Upaya Tenaga Kerja Indonesia di Mekkah Memasak Nasi Briyani dan Nasi Mandhi untuk Jamaah Umroh

TKI yang Memasak Nasi Briyani dan Nasi Mandhi untuk Jamaah Umroh. Dok: Deal Channel

DEAL EKBIS | Mekkah— Di tengah hiruk-pikuk kedatangan jamaah umroh dari berbagai belahan dunia, terdapat aktivitas sunyi namun penuh dedikasi yang berlangsung di sudut-sudut dapur besar hotel dan katering penyedia konsumsi. Aktivitas itu dilakukan oleh tenaga kerja Indonesia (TKI) yang tak hanya bekerja dengan keterampilan, tetapi juga dengan sepenuh hati. Mereka adalah para juru masak dan asisten dapur yang menjadi garda terdepan penyaji hidangan khas Timur Tengah seperti nasi briyani dan nasi mandhi bagi jamaah umroh asal Indonesia.

Di balik aroma rempah yang memenuhi ruangan, kerja keras ini menjadi cermin kontribusi besar diaspora Indonesia dalam mendukung layanan ibadah umroh. Meski berada jauh dari tanah air, profesionalisme para TKI ini terasah dari hari ke hari, menyesuaikan cita rasa, teknik memasak, dan permintaan konsumsi ribuan jamaah yang harus dipenuhi tepat waktu.

Read More

 

Mengolah Ribuan Porsi dalam Tekanan Waktu

Setiap pagi, pukul 05.00, sebagian besar pekerja Indonesia di dapur hotel-hotel Mekkah sudah memulai rutinitas mereka. Mereka merendam beras basmati, memarut bawang bombay, menyiapkan potongan daging kambing, dan mencampur rempah seperti kapulaga, cengkeh, za’atar, dan kunyit yang menjadi ruh dari briyani dan mandhi.

“Kadang satu kali masak bisa untuk tiga sampai lima ribu porsi, tergantung kloter jamaah yang datang,” ujar salah seorang juru masak senior asal Lombok. Menurutnya, waktu menjadi tantangan utama. Hidangan harus siap sebelum jamaah kembali dari masjid atau selepas melaksanakan rangkaian ibadah.

Di beberapa dapur besar, proses memasak dilakukan menggunakan panci industrial berkapasitas puluhan liter. Api harus dipantau secara presisi agar beras tidak lembek dan daging tetap empuk. Kesalahan kecil dapat mengganggu kualitas makanan bagi ribuan orang.

 

Menjaga Cita Rasa Nusantara dalam Menu Timur Tengah

Meski harus mengikuti standar menu Arab Saudi, banyak juru masak asal Indonesia menambahkan sentuhan tertentu agar rasa briyani dan mandhi lebih sesuai dengan lidah jamaah nusantara.

“Orang Indonesia biasanya kurang cocok jika bumbunya terlalu tajam atau dagingnya terlalu berlemak. Jadi kami melakukan penyesuaian ringan, tanpa melanggar resep asli,” ungkap seorang chef Indonesia di dapur katering kawasan Aziziyah.

Beberapa TKI juga berperan sebagai pengecek kualitas makanan. Mereka mencicipi hidangan sebelum diantarkan, memastikan nasi tidak terlalu keras, daging matang merata, dan rempah tidak mendominasi secara berlebihan. Upaya ini membuat jamaah merasa nyaman, terutama mereka yang baru pertama kali menyantap hidangan khas Arab.

 

Kontribusi yang Tak Terlihat, Tapi Sangat Dirasakan Jamaah

Di lapangan, keluhan jamaah terkait makanan adalah salah satu aspek yang sering muncul dalam penyelenggaraan umroh. Karena itu, kehadiran TKI di dapur menjadi sangat penting. Mereka tidak hanya mengolah makanan, tetapi juga menjaga keamanan pangan, kebersihan dapur, hingga standar penyajian.

Beberapa juru masak bahkan mengaku merasa bangga bisa ikut “melayani tamu Allah” meski bukan melalui profesi pembimbing ibadah atau petugas resmi.

“Setiap kami menyajikan makanan, rasanya seperti ikut membantu kelancaran ibadah saudara-saudara kita,” kata seorang pekerja asal Makassar.

Di balik dedikasi itu, terdapat tantangan yang tidak sedikit. Jam kerja di dapur hotel Mekkah bisa mencapai 10 hingga 12 jam per hari, terutama saat musim ramai umroh. Suhu dapur yang panas membuat pekerja harus tetap terhidrasi, sementara ritme pekerjaan menuntut ketahanan fisik yang kuat.

Adaptasi budaya juga menjadi salah satu tantangan. Para TKI harus berkomunikasi dengan chef senior atau supervisor berkewarganegaraan Mesir, Pakistan, Sudan, atau Arab Saudi, sehingga mereka dituntut cepat memahami instruksi dalam bahasa Arab ataupun Inggris.

“Kami belajar sambil bekerja. Lama-lama terbiasa,” ungkap seorang pekerja perempuan yang bertugas menyiapkan rempah-rempah.

Kontribusi TKI dalam industri kuliner umroh bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga soal hubungan emosional dengan jamaah Indonesia. Banyak jamaah yang merasa makanan buatan tenaga kerja Indonesia membuat mereka lebih tenang dan tidak khawatir jauh dari rumah.

Pemerintah Indonesia melalui KJRI Jeddah juga memberi perhatian terhadap perlindungan TKI di sektor ini, mulai dari memastikan legalitas kerja hingga pelatihan keterampilan dasar sebelum pemberangkatan.

Di balik kepulan uap nasi briyani dan aroma daging mandhi yang menggugah selera, ada cerita panjang tentang ketekunan, pengorbanan, dan profesionalisme para pekerja Indonesia. Mereka bekerja tanpa sorotan kamera, tanpa tepuk tangan, namun menjadi bagian penting dari kenyamanan jamaah dalam menunaikan ibadah di Tanah Suci.

Bagi para TKI di dapur-dapur Mekkah, setiap piring briyani dan mandhi yang tersaji bukan sekadar makanan—melainkan wujud pengabdian sunyi bagi tamu-tamu Allah. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts