah era N250 yang diprakarsai Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie. Penilaian itu memperlihatkan bahwa arti N219 tidak hanya terletak pada sebuah produk, tetapi juga pada kemampuan bangsa menyelesaikan proses desain, pengujian, dan sertifikasi pesawat secara nasional.
Para insinyur dan teknisi menjadi kelompok yang jarang terlihat ketika masyarakat menyaksikan pesawat melintas di udara. Di balik satu penerbangan terdapat pekerjaan panjang mengenai struktur, aerodinamika, kendali penerbangan, avionik, mesin, navigasi, keselamatan, hingga berbagai tahapan pengujian.
Dua prototipe digunakan dalam proses pengembangan dan pengujian N219. Prototipe pertama menjalani pengujian yang berkaitan dengan karakteristik fisik dan kemampuan terbang, sedangkan prototipe kedua digunakan untuk pengujian berbagai sistem seperti avionik, radio, radar, dan navigasi.
Penerbangan perdana pada Agustus 2017 juga menjadi gambaran betapa kompleksnya proses tersebut. Pesawat melakukan penerbangan eksperimental dari Husein Sastranegara, Bandung, dengan area operasi di sekitar Batujajar dan Waduk Saguling. Penerbangan tersebut berlangsung dalam batasan keselamatan yang telah ditentukan untuk tahap awal pengujian.
Nama Nurtanio yang kemudian melekat pada N219 membawa dimensi sejarah tersendiri. Nurtanio Pringgoadisuryo merupakan salah satu perintis penerbangan Indonesia yang sejak masa awal kemerdekaan berusaha membangun kemampuan membuat pesawat di dalam negeri. Namanya kemudian diabadikan dalam sejarah industri pesawat Indonesia dan menjadi bagian dari identitas N219.
Nurtanio Pringgoadisuryo pernah terlibat dalam pengembangan sejumlah pesawat pada masa awal republik, ketika kemampuan teknologi Indonesia masih sangat terbatas. Karena dedikasinya, nama Nurtanio kemudian menjadi bagian dari sejarah institusi yang akhirnya berkembang menjadi PT Dirgantara Indonesia.
N219 Nurtanio dengan demikian bukan sekadar nama model. Ia seperti jembatan antara generasi perintis penerbangan Indonesia dan generasi insinyur yang bekerja dengan perangkat desain, simulasi, avionik, serta standar sertifikasi modern.
Dunia penerbangan tidak mengenal kompromi terhadap keselamatan. Sebuah pesawat tidak dapat disebut berhasil hanya karena mampu terbang. Pesawat harus melalui proses pengujian dan sertifikasi untuk membuktikan bahwa rancangan tersebut memenuhi persyaratan keselamatan yang berlaku.
Type Certificate yang diterima N219 pada akhir 2020 menjadi bukti penting bahwa proses evaluasi rancang bangun telah dilalui. Kementerian Perhubungan menyatakan proses sertifikasi N219 telah berlangsung hampir tujuh tahun sejak pengajuan sertifikasi dimulai pada 2014.
Industri dirgantara Indonesia kemudian menghadapi tantangan yang berbeda setelah pesawat mendapatkan sertifikasi. Membuat pesawat terbang adalah satu perkara. Menjadikannya produk industri yang diproduksi secara berkelanjutan, digunakan operator, memiliki dukungan suku cadang, layanan purnajual, serta mampu bersaing di pasar internasional adalah perkara lain.
Pasar internasional sejak awal menjadi salah satu sasaran N219. PTDI bahkan membawa pesawat tersebut ke ajang Singapore Airshow untuk memperkenalkannya kepada calon pengguna dan pasar luar negeri. Pemerintah melihat kemampuan N219 sebagai peluang karena karakter pesawat tersebut cocok untuk negara-negara yang memiliki wilayah kepulauan, daerah terpencil, serta kebutuhan penerbangan perintis.
Negara-negara kepulauan dapat melihat persoalan yang sama dengan Indonesia. Jarak antarpulau tidak selalu membutuhkan pesawat jet besar. Dalam banyak kasus, pesawat kecil dengan biaya operasi yang lebih efisien justru lebih masuk akal untuk membuka rute-rute dengan jumlah penumpang terbatas.
N219 karena itu memiliki misi yang sederhana tetapi strategis: menghubungkan tempat-tempat yang terlalu kecil untuk dilayani pesawat besar, tetapi terlalu penting untuk dibiarkan terisolasi.
Indonesia memiliki lebih dari sekadar persoalan pasar ketika mengembangkan pesawat tersebut. N219 juga menjadi ujian apakah kemampuan teknologi nasional dapat diterjemahkan menjadi produk industri yang memiliki umur panjang.
Karya anak bangsa adalah istilah yang mudah diucapkan ketika sebuah prototipe berhasil terbang. Namun ukuran sebenarnya berada pada tahap berikutnya: apakah industri nasional mampu terus menyempurnakan desain, meningkatkan kualitas, memenuhi standar internasional, membangun rantai pasok, dan menjadikan pesawat tersebut benar-benar digunakan secara luas.
PTDI sendiri mendapatkan pesanan N219 untuk kebutuhan komersial dari Mitra Aviasi Perkasa, perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan dan pelatihan penerbangan. Pesanan tersebut menjadi salah satu perkembangan penting dalam perjalanan komersialisasi N219.
Penerbangan perintis menjadi salah satu ruang paling rasional bagi N219. Di daerah yang infrastrukturnya terbatas, pesawat berkapasitas kecil dapat memainkan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar mengangkut penumpang. Ia dapat membawa tenaga medis, logistik, barang kebutuhan masyarakat, maupun membuka akses terhadap pusat ekonomi dan pendidikan.
Masyarakat di daerah terpencil mungkin tidak terlalu peduli siapa yang mendesain pesawat atau berapa lama proses sertifikasinya. Bagi mereka, ukuran keberhasilan jauh lebih sederhana: apakah pesawat datang, apakah penerbangan aman, apakah harga tiket terjangkau, dan apakah konektivitas membuat kehidupan menjadi lebih mudah.
N219 pada akhirnya akan dinilai dari manfaat tersebut.
Langit Indonesia juga menyimpan ironi. Negara kepulauan dengan kebutuhan konektivitas yang begitu besar membutuhkan pesawat sendiri, tetapi industri pesawat membutuhkan pasar yang kuat agar mampu bertahan. Pemerintah membutuhkan konektivitas, sementara industri membutuhkan kepastian produksi dan pengguna.
Pesawat N219 berdiri tepat di tengah persimpangan itu.
Dunia mungkin tidak melihat N219 sebagai pesawat terbesar atau tercepat. Tetapi bagi Indonesia, pesawat ini membawa pertanyaan yang jauh lebih besar daripada ukuran badan pesawatnya: apakah sebuah negara berkembang dapat membangun kemampuan dirgantara sendiri dan mempertahankannya secara berkelanjutan?
N219 Nurtanio telah membuktikan satu hal penting: Indonesia mampu membawa rancangan nasional melewati proses panjang hingga memperoleh sertifikasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan keberhasilan teknologi tersebut tidak berhenti sebagai kebanggaan nasional yang hanya dipamerkan di ruang pamer atau pertunjukan udara.
Anak bangsa telah menunjukkan bahwa mereka mampu merancang, menguji, dan menerbangkan pesawat. Kini industri nasional membutuhkan ekosistem yang membuat pesawat itu terus terbang, terus diproduksi, terus dikembangkan, dan semakin dikenal di luar negeri.
N219 mungkin kecil jika dibandingkan dengan pesawat jet raksasa yang memenuhi bandara-bandara dunia. Namun setiap kali baling-balingnya berputar dan roda meninggalkan landasan, ada sebuah cerita besar yang ikut mengudara: cerita tentang Indonesia yang tidak ingin selamanya hanya menjadi pembeli pesawat.
Langit dunia pada akhirnya bukan sekadar tempat bagi N219 untuk terbang. Langit adalah ruang pembuktian.
Indonesia sudah berhasil membuat pesawat kecil yang lahir dari kemampuan nasional. Tantangan sesungguhnya sekarang bukan lagi bagaimana membuatnya terbang, melainkan bagaimana membuat dunia percaya bahwa N219 Nurtanio layak menjadi salah satu wajah industri dirgantara Indonesia di panggung global. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel









