DEAL EKBIS | Di tengah kesunyian khas Bandar Seri Begawan yang dijaga dari hiruk pikuk kota-kota besar dunia, taman-taman terbuka hijau tumbuh menjadi lebih dari sekadar paru-paru kota. Mereka menjelma sebagai ruang hidup, ruang interaksi, dan kini—ruang ekonomi baru yang menjanjikan.
Bandar Seri Begawan, ibu kota Brunei Darussalam yang kecil namun tertata rapi, mulai menyadari bahwa investasi pada ruang hijau bukan hanya untuk keindahan dan kenyamanan, tetapi juga membuka potensi pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Contents
Taman sebagai Pusat Aktivitas Ekonomi Mikro
Sebut saja Taman Mahkota Jubli Emas, yang membentang elegan di tepi Sungai Brunei. Setiap sore hingga malam, taman ini dipenuhi warga dari berbagai kalangan: anak-anak bermain, keluarga berpiknik, dan pegiat olahraga berlari di jogging track.
Namun yang menarik perhatian adalah geliat ekonomi mikro di sekelilingnya. Di titik-titik strategis, gerai UMKM menjual makanan lokal, minuman herbal, produk kerajinan tangan, hingga jasa penyewaan sepeda. Di akhir pekan, omzet penjual makanan bisa menembus BND 500 per malam—angka yang cukup besar bagi pelaku usaha kecil di Brunei.
“Dulu saya hanya menjual kue di rumah. Sekarang saya bisa buka lapak di taman ini dan pelanggan saya bertambah banyak,” ujar Hajah Lailah, pedagang makanan tradisional yang rutin berjualan di dekat taman.
Sektor Jasa dan Kreatif Ikut Berkembang
Tidak hanya makanan. Fotografer lepas, pemandu komunitas wisata kota, hingga pelukis jalanan menjadikan taman sebagai panggung usaha. Aktivitas seperti yoga massal, konser akustik, dan bazar kerajinan kini rutin digelar di berbagai taman kota, termasuk di Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien dan Eco-Corridor yang menghubungkan pusat kota dengan pinggiran sungai.
Menurut data dari Kementerian Pembangunan Brunei, dalam tiga tahun terakhir, ada peningkatan 27% pengajuan izin usaha temporer di wilayah taman terbuka. Ini menunjukkan bahwa taman bukan hanya ruang rekreasi, tetapi juga ruang bisnis.
Ekowisata Kota dan Efek Multiplikatif
Brunei memang dikenal sebagai negara yang mengutamakan konservasi. Dengan luas wilayah kecil dan populasi hanya sekitar 450.000 jiwa, pemerintahnya memilih strategi pertumbuhan ekonomi yang tidak destruktif. Salah satunya: mengintegrasikan taman kota dengan ekowisata.
Kampong Ayer, pemukiman air ikonik di Bandar Seri Begawan, kini terhubung dengan taman dan jalur pedestrian yang memikat wisatawan. Ini menciptakan efek domino pada industri sekitarnya—penginapan kecil, kafe, dan toko suvenir mendapatkan limpahan pengunjung dari wisata taman.
“Konsep taman hijau terhubung ini membuat wisatawan tinggal lebih lama, dan itu artinya mereka belanja lebih banyak,” kata Mohd Rahman, pemilik rumah tamu dekat Eco-Corridor.
Investasi Hijau, Keuntungan Jangka Panjang
Pemerintah Brunei menaruh perhatian besar pada pengembangan “Green Economy” yang ramah lingkungan. Pembangunan taman kini dilihat sebagai investasi jangka panjang untuk mengurangi biaya kesehatan (karena meningkatkan kualitas udara dan kesehatan mental), meningkatkan kualitas hidup, dan menciptakan lapangan kerja hijau.
Dalam APBN Brunei 2024, dialokasikan sekitar BND 35 juta untuk pemeliharaan dan pengembangan taman serta fasilitas publik yang berkelanjutan. Taman juga menjadi ladang kerja bagi para lanskap arsitek, petugas kebersihan, hingga komunitas penggiat urban farming.
Tantangan: Antara Estetika dan Efisiensi Ekonomi
Namun tak semua berjalan mulus. Beberapa taman cenderung “cantik tapi sepi” karena tidak memiliki aktivitas yang mendatangkan ekonomi. Kurangnya kolaborasi antara pelaku usaha dan pengelola taman juga masih menjadi kendala.
Pakar tata kota dari Universiti Brunei Darussalam, Dr. Nur Adilah, mengingatkan bahwa taman harus didesain bukan hanya sebagai ruang hijau, tetapi sebagai ruang hidup yang dinamis. “Jika dikelola secara cerdas, taman dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi lokal yang sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan,” katanya.
Taman kini bukan hanya tempat bersantai. Ia adalah medan usaha, tempat pertumbuhan ekonomi kecil, dan simbol dari kota yang ingin tumbuh tanpa kehilangan jiwanya. Dalam heningnya jalanan Bandar Seri Begawan, taman-taman itu berbisik: bahwa hijau tidak hanya menyegarkan mata, tapi juga menghidupi. (ath)








