DEAL ZIQWAF | Langit Makkah masih gelap ketika langkah-langkah kecil mulai terdengar di lorong-lorong hotel tempat jamaah haji Indonesia menginap. Sebagian membawa tas kecil berisi sajadah, sebagian lagi menggenggam botol air zamzam kosong yang akan diisi setelah pulang dari Masjidil Haram. Wajah-wajah lelah bercampur haru, tetapi mata mereka menyimpan cahaya yang berbeda—cahaya orang-orang yang merasa doanya akhirnya sampai di tempat yang selama puluhan tahun hanya mereka lihat dari televisi dan kalender dinding rumah.
Bagi jutaan Muslim Indonesia, berangkat ke Tanah Suci bukan sekadar perjalanan ibadah, melainkan perjalanan hidup. Ada yang menabung belasan tahun dari hasil berdagang kecil di pasar, ada petani yang menyisihkan hasil panen sedikit demi sedikit, ada pensiunan guru yang menunggu antrean haji sejak anaknya masih sekolah dasar. Ketika akhirnya kaki benar-benar menginjak Makkah dan Madinah, perjalanan itu terasa seperti jawaban atas kesabaran yang panjang.
Di pelataran Masjidil Haram, lautan manusia bergerak tanpa putus. Jamaah dari berbagai negara berjalan dengan bahasa yang berbeda, tetapi tujuan mereka sama: mendekat kepada Allah. Di antara ribuan wajah itu, rombongan Indonesia mudah dikenali—seragam batik haji, syal penanda kloter, dan kebiasaan saling menjaga satu sama lain. Ada yang menggandeng tangan lansia, ada yang membantu mendorong kursi roda, ada pula yang sibuk memastikan seluruh anggota rombongan tidak tertinggal.
Ketika azan berkumandang, suasana seolah berhenti sejenak. Burung-burung merendah, langkah kaki melambat, dan jutaan hati serentak menuju satu arah. Di depan Kaaba, banyak jamaah Indonesia tidak mampu menahan air mata. Sebagian menangis diam-diam, sebagian berdoa dengan suara lirih, sebagian hanya memandang tanpa kata. Semua seperti menemukan bahasa paling jujur antara manusia dan Tuhannya.
Di sela-sela ibadah, cerita-cerita kecil terus hidup. Seorang ibu asal Sumatera Utara yang sudah menunggu 18 tahun untuk berangkat haji mengaku tidak bisa tidur pada malam pertama melihat Ka’bah. Ia hanya duduk lama di pelataran masjid, memandangi bangunan suci itu sambil menangis. Baginya, semua rasa lelah selama bertahun-tahun seolah lunas dalam satu malam.
Sementara di Masjid Nabawi, suasananya berbeda. Jika Makkah terasa penuh getaran perjuangan, Madinah menghadirkan ketenangan yang lembut. Kota Nabi itu seperti menyambut setiap langkah dengan damai. Jamaah Indonesia berjalan lebih pelan, menikmati udara pagi, menyapa sesama peziarah, dan menahan haru ketika akhirnya bisa mengucapkan salam di dekat makam Rasulullah SAW.
Di Raudhah, tempat yang sering disebut sebagai taman surga, antrean panjang menjadi ujian kesabaran berikutnya. Jamaah menunggu berjam-jam demi beberapa menit kesempatan berdoa. Tidak ada yang mengeluh. Semua memahami bahwa perjalanan spiritual memang selalu meminta kesabaran sebagai syarat utama.
Petugas haji Indonesia bekerja hampir tanpa henti. Mereka membantu jamaah tersesat, mengatur transportasi, memastikan obat-obatan tersedia, hingga menenangkan jamaah lansia yang kelelahan. Dalam setiap musim haji, wajah pelayanan ini jarang terlihat oleh publik, tetapi menjadi penopang penting agar ibadah berjalan lancar.
Di hotel-hotel sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, suasana Indonesia terasa kuat. Ada aroma sambal dari dapur katering, suara logat Jawa, Bugis, Batak, dan Sunda di lorong-lorong, hingga kebiasaan saling berbagi makanan antarjamaah. Tanah Suci terasa jauh dari rumah, tetapi orang-orang Indonesia selalu menemukan cara untuk membawa sedikit rasa rumah ke sana.
Menjelang puncak haji di Arafah, suasana batin jamaah biasanya berubah semakin dalam. Mereka mulai lebih banyak diam, lebih banyak berzikir, dan lebih sering memandangi langit. Wukuf di Arafah bukan hanya ritual, tetapi puncak perenungan hidup. Banyak jamaah menganggap momen itu seperti berdiri di hadapan pengadilan terakhir, membawa seluruh dosa, harapan, dan penyesalan hidup.
Di tengah panas gurun dan padatnya jutaan manusia, haji sesungguhnya mengajarkan sesuatu yang sangat sederhana: manusia pada akhirnya sama. Tidak ada jabatan, tidak ada gelar, tidak ada kemewahan yang berarti ketika semua mengenakan ihram putih dan berdiri di hadapan Tuhan.
Melihat jamaah haji Indonesia di Makkah dan Madinah adalah melihat potret ketulusan yang jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka datang bukan untuk liburan, bukan untuk gengsi sosial, tetapi untuk satu tujuan yang sangat pribadi: pulang sebagai manusia yang lebih bersih.
Ketika nanti mereka kembali ke Indonesia membawa oleh-oleh kurma, air zamzam, dan sajadah baru, sesungguhnya yang paling berharga bukan itu. Yang paling mahal adalah pengalaman batin yang tak bisa dibungkus koper—rasa bahwa mereka pernah berdiri sangat dekat dengan doa-doa yang selama ini hanya dipanjatkan dari jauh. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G






