Kasus Arya Daru & Zetro Leonardo: Panggilan bagi Negara Untuk Usut Tuntas Dua Kematian Misterius Diplomat

Kuasa hukum keluarga ADP Nicholay Aprilindo serta Praktisi dan Pengajar Diplomasi Dinna Prapto Raharja dalam Sindo Prime. Foto/SindoNews.
Kuasa hukum keluarga ADP Nicholay Aprilindo serta Praktisi dan Pengajar Diplomasi Dinna Prapto Raharja dalam Sindo Prime. Foto/SindoNews.

DEAL NASIONAL | Dua kasus kepergian diplomatik yang sama-sama menuai keganjilan kini menuntut kejelasan dari semua pihak: Arya Daru Pangayunan dan Zetro Leonardo Purba. Kematian mereka—satu di Jakarta, satu di Lima, Peru—belum mampu dijawab sepenuhnya oleh lembaga berwenang. Keluarga, publik, dan perwakilan negara menagih agar penyelidikan dilakukan secara transparan dan tuntas, sebab diplomat bukan hanya “etalase” tetapi representasi negara sebagaimana diungkap dalam sebuah wawancara oleh praktisi diplomasi bahwa: “Saya melihat bahwa diplomat itu adalah representasi dari negara. Jadi, bukan sekadar etalase, malah diplomat itu representasi dari negara.”

Kejadian Misterius Arya Daru: Dari Temuan Lakban sampai Kejanggalan Kuburan

  • Kronologi Kematian
    Arya Daru Pangayunan ditemukan tewas di kamar kosnya di Menteng, Jakarta Pusat, pada 8 Juli 2025. Wajah dan kepala almarhum ditemukan terlilit lakban kuning. Autopsi awal menyebutkan tidak ditemukan zat berbahaya dalam tubuh Arya dan tidak ada sidik jari atau DNA selain milik Arya sendiri di lokasi. Polisi menyatakan tidak ada dugaan keterlibatan pihak lain dan menduga kemungkinan bunuh diri.
  • Kejanggalan yang Diangkat Keluarga
    Keluarga secara tegas menolak kesimpulan bunuh diri, menyebut kondisi emosional dan profesional Arya stabil sebelum kematiannya. Ada pula laporan bahwa akun media sosial dan WhatsApp Arya aktif setelah kematian, padahal ponsel korban belum ditemukan. Tambahan lagi, kuburan Arya sempat diacak-acak oleh orang tak dikenal dan ada upaya penggalian di makamnya di DIY.
  • Langkah Keluarga: Permohonan Perlindungan & Suara Publik
    Memasuki tahap berikutnya, keluarga Arya telah meminta perlindungan hukum dan psikologis melalui LPSK agar lebih kuat dalam mengusut penyebab kematiannya. Publik pun mengamati dan mengkritisi bagaimana foto, video jenazah dan rekaman terkait tersebar tanpa izin keluarga, hal yang dipantau oleh Komnas HAM sebagai dugaan pelanggaran HAM.

Zetro Leonardo Purba: Diserang & Tewas di Lima, Peru

  • Insiden Penembakan
    Zetro Leonardo Purba, yang menjabat sebagai staf KBRI Lima (Penata Kanselerai Muda), tewas ditembak tiga kali saat pulang dari bersepeda, di depan apartemennya di distrik Lince, Lima, Peru.
    Saksi mata, termasuk istrinya, melihat langsung bagaimana Zetro dicegat oleh dua orang tak dikenal menggunakan sepeda motor. Satu peluru mengenai kepala dan menyebabkan kematian seketika.
  • Reaksi Resmi & Permintaan Penyelidikan
    Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Luar Negeri Sugiono, telah menyampaikan kecaman keras atas penembakan tersebut dan meminta pemerintah Peru beserta aparat kepolisian setempat agar melakukan penyelidikan menyeluruh.  Pakar hubungan internasional dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menekankan bahwa kasus Zetro adalah tragedi kemanusiaan, namun juga menyorot pentingnya keamanan diplomat di luar negeri.

“Janggal Jika Negara Tidak Antusias” — Desakan Transparansi dan Tanggung Jawab Publik

Praktisi diplomasi seperti Dinna Prapto Raharja menyuarakan bahwa diplomat seperti Arya dan Zetro adalah bagian dari negara; “bukan sekadar etalase.” SINDOnews Nasional Dengan demikian, kurangnya respon antusias dari negara terhadap dua kasus ini dianggap janggal oleh banyak pihak.

Read More

DPR RI turut meminta agar pemerintah mengusut tuntas kasus kematian kedua diplomat, melihatnya sebagai amanah negara untuk melindungi warganya di mana pun berada. Komnas HAM juga menegur terkait penyebaran konten sensitif tentang jenazah dan tempat kejadian yang belum jelas status hukumnya dan etika publiknya.

Tantangan Penyelidikan & Harapan Keadilan

Beberapa tantangan yang muncul:

  • Bukti forensik yang bersifat setengah jalan; masih ada kejanggalan bukti fisik dan digital.
  • Interpretasi penyelidikan resmi yang belum diterima oleh keluarga dan publik.
  • Tekanan publik yang besar terhadap transparansi dalam proses hukum dan diplomatik antar-negara.

Harapan-ke depan:

  1. Pemerintah harus menyediakan catatan penyelidikan yang terbuka, termasuk hasil forensik lengkap, digital forensik, dan pengawasan independen.
  2. Keterlibatan lembaga internasional atau pihak ketiga bisa membantu sebagai mediator atau pengawas agar tidak muncul rasa tidak percaya di masyarakat.
  3. Penguatan keamanan diplomat di luar negeri sebagai langkah preventif agar tragedi seperti penembakan Zetro tidak terulang. (wam)

 

pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts