Dari Istana ke Masa Depan Energi: Peran Perempuan dalam Kepengurusan Baru Dewan Energi Nasional

Kepengurusan baru Dewan Energi Nasional, Dok. Deal Channel

DEAL GENDER | Di ruang Istana Negara yang sarat sejarah dan keputusan strategis, satu babak baru tata kelola energi Indonesia resmi dimulai. Presiden Prabowo Subianto melantik kepengurusan terbaru Dewan Energi Nasional (DEN), sebuah lembaga kunci yang menjadi kompas arah kebijakan energi jangka panjang Indonesia. Di antara barisan pejabat yang berdiri tegak hari itu, kehadiran perempuan menjadi penanda penting: bahwa masa depan energi tak lagi dirumuskan dari satu sudut pandang semata.

Pelantikan ini bukan sekadar pergantian struktur organisasi. Ia menandai pergeseran paradigma—bahwa kebijakan energi nasional kini semakin membuka ruang bagi perspektif perempuan dalam merumuskan ketahanan, kemandirian, dan keberlanjutan energi bangsa.

Read More

Dewan Energi Nasional, sebagaimana diamanatkan undang-undang, memiliki peran strategis dalam menyusun dan mengawasi Kebijakan Energi Nasional (KEN), termasuk peta jalan transisi energi dan pengelolaan sumber daya energi nasional. Dalam kepengurusan yang baru dilantik, keterlibatan perempuan bukan hadir sebagai pelengkap simbolik, melainkan sebagai bagian dari pengambil keputusan.

Para perempuan yang masuk dalam struktur DEN membawa latar belakang beragam—mulai dari kebijakan publik, akademisi, hingga pengalaman teknis dan tata kelola. Perspektif ini penting, terutama ketika isu energi kini bersinggungan langsung dengan kehidupan rumah tangga, keberlanjutan lingkungan, keadilan sosial, dan masa depan generasi.

Dalam lanskap energi nasional, perempuan kerap berada di garis terdepan dampak kebijakan: dari akses listrik, harga energi, hingga dampak lingkungan akibat eksploitasi sumber daya. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam DEN menghadirkan pendekatan yang lebih membumi—energi tidak hanya dipahami sebagai angka produksi dan cadangan, tetapi sebagai penopang kehidupan sehari-hari.

Narasi energi pun bergerak dari sekadar pasokan menuju keberlanjutan. Dari fosil menuju transisi. Dari eksploitasi menuju kehati-hatian. Dan di ruang inilah, suara perempuan menemukan relevansinya.

Pelantikan DEN oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara juga mencerminkan keseriusan pemerintah dalam memperkuat fondasi kebijakan energi nasional di tengah tantangan global: krisis iklim, fluktuasi harga energi dunia, serta tuntutan transisi menuju energi baru dan terbarukan.

Keterlibatan perempuan dalam struktur ini memperkaya proses perumusan kebijakan—menjadikannya lebih inklusif, adaptif, dan sensitif terhadap dampak jangka panjang. Sebuah sinyal bahwa pembangunan energi tidak lagi dipisahkan dari nilai keadilan dan keberlanjutan.

Dari balik dinding Istana Negara, kepengurusan baru DEN kini memikul tanggung jawab besar: menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi nasional dan kelestarian lingkungan, antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial. Di dalamnya, perempuan hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai arsitek kebijakan.

Peran perempuan dalam DEN adalah cermin dari perubahan yang lebih luas—bahwa arah energi Indonesia ke depan akan ditentukan oleh kolaborasi, keberagaman perspektif, dan keberanian untuk keluar dari pola lama.

Ketika pintu Istana tertutup usai pelantikan, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Dan di antara langkah-langkah strategis itu, jejak perempuan kini terukir jelas dalam peta besar masa depan energi Indonesia. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts