Perempuan dalam Arus Hilirisasi: Wajah Inklusif Pembangunan Era Prabowo

Peserta acara hilirisasi di Cilacap yang menunjukkan inklusivitas pekerja
Antusiasme peserta dalam acara peresmian hilirisasi yang melibatkan berbagai kalangan

DEAL GENDER | Pagi di kawasan kilang Refinery Unit IV Cilacap, Jawa Tengah, selalu dipenuhi irama industri yang tak pernah benar-benar berhenti. Deru mesin terdengar sejak matahari belum tinggi, kendaraan operasional keluar masuk area proyek, dan para pekerja bergerak cepat mengikuti ritme pekerjaan yang terus berjalan.

Di tengah suasana itulah, pada Rabu, 29 April 2026, Presiden Prabowo Subianto meresmikan dimulainya 13 proyek hilirisasi nasional tahap kedua dengan total investasi sekitar Rp116 triliun. Proyek tersebut meliputi sektor energi, mineral, dan pertanian—mulai dari pembangunan kilang gasoline di Dumai dan Cilacap, tangki operasional BBM di Papua dan Nusa Tenggara Timur, hingga pengembangan industri berbasis sawit, pala, kelapa, tembaga, dan baja.

Read More

Banyak pihak melihat proyek besar ini dari sisi angka investasi dan target pertumbuhan ekonomi nasional. Namun di balik pembangunan kilang, pabrik, dan kawasan industri itu, ada sisi lain yang sering terlewatkan: keterlibatan perempuan.

Mereka hadir bukan hanya sebagai bagian dari masyarakat sekitar, tetapi juga sebagai tenaga kerja, teknisi, analis laboratorium, pengawas mutu, staf keselamatan kerja, pelaku UMKM penunjang industri, hingga penopang ekonomi keluarga di sekitar proyek.

Selama ini, industri berat sering dianggap sebagai wilayah yang identik dengan laki-laki. Sektor pertambangan, pengolahan mineral, kilang minyak, dan industri baja kerap dipersepsikan sebagai ruang kerja yang keras, penuh risiko, dan membutuhkan kekuatan fisik tinggi. Namun perlahan, pandangan itu mulai berubah.

Di berbagai kawasan industri seperti Cilacap, Morowali, Gresik, hingga Sei Mangkei, semakin banyak perempuan mengambil posisi penting dalam rantai hilirisasi nasional. Mereka bekerja tidak hanya di balik meja administrasi, tetapi juga di ruang kontrol produksi, laboratorium kimia, bidang keselamatan kerja, logistik, hingga jabatan strategis di tingkat manajemen.

Hilirisasi ternyata bukan hanya tentang meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam, tetapi juga tentang mengubah wajah pembangunan agar lebih inklusif terhadap perempuan.

Presiden Prabowo dalam pidatonya menegaskan bahwa hilirisasi merupakan langkah utama menuju kemakmuran bangsa. Ia menekankan bahwa Indonesia tidak boleh terus menerus menjual hasil bumi dalam bentuk mentah, tetapi harus mampu mengolahnya sendiri agar manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh rakyat.

Pernyataan itu sesungguhnya juga memiliki makna besar bagi perempuan. Ketika industri berkembang di daerah, kesempatan kerja pun ikut terbuka. Ketika pabrik berdiri, ekonomi keluarga mulai bergerak lebih stabil. Saat rantai produksi diperkuat, perempuan lokal memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke sektor formal yang lebih terlindungi dibandingkan pekerjaan informal yang selama ini rentan.

Di Maluku Tengah, misalnya, proyek hilirisasi pala dan pengolahan kelapa tidak hanya berkaitan dengan ekspor komoditas, tetapi juga menyentuh kehidupan perempuan desa yang sejak lama menjadi penggerak utama hasil kebun keluarga. Dengan hadirnya industri pengolahan, mereka memiliki peluang untuk naik kelas dari pekerja tradisional menjadi bagian dari industri bernilai tambah.

Hal serupa juga terlihat di Sei Mangkei, Sumatera Utara, di mana hilirisasi sawit menuju biodiesel membuka kesempatan baru bagi perempuan yang selama ini bekerja di sektor pendukung perkebunan dan industri turunannya.

Di Morowali, kawasan industri nikel dan baja juga mulai memperlihatkan perubahan serupa. Perempuan tidak lagi hanya ditempatkan pada pekerjaan administratif, tetapi mulai masuk ke posisi teknis yang sebelumnya didominasi laki-laki. Meski demikian, perubahan ini tidak datang tanpa hambatan.

Banyak perempuan masih menghadapi tantangan besar seperti stereotip gender, terbatasnya akses terhadap pelatihan teknis, minimnya perlindungan kerja yang ramah perempuan, hingga beban ganda antara pekerjaan profesional dan tanggung jawab rumah tangga.

Dalam banyak situasi, perempuan masih harus bekerja lebih keras untuk membuktikan bahwa kompetensi tidak ditentukan oleh jenis kelamin.

Karena itu, hilirisasi yang ideal seharusnya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga pada keadilan sosial. Pembangunan industri harus memberikan ruang yang setara bagi perempuan—baik dalam pendidikan vokasi, peluang kepemimpinan, perlindungan tenaga kerja, maupun penguatan UMKM perempuan di sekitar kawasan industri.

Sebab pembangunan yang hanya mengejar investasi tanpa memperhatikan pemerataan manfaat akan kehilangan makna sosialnya. Perempuan adalah bagian penting dari keberhasilan proyek nasional ini. Mereka bukan sekadar pelengkap dalam narasi pembangunan, melainkan aktor nyata yang selama ini bekerja dalam diam.

Di balik berdirinya kilang baru, pabrik baja, dan fasilitas pengolahan hasil pertanian, ada perempuan-perempuan yang menjaga agar roda ekonomi keluarga tetap berputar. Ada ibu yang bekerja seharian lalu pulang tetap menjalankan peran di rumah. Ada perempuan muda yang memilih belajar teknik karena percaya bahwa masa depan industri juga menjadi hak mereka.

Mungkin mereka tidak berdiri di panggung utama saat peresmian proyek bersama presiden. Nama mereka mungkin tidak masuk dalam angka investasi triliunan rupiah. Namun tanpa kontribusi mereka, hilirisasi tidak akan benar-benar memiliki makna.

Di Cilacap hari itu, pidato presiden berpadu dengan suara mesin dan langkah para pekerja. Dari sana muncul satu kesadaran penting: masa depan ekonomi Indonesia tidak hanya dibangun oleh tambang, kilang, dan pabrik.

Tetapi juga oleh perempuan yang berdiri kokoh di dalamnya. Jika hilirisasi adalah jalan menuju kebangkitan nasional, maka perempuan adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan itu. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts