DEAL GENDER | Di balik kubah-kubah megah Gereja Ortodoks dan bayangan panjang Kremlin, ada kisah lain yang perlahan muncul ke permukaan: kisah perempuan Muslim di Rusia. Mereka adalah wajah-wajah yang mungkin tak terlihat dalam narasi utama negeri ini—tetapi kini mulai tampil, menyuarakan identitas dan memperjuangkan ruang hidup dalam harmoni antara iman dan kewarganegaraan.
Menurut sensus resmi, sekitar 20 juta Muslim hidup di Rusia, menjadikannya negara dengan populasi Muslim terbesar di Eropa. Di antaranya, perempuan Muslim memainkan peran penting dalam komunitas, keluarga, dan dunia kerja, meski kerap harus bernegosiasi dengan norma-norma sosial yang mayoritasnya berbeda keyakinan.
Aida Ismailova, seorang mahasiswi berhijab asal Kazan, Tatarstan, mengatakan bahwa hidup sebagai perempuan Muslim di Rusia ibarat “berjalan di antara dua dunia.” Ia bangga dengan identitas Islamnya, tetapi juga sadar bahwa sebagian masyarakat masih menyimpan stereotip dan prasangka.
“Ada yang memandang hijab saya dengan curiga, ada yang sopan tapi heran. Tapi saya tetap pakai, karena itu bagian dari keyakinan saya,” ujarnya dalam wawancara dengan nada tenang.
Meskipun konstitusi Rusia menjamin kebebasan beragama, kehidupan perempuan Muslim tetap dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, kebijakan nasional, dan opini publik yang fluktuatif. Misalnya, di beberapa wilayah seperti Chechnya dan Dagestan, Islam sangat dominan dan budaya Muslim terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Namun di kota-kota besar seperti Moskow atau St. Petersburg, perempuan berhijab masih kerap mengalami diskriminasi dalam akses pekerjaan atau pendidikan.
Kendati demikian, tren yang muncul dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya pergeseran. Di ranah media sosial, misalnya, komunitas Muslimah muda Rusia mulai menggunakan platform seperti Instagram, VK, dan TikTok untuk berbagi cerita, edukasi agama, serta gaya busana modest yang menyeimbangkan nilai Islam dan budaya lokal. Mereka membentuk ruang-ruang virtual untuk saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan menantang narasi tunggal tentang perempuan Rusia.
Zukhra Yunusova, seorang wirausahawati Muslim asal Bashkortostan, mengelola brand pakaian syar’i yang kini telah menembus pasar nasional. Ia mengatakan bahwa “modest fashion” bukan sekadar gaya, melainkan bentuk ekspresi identitas yang modern dan percaya diri. “Kami Muslimah, kami Rusia, dan kami ingin tetap terlihat dan didengar tanpa harus meninggalkan nilai-nilai kami.”
Di sektor pendidikan dan profesional, sejumlah perempuan Muslim mulai menempati posisi penting. Ada guru, dokter, jurnalis, bahkan pengacara yang mengenakan hijab dan tetap aktif berkontribusi dalam masyarakat. Mereka menolak dikotakkan hanya berdasarkan keimanan, sambil tetap memegang teguh nilai-nilai agama.
Namun, tantangan tetap nyata. Beberapa kasus menunjukkan adanya kebijakan sekolah yang melarang penggunaan hijab, terutama di wilayah-wilayah dengan kebijakan sekuler yang ketat. Meski Mahkamah Agung Rusia pernah menolak gugatan atas larangan hijab di sekolah-sekolah tertentu, perdebatan soal hak beragama dan integrasi terus berlangsung.
Di tengah perubahan sosial dan globalisasi, perempuan Muslim di Rusia berdiri sebagai refleksi kompleks dari sejarah, politik, dan identitas. Mereka bukan hanya penonton dalam percaturan identitas nasional, tetapi juga aktor aktif yang membentuk ulang wajah Islam Rusia hari ini.
Di negeri empat musim yang terbentang dari Vladivostok hingga Kaliningrad, para Muslimah ini adalah pelita kecil yang mencoba menyinari ruang yang kadang gelap oleh prasangka. Dengan langkah hati-hati tapi pasti, mereka menunjukkan bahwa menjadi Muslimah di Rusia bukan soal memilih antara iman dan kebangsaan, tetapi tentang menyatukan keduanya dalam keberanian yang hening—dan penuh makna. (ath)






