DEAL ZIQWAF | Suara anak-anak terdengar lirih di antara deru kendaraan bantuan dan tenda-tenda pengungsian yang berdiri rapat di halaman sekolah dasar yang retak. Tiga hari pascagempa dahsyat yang mengguncang Bengkulu, Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, tiba langsung di lokasi terdampak, tak sekadar membawa paket bantuan—tetapi juga membawa penguatan moral dan kepastian negara hadir.
Di hadapan ratusan pengungsi yang duduk di tikar plastik, sebagian masih dalam pakaian seadanya, Gibran berdiri dengan jaket cokelat khas lapangan. Suara mikrofon terdengar tegas namun bersahaja.
“Saya datang bukan hanya membawa bantuan, tapi memastikan Bapak Ibu semua tahu: Negara tidak pernah meninggalkan rakyatnya. Kita akan bangkit bersama.”
Contents
Arahan Strategis di Tengah Krisis
Dalam kunjungan kerja yang berlangsung selama dua hari, Wakil Presiden Gibran menyampaikan tiga arahan strategis yang menjadi panduan bagi jajaran pemerintah pusat dan daerah dalam menangani bencana gempa Bengkulu:
- Prioritaskan Pemulihan Hunian dan Layanan Dasar
Gibran menekankan pentingnya kecepatan dalam membangun hunian sementara dan memperbaiki akses air bersih, listrik, serta layanan kesehatan dasar.
“Jangan biarkan pengungsi berlama-lama di tenda. Kita harus bergerak cepat memastikan tempat tinggal yang layak, terutama bagi anak-anak dan lansia.”
- Perkuat Distribusi Logistik Secara Adil dan Terbuka
Menyikapi keluhan soal distribusi bantuan yang tidak merata, Gibran meminta kepala daerah dan relawan memastikan tidak ada kecemburuan sosial dan menekankan transparansi distribusi.
“Kalau ada yang main-main dengan logistik bencana, saya minta segera laporkan. Kita butuh kepercayaan dan keadilan di masa-masa sulit seperti ini.”
- Pendidikan Anak Tidak Boleh Terputus
Dalam dialog dengan guru dan kepala sekolah setempat, Wapres menekankan pentingnya menjaga akses pendidikan bagi anak-anak pengungsi, termasuk dengan mendirikan sekolah darurat dan penyediaan perlengkapan belajar.
“Kita kehilangan rumah bisa dibangun ulang. Tapi jika anak-anak kehilangan harapan dan pendidikan, itu kerugian jangka panjang yang tak ternilai.”
Sentuhan Empati di Tengah Derita
Kunjungan Gibran tidak hanya berisi pengarahan teknis. Ia menyempatkan diri berdialog langsung dengan pengungsi, mencicipi makanan dari dapur umum, serta menggendong anak-anak yang trauma. Salah satu momen menyentuh terjadi ketika seorang ibu muda menangis menceritakan kehilangan anggota keluarganya.
“Sabar ya, Bu. Kami akan bantu semua proses evakuasi dan pemulihan. Yang penting sekarang Ibu dan anak-anak aman dulu,” ujar Gibran, seraya menggenggam tangan warga tersebut.
Dalam suasana yang penuh keterbatasan, kehadiran Wapres muda itu membawa nafas baru di tengah duka, menyampaikan bahwa pemulihan bukan sekadar soal infrastruktur—tapi juga tentang rasa aman, kepercayaan, dan perhatian nyata dari negara.
Koordinasi Lintas Lembaga Dipercepat
Gibran juga menggelar rapat koordinasi terbatas bersama BNPB, Kementerian Sosial, TNI, dan pemerintah daerah. Ia meminta semua pemangku kepentingan mengesampingkan ego sektoral dan fokus pada pemulihan berbasis kebutuhan masyarakat.
“Pemerintah pusat akan menambah alokasi anggaran bencana, tapi daerah harus proaktif menyampaikan data valid dan menyusun rencana aksi yang konkret,” tegasnya.
Dari Retakan Tanah Menuju Pemulihan
Arahan Wapres Gibran bukan sekadar kata-kata di tengah bencana. Di Bengkulu, ia menjadi perpanjangan suara negara—yang tidak hanya mengirim logistik dari kejauhan, tetapi datang langsung ke titik luka. Dengan kombinasi ketegasan dan empati, Gibran menegaskan bahwa kebangkitan bukan hanya tugas pemerintah, tapi tanggung jawab bersama, yang dipimpin oleh kehadiran nyata pemimpin.
Ketika malam tiba dan hujan rintik menyapa tenda-tenda darurat, suara anak-anak mulai terdengar kembali, pelan tapi pasti. Di tengah luka, harapan mulai tumbuh. (ath)






