DEAL ZIQWAF | Sebuah kawasan yang dulunya hanya hamparan hutan Kalimantan Timur, kini berdiri kantor-kantor yang dibangun dari semangat dan cita-cita besar. Di sinilah, ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) datang dan bekerja—bukan hanya untuk menggugurkan kewajiban, tetapi dengan keikhlasan yang tak tampak di atas laporan absensi.
ASN di Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menjalankan tugas bukan di tengah gemerlap gedung-gedung metropolitan, tapi di tengah suara jangkrik malam, jalanan yang masih berdebu, dan fasilitas publik yang masih dibangun secara bertahap. Namun dari sinilah, Indonesia sedang menanam masa depannya.
Contents
Meninggalkan Kenyamanan, Mengabdi dengan Hati
“Dulu saya kerja di Kementerian di Jakarta. Semua serba nyaman. Tapi ketika ditugaskan ke IKN, saya tahu ini bukan soal fasilitas—ini soal misi,” ujar Eko Prasetyo, ASN muda yang kini menjabat sebagai analis kebijakan di salah satu unit Otorita IKN.
Ia datang bersama istrinya dan dua anak kecil, tinggal di rumah dinas sementara. Jaringan internet kadang tak stabil, warung belum banyak, dan sekolah masih terbatas. Tapi Eko tidak mengeluh. “Kami memilih ikhlas, karena kami tahu ini bukan pekerjaan biasa. Kami sedang ikut menulis sejarah,” katanya.
Bangun Pagi, Iringi Langit Nusantara
Rutinitas ASN di IKN dimulai sejak pagi buta. Banyak dari mereka menempuh perjalanan hingga 45 menit dari hunian ke kantor. Tidak ada kemacetan seperti Jakarta, tapi justru ada ketenangan yang tak biasa. Langit Kalimantan yang jernih dan udara yang bersih menjadi teman kerja mereka setiap hari.
Menurut Lestari Handayani, seorang ASN senior di bidang pengelolaan lahan dan lingkungan, tantangan justru menghidupkan semangat kerja. “Saya tahu mungkin kami belum punya semua fasilitas, tapi kami punya semangat membangun negeri dari titik nol.”
Bekerja dengan Nilai, Bukan Sekadar Tugas
Pimpinan Otorita IKN kerap menekankan bahwa kerja ASN di sini bukan hanya administratif, tetapi juga ideologis—menanamkan nilai keberlanjutan, inklusivitas, dan keberpihakan pada lingkungan serta masyarakat lokal.
“Saya merasa diberi kepercayaan luar biasa. Ini bukan soal gaji, ini tentang makna. Kami belajar ikhlas. Karena kami tahu, buah kerja kami mungkin baru akan dinikmati generasi berikutnya,” ujar Lestari sambil menatap denah perencanaan IKN yang dipajang di kantornya.
Keikhlasan yang Menular
Semangat ikhlas ini tak hanya dirasakan oleh para ASN sendiri, tapi juga oleh warga lokal. Banyak warga sekitar yang melihat kehadiran para ASN sebagai simbol negara yang hadir, bukan dari atas, tapi dari dekat. Mereka bukan datang dengan mobil mewah, tapi dengan tangan terbuka.
“Saya lihat mereka sama seperti kami. Makan di warung yang sama, belanja di pasar yang sama. Itu membuat kami merasa dilibatkan,” tutur Pak Nurdin, tokoh adat dari Sepaku.
Keikhlasan ASN bekerja di Otorita IKN adalah fondasi tak kasat mata dari pembangunan ibu kota baru ini. Mereka tak selalu mendapat sorotan kamera, tak selalu viral di media sosial, namun mereka hadir—dengan tekad, kesetiaan, dan kesabaran. Mereka membangun bukan hanya gedung, tetapi jiwa dari sebuah peradaban baru.
Dan kelak, ketika generasi masa depan melintasi jalan-jalan di IKN yang megah, mereka akan menapaki tanah yang dibangun dari keikhlasan para pelayan negara—yang pernah memilih kerja di tengah sunyi, demi Indonesia yang lebih berdikari. (ath)






