DEAL PROFIL | Makkah, Arab Saudi — Menjelang Idul Fitri, Makkah dipenuhi jutaan manusia yang larut dalam ibadah dan sukacita menyambut hari kemenangan. Namun di balik keramaian yang memuncak di sekitar Masjidil Haram, terdapat kisah lain yang berjalan lebih senyap: kehidupan perempuan diaspora Asia Tenggara yang bekerja di Arab Saudi.
Bagi banyak dari mereka, Ramadan hingga Idul Fitri bukanlah masa jeda, melainkan periode kerja yang tetap berjalan seperti hari-hari biasa. Di sektor domestik dan layanan, perempuan migran—terutama asal Indonesia—masih menjalankan rutinitas harian, bahkan saat gema takbir mulai berkumandang.
Tidak semua memiliki kesempatan untuk menikmati libur Lebaran. Sebagian hanya memperoleh waktu terbatas untuk menunaikan salat Id, sementara sisanya kembali pada kewajiban pekerjaan. Di tengah suasana yang seharusnya identik dengan kebersamaan keluarga, mereka justru merayakan dalam jarak yang panjang dari kampung halaman.
Kerinduan menjadi tema yang nyaris seragam. Tradisi seperti berkumpul, bersalaman, hingga makan bersama keluarga hanya dapat tergantikan melalui layar ponsel. Panggilan video menjadi jembatan emosional yang menghubungkan dua dunia: Makkah yang ramai dan rumah yang terasa jauh namun hangat dalam ingatan.
Di sisi lain, realitas sebagai pekerja migran tidak selalu mudah. Sebagian perempuan masih menghadapi tekanan kerja, keterbatasan ruang gerak, hingga akses perlindungan yang belum sepenuhnya memadai. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa di balik kontribusi besar mereka terhadap keluarga di tanah air, terdapat tantangan yang terus menyertai.
Meski demikian, daya tahan dan solidaritas menjadi kekuatan utama. Dalam sela waktu yang sempit, mereka membangun kebersamaan dengan sesama diaspora. Pertemuan sederhana di kamar atau asrama, berbagi makanan ala kampung halaman, hingga saling bertukar cerita menjadi cara untuk menjaga kewarasan sekaligus menghidupkan suasana Lebaran.
Bagi sebagian perempuan, kesempatan menginjakkan kaki di Masjidil Haram—meski hanya sebentar—menjadi momen yang sangat berharga. Di tempat itulah mereka menumpahkan doa, memohon perlindungan, kekuatan, serta harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Menjelang malam takbiran, ketika kota suci dipenuhi gema pujian dan cahaya, banyak dari mereka merayakan dalam kesederhanaan. Tidak ada kemeriahan seperti di tanah air, namun ada keteguhan yang tumbuh dari pengalaman hidup yang tidak ringan.
Kisah perempuan diaspora di Makkah menjelang Idul Fitri adalah potret tentang ketahanan dan pengorbanan. Di tengah gemuruh spiritual kota suci, mereka menjalani Lebaran dengan cara yang berbeda—lebih hening, namun sarat makna. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G






