DEAL FOKUS | Deru mesin perahu, aroma asin laut yang terbawa angin, serta wajah-wajah yang menghitam karena terik matahari menjadi pemandangan yang menyambut kedatangan Prabowo Subianto pada puncak peringatan Pekan Nelayan Nasional di Gorontalo. Di tengah hamparan masyarakat pesisir yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari laut, kehadiran orang nomor satu di Indonesia itu menghadirkan suasana yang berbeda. Bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan sebuah momentum yang memunculkan harapan baru bagi kelompok masyarakat yang selama ini berada di garis depan ketahanan pangan nasional.
Sejak pagi, kawasan lokasi acara telah dipenuhi nelayan yang datang dari berbagai daerah. Sebagian mengenakan pakaian sederhana, sebagian lagi membawa atribut kelompok nelayan dan koperasi perikanan. Mereka berdiri berdesakan di bawah terik matahari, menunggu sosok yang selama ini lebih sering mereka lihat melalui layar televisi atau media sosial.
Ketika Presiden Prabowo tiba, sorak-sorai spontan menggema. Beberapa nelayan mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan momen, sementara yang lain berusaha mendekat agar dapat berjabat tangan. Di tengah keramaian itu, tampak jelas bahwa kedatangan kepala negara memiliki makna tersendiri bagi masyarakat pesisir yang kesehariannya bergulat dengan ombak, cuaca yang tak menentu, serta harga hasil tangkapan yang sering berfluktuasi.
Bagi banyak nelayan, laut bukan sekadar ruang ekonomi. Laut adalah kehidupan, identitas, sekaligus warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Namun kehidupan di pesisir tidak selalu berjalan mudah. Persoalan permodalan, keterbatasan teknologi penangkapan, infrastruktur pelabuhan yang belum merata, hingga akses pasar yang masih menjadi tantangan membuat kesejahteraan nelayan kerap tertinggal dibanding sektor ekonomi lainnya.
Karena itulah, kehadiran Presiden di tengah komunitas nelayan membawa simbol yang kuat. Negara hadir secara langsung di ruang kehidupan masyarakat pesisir. Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menegaskan komitmennya menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu pilar pembangunan nasional. Gorontalo, yang memiliki garis pantai panjang dan potensi perikanan melimpah, menjadi salah satu representasi penting dari masa depan ekonomi maritim Indonesia.
Di lokasi acara, suasana terasa cair. Presiden tidak hanya berdiri di podium memberikan sambutan, tetapi juga berinteraksi dengan para nelayan yang datang dari berbagai wilayah. Percakapan singkat, sapaan hangat, dan jabat tangan yang berlangsung di sela-sela kegiatan menjadi momen yang paling banyak menarik perhatian. Bagi masyarakat pesisir, sentuhan langsung dari pemimpin negara sering kali memiliki nilai emosional yang jauh lebih besar daripada pidato resmi.
Seorang nelayan paruh baya yang datang dari wilayah pesisir Gorontalo Utara mengaku rela menempuh perjalanan berjam-jam untuk menghadiri acara tersebut. Baginya, kesempatan melihat Presiden secara langsung menjadi pengalaman yang jarang terjadi. Ia berharap perhatian pemerintah terhadap sektor perikanan tidak berhenti pada peringatan tahunan, melainkan diwujudkan melalui kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di lapangan.
Harapan serupa juga datang dari generasi muda nelayan. Mereka menginginkan adanya transformasi sektor perikanan yang mampu menarik minat anak-anak muda untuk tetap berkarya di kampung halaman. Selama ini, banyak generasi muda pesisir memilih merantau ke kota karena menganggap profesi nelayan tidak lagi menjanjikan masa depan yang cerah. Padahal, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi kelautan yang sangat besar jika dikelola dengan pendekatan modern dan berkelanjutan.
Pekan Nelayan Nasional sendiri bukan hanya perayaan budaya maritim. Acara ini menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas nelayan untuk membicarakan masa depan sektor perikanan Indonesia. Di dalamnya terdapat pesan bahwa pembangunan nasional tidak hanya berpusat di kota-kota besar, tetapi juga harus menyentuh masyarakat yang hidup di pesisir dan pulau-pulau kecil.
Kehadiran Presiden Prabowo pada puncak acara di Gorontalo memperkuat pesan tersebut. Di tengah berbagai agenda besar pembangunan nasional, perhatian terhadap nelayan menjadi pengingat bahwa Indonesia adalah negara maritim yang identitasnya dibangun oleh laut. Nelayan bukan sekadar kelompok profesi, melainkan bagian penting dari rantai ekonomi dan kedaulatan pangan bangsa.
Menjelang berakhirnya acara, matahari mulai bergerak ke arah barat. Laut yang sejak pagi menjadi latar perayaan tampak berkilauan diterpa cahaya senja. Satu per satu peserta mulai meninggalkan lokasi, membawa pulang kesan dan harapan masing-masing. Di antara mereka, ada keyakinan bahwa suara masyarakat pesisir telah sampai ke telinga pemimpin negara.
Bagi Gorontalo, hari itu akan dikenang bukan hanya sebagai puncak Pekan Nelayan Nasional, tetapi juga sebagai momen ketika dermaga, perahu, dan kehidupan nelayan menjadi pusat perhatian nasional. Sementara bagi para nelayan yang hadir, kedatangan Presiden mungkin hanya berlangsung beberapa jam, tetapi makna yang ditinggalkannya berpotensi bertahan jauh lebih lama: harapan bahwa laut dan para penjaganya tidak lagi berada di pinggir pembangunan, melainkan di jantung masa depan Indonesia. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel






