DEAL FOKUS | Suasana halaman Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Desa Muliasari, Tanjung Lago, Banyuasin, siang itu terasa berbeda. Puluhan santri berbaris rapi menyambut kedatangan tamu negara. Beberapa di antara mereka memegang poster bertuliskan “Santri Siap Go Digital”, sementara lainnya sibuk mengabadikan momen lewat gawai sederhana. Di tengah sorak sorai dan lantunan shalawat, Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, turun dari kendaraan dinasnya. Senyum tersungging di wajahnya, meski agenda kunjungan terlihat padat: panen raya jagung, dialog dengan kyai, hingga pertemuan dengan santri.
Kunjungan ke pesantren itu bukan sekadar seremoni. Dalam pidatonya, Gibran menegaskan pentingnya santri memahami perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), teknologi informasi (IT), dan Research and Business (RnB). “Santri tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga harus melek teknologi. AI dan IT bisa membantu bisnis, dan RnB bisa menjembatani riset dengan usaha nyata. Kalau ini dikuasai, santri bisa jadi motor ekonomi lokal,” ujarnya, disambut tepuk tangan meriah.
Contents
Teknologi di Pesantren
Gibran menekankan bahwa era digital menuntut perubahan pola pikir. AI, misalnya, dapat dimanfaatkan dalam pertanian—dari prediksi musim tanam hingga pengendalian hama. IT membuka jalan bagi santri untuk menjual produk pesantren secara online, sementara RnB menjadi jembatan antara gagasan inovatif dan model bisnis berkelanjutan.
“Pesantren harus jadi pusat inovasi. Jangan sampai hanya jadi konsumen, tapi harus ikut memproduksi teknologi dan usaha. Santri bisa jadi santripreneur,” tegasnya.
Di sela acara, Gibran menyerahkan bantuan berupa laptop dan peralatan pertanian modern. Simbol kecil, namun memiliki arti besar bagi santri yang selama ini lebih akrab dengan kitab kuning daripada aplikasi digital.
Suara dari Pesantren
Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum, menyambut gagasan itu dengan antusias. “Kami ingin pesantren ini bukan hanya melahirkan ulama, tapi juga wirausahawan yang paham teknologi. Dukungan pemerintah menjadi pintu awal, tinggal bagaimana kami menyiapkan kurikulum yang seimbang,” ujarnya.
Sementara itu, Fauzi, seorang santri kelas akhir, mengaku kunjungan wapres membuka pandangannya. “Saya dulu berpikir santri hanya belajar agama. Ternyata kita bisa belajar komputer, bisnis online, bahkan AI. Kalau ada pelatihan, saya mau ikut. Biar bisa buka usaha sendiri setelah lulus,” katanya penuh semangat.
Pertanian dan Digitalisasi
Agenda kunjungan Wapres juga dirangkai dengan panen raya jagung di lahan binaan pesantren. Banyuasin dikenal sebagai salah satu lumbung pangan Sumatera Selatan. Menurut data Dinas Pertanian, produksi jagung di wilayah ini bisa mencapai ratusan ribu ton per tahun.
Namun, di balik potensi besar itu, petani masih menghadapi tantangan klasik: cuaca tak menentu, serangan hama, dan harga pasar yang fluktuatif. “Kalau ada aplikasi berbasis AI yang bisa memprediksi cuaca atau penyakit tanaman, itu sangat membantu. Selama ini kami hanya mengandalkan pengalaman turun-temurun,” tutur Suryadi, petani jagung yang ikut hadir.
Gibran menilai digitalisasi sektor pertanian menjadi kunci. “Kita bisa mulai dari hal sederhana. Misalnya, aplikasi pencatatan hasil panen, pemasaran lewat marketplace, hingga drone untuk memantau lahan. Santri bisa belajar ini dan menerapkannya langsung,” ujarnya.
Latar: Pesantren dan Transformasi
Pesantren di Indonesia, jumlahnya lebih dari 36 ribu, selama ini identik dengan pendidikan agama. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah mendorong pesantren untuk mengambil peran lebih luas: pendidikan vokasi, kewirausahaan, hingga teknologi digital.
Konsep “santripreneur” lahir dari kebutuhan itu. Santri tidak hanya dibekali dengan pemahaman agama, tetapi juga keterampilan hidup yang relevan dengan zaman. Beberapa pesantren besar di Jawa telah lebih dulu memulai, membuka unit usaha ritel, peternakan, hingga startup kecil berbasis IT.
Ponpes Bahrul Ulum, meski berada di Banyuasin, mencoba mengikuti jejak itu. Dengan lahan pertanian yang luas dan dukungan masyarakat, pesantren ini berpotensi menjadi model integrasi pendidikan agama, pertanian, dan teknologi.
Tantangan di Lapangan
Meski gagasan besar telah dilontarkan, tantangan praktis menanti. Infrastruktur internet di pedesaan Banyuasin masih terbatas. Tidak semua santri memiliki laptop atau smartphone memadai. Pengajar IT di pesantren juga masih jarang.
“Kami senang dapat laptop, tapi siapa yang akan mengajarkan? Kami butuh pelatihan rutin, bukan hanya sekali. Kalau tidak, bantuan ini hanya jadi pajangan,” kata Nuraini, seorang guru pesantren.
Hal senada disampaikan oleh analis pendidikan Islam, Dr. Zulfikar dari Universitas Sriwijaya. “Kebijakan bagus harus diiringi dengan pendampingan jangka panjang. Santri bisa belajar AI atau IT, tapi kalau tidak ada kurikulum, tidak ada instruktur, mereka akan kembali ke pola lama. Keberlanjutan adalah kunci.”
Momentum dan Harapan
Meski banyak pekerjaan rumah, kunjungan Gibran dianggap sebagai momentum. Kehadirannya memberi sinyal bahwa pemerintah serius melibatkan pesantren dalam agenda ekonomi digital.
Bupati Banyuasin, Askolani, menilai kunjungan ini memberi semangat baru. “Kami akan berkoordinasi dengan kementerian terkait agar ada program lanjutan. Banyuasin punya potensi besar di pertanian, dan pesantren bisa menjadi mitra dalam pengembangan SDM.”
Di sisi lain, kalangan santri berharap program ini tidak berhenti pada seremoni. “Kami ingin ada kelas coding, pelatihan bisnis online, sampai pendampingan usaha. Kalau ada, saya yakin banyak santri bisa mandiri,” ujar Fauzi, santri yang sejak lama bercita-cita membuka usaha kuliner berbasis daring.
Analisis: Jalan Panjang Integrasi
Apa yang disampaikan Wapres Gibran sebenarnya bagian dari narasi besar transformasi digital Indonesia. Pemerintah menargetkan peningkatan literasi digital hingga 90 persen masyarakat pada 2030. Dengan lebih dari 5 juta santri aktif di seluruh Indonesia, pesantren bisa menjadi basis strategis.
Namun, mengintegrasikan AI, IT, dan RnB ke dalam dunia pesantren bukan perkara mudah. Pesantren memiliki tradisi panjang, kurikulum yang padat dengan kajian kitab, serta kultur yang kuat. Menambahkan unsur teknologi harus dilakukan dengan pendekatan kultural dan pedagogis yang bijak.
“Pesantren punya modal sosial: disiplin, komunitas yang solid, dan orientasi pada nilai. Kalau teknologi masuk dengan cara yang benar, hasilnya bisa luar biasa. Tapi kalau dipaksakan tanpa pendampingan, hanya akan jadi tren sesaat,” kata Dr. Zulfikar.
Santri di Persimpangan
Sore itu, setelah rangkaian acara berakhir, para santri kembali ke asrama dengan cerita baru. Ada yang masih sibuk membicarakan laptop yang baru diserahkan, ada pula yang bercita-cita membuka toko online untuk produk hasil pertanian pesantren.
Bagi Fauzi dan kawan-kawannya, pidato Wapres Gibran menjadi pemantik. “Santri juga bisa jadi pengusaha, bisa jadi ahli komputer. Kita tidak boleh minder,” katanya.
Pesantren, yang dulu dianggap dunia tradisional yang jauh dari teknologi, kini berada di persimpangan penting: antara menjaga tradisi dan membuka diri pada masa depan digital. Apakah AI, IT, dan RnB benar-benar bisa berakar di pesantren? Jawabannya akan bergantung pada keberlanjutan kebijakan, sinergi semua pihak, dan kesiapan santri menghadapi dunia baru.
Yang jelas, kunjungan Gibran ke Bahrul Ulum Banyuasin telah menorehkan satu babak baru: santri kini dipanggil bukan hanya untuk menjadi penjaga iman, tetapi juga pionir inovasi. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G









