DEAL EKBIS | Di jantung Asia yang sunyi dan berangin, tersembunyi sebuah kota yang berbeda dari imajinasi kebanyakan orang tentang Tiongkok. Jauh dari hiruk-pikuk kota pesisir seperti Shanghai atau Beijing, berdiri Urumqi, ibu kota Provinsi Xinjiang, kota yang terasa lebih dekat ke Samarkand daripada ke Shenzhen—sebuah kota kecil dengan nuansa budaya Timur Tengah yang sangat kental.
Urumqi bukan sekadar kota administratif. Ia adalah simpul penting di Jalur Sutra kuno dan gerbang menuju dunia Islam dan budaya Turkik di barat Tiongkok. Menyusuri jalan-jalan kota ini seperti menyusuri koridor peradaban lama yang bertemu dengan modernitas Asia Timur.
Contents
Wajah Etnis dan Arsitektur yang Berbeda
Yang paling mencolok saat pertama kali menginjakkan kaki di Urumqi adalah keragaman wajah manusianya. Tak seperti mayoritas etnis Han yang mendominasi kota-kota besar di Tiongkok, penduduk asli Urumqi sebagian besar adalah orang Uyghur, kelompok etnis Muslim Turki yang memiliki budaya, bahasa, dan tradisi yang sangat berbeda.
Para pria memakai kopiah bordir khas Turkestan, sedangkan perempuan mengenakan kerudung panjang dan baju longgar berwarna cerah. Di beberapa sudut kota, terdengar irama bahasa Uyghur yang lebih dekat ke Uzbek daripada Mandarin. Bau rempah-rempah seperti jintan dan kayu manis menyeruak dari warung makan yang menyajikan laghman (mi tarik khas Uyghur), kebab domba, dan nang (roti pipih ala Timur Tengah).
Gedung-gedung tua bergaya Moor dan pasar tradisional seperti Grand Bazaar Urumqi memperkuat kesan Timur Tengah. Di sana, pedagang menjajakan karpet Persia, perhiasan batu giok, kain bordir khas Asia Tengah, serta berbagai rempah yang sudah ratusan tahun diperdagangkan di jalur sutra.
Pusat Perdagangan Kuno yang Tetap Hidup
Letak Urumqi yang strategis menjadikannya kota penting dalam sejarah perdagangan dunia. Jalur Sutra yang menghubungkan Tiongkok dengan Persia, Arab, hingga Eropa menjadikan kota ini semacam oasis budaya dan ekonomi. Sekalipun jalur dagang kuno itu telah berganti menjadi jalur kereta cepat dan kargo udara, semangat kosmopolitan itu tetap terasa.
Kini, Urumqi menjadi titik penting dalam prakarsa “Belt and Road Initiative” yang diluncurkan oleh pemerintah Tiongkok. Dari sinilah barang-barang melintasi Asia Tengah menuju Eropa. Namun di tengah geliat pembangunan modern, jejak Timur Tengah masih kentara—baik dalam arsitektur, makanan, musik, hingga cara hidup masyarakatnya.
Religi dan Tradisi yang Mengakar
Urumqi juga dikenal sebagai pusat kebudayaan Islam di Tiongkok bagian barat. Masjid-masjid dengan menara tinggi dan kubah hijau berdiri di berbagai penjuru kota. Salah satu yang terkenal adalah Masjid Tuanjie, tempat yang dahulu selalu dipenuhi umat Muslim setiap Jumat, meski kini aktivitasnya lebih terbatas karena regulasi negara.
Tradisi keagamaan seperti puasa Ramadan, Idul Fitri, dan pengajian masih dijalankan—meski sering kali dalam ruang yang lebih privat. Banyak warga menjaga nilai-nilai Islam melalui lingkup keluarga, menjadikan rumah sebagai pusat spiritual di tengah pembatasan ruang publik.
Festival tradisional seperti Noruz (Tahun Baru Persia) juga dirayakan di kalangan komunitas Uyghur, mencerminkan akar budaya yang tak hanya Islam, tetapi juga Turkik dan Persia.
Realitas Sosial yang Kompleks
Namun di balik keunikan dan kekayaan budaya ini, Urumqi juga menyimpan sisi kompleks. Dalam beberapa tahun terakhir, kota ini menjadi pusat perhatian dunia akibat kebijakan ketat pemerintah terhadap etnis Uyghur. Kebebasan beragama dan budaya mengalami tekanan, dan dinamika sosial menjadi lebih sunyi daripada sebelumnya.
Meski begitu, denyut kehidupan tetap ada. Pasar tetap hidup, aroma kebab tetap menggoda, dan nada-nada musik tradisional Uyghur yang penuh semangat kadang terdengar dari toko-toko kecil di gang sempit. Para penjual tersenyum hangat kepada pelanggan, meski matanya menyimpan kehati-hatian.
Urumqi: Timur Tengah dalam Bingkai Tiongkok
Urumqi adalah bukti bahwa Tiongkok bukan satu warna. Kota ini adalah pertemuan antara budaya Islam, warisan Asia Tengah, dan sistem kenegaraan modern Tiongkok. Kota ini bagaikan potongan Timur Tengah yang dipindahkan ke daratan Tiongkok, di mana panggilan adzan dan musik dombra menyatu dengan pengumuman berbahasa Mandarin dari stasiun kereta.
Di kota ini, pertemuan budaya bukan hanya terjadi secara simbolik, tapi hidup dalam napas sehari-hari: dalam bahasa yang dituturkan, makanan yang dimasak, dan doa yang dipanjatkan.
Meski masa depan Urumqi penuh tantangan, kota ini tetap berdiri sebagai pengingat bahwa Asia adalah benua yang cair, bahwa identitas bisa berlapis dan sejarah tak selalu lurus. Di tengah perubahan zaman, Urumqi tetap menawarkan sesuatu yang langka: rasa Timur Tengah yang menyala di jantung Tiongkok. (ath)






