DEAL OLAHRAGA | Menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, ritme kehidupan di Kota Makkah meningkat tajam, seolah tidak mengenal jeda. Arus manusia mengalir dari berbagai penjuru dunia menuju satu titik: Masjidil Haram. Di kota suci ini, pergerakan manusia bukan sekadar mobilitas, melainkan bagian dari perjalanan spiritual yang mencapai puncaknya di akhir Ramadan.
Sejak memasuki sepuluh malam terakhir, kepadatan mulai terasa di hampir seluruh kawasan pusat kota. Jalan-jalan utama yang mengarah ke Masjidil Haram dipenuhi pejalan kaki yang datang silih berganti. Mereka berjalan dalam kelompok kecil maupun rombongan besar, membawa sajadah, air minum, dan harapan untuk meraih malam terbaik di bulan suci.
Di pelataran masjid, ruang menjadi semakin terbatas. Jamaah memanfaatkan setiap sudut yang tersedia—dari lantai utama hingga area perluasan dan lantai atas. Bahkan, sebagian memilih menunggu berjam-jam untuk mendapatkan tempat yang lebih dekat dengan Ka’bah.
Sementara itu, di luar kompleks masjid, dinamika kota menunjukkan wajah yang berbeda. Deretan hotel, pusat perbelanjaan, dan restoran beroperasi hampir tanpa henti. Lift-lift hotel bekerja ekstra mengangkut tamu, sementara lobi dipenuhi jamaah yang datang dan pergi dalam siklus yang cepat.
Transportasi menjadi salah satu tantangan utama. Bus pengangkut jamaah, taksi, dan kendaraan pribadi harus berbagi ruang dengan arus pejalan kaki yang mendominasi. Di beberapa titik, petugas keamanan terlihat aktif mengatur pergerakan untuk mencegah penumpukan massa.
Namun, di balik kepadatan tersebut, suasana spiritual tetap terasa kuat. Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari berbagai arah, menyatu dengan gema doa yang dipanjatkan oleh jamaah dari latar belakang budaya yang berbeda. Bahasa boleh beragam, tetapi tujuan mereka serupa.
Menjelang malam takbiran, atmosfer kota perlahan berubah. Jika sebelumnya didominasi oleh keheningan ibadah malam, kini mulai terdengar gema takbir yang mengalun dari Masjidil Haram. Jamaah yang masih bertahan memanfaatkan waktu terakhir Ramadan dengan ibadah, sementara sebagian lainnya bersiap menyambut hari raya.
Pergerakan manusia belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Banyak jamaah memilih tetap berada di Makkah untuk melaksanakan salat Idul Fitri di Masjidil Haram. Hal ini membuat kota tetap padat, bahkan setelah bulan Ramadan berakhir.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa Makkah bukan sekadar kota tujuan, melainkan pusat pertemuan umat Islam dunia. Di tengah lalu lalang manusia yang tak pernah berhenti, tersimpan kisah tentang keyakinan, pengorbanan, dan kerinduan spiritual.
Menjelang Idul Fitri, Makkah menjadi gambaran tentang bagaimana sebuah kota dapat menampung jutaan langkah sekaligus—setiap langkah membawa doa, setiap perjalanan mengarah pada satu tujuan yang sama: mendekat kepada Tuhan. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G






