Lukisan karya Raden Saleh tahun 1857 bukan sekadar rekaman penangkapan Diponegoro. Komposisi, gestur tokoh dan posisi visualnya memberi pembacaan kritis terhadap kolonialisme dan cara sejarah ditulis.
DEAL PROFIL | Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh merupakan salah satu lukisan sejarah paling penting dalam seni Indonesia. Dibuat pada 1857 dengan cat minyak di atas kanvas berukuran sekitar 112 × 179 cm, karya tersebut menggambarkan penangkapan Diponegoro pada 28 Maret 1830 setelah perundingan di Magelang berakhir dengan penahanan sang pangeran oleh pihak Belanda.
Peristiwa itu menjadi penutup penting Perang Jawa 1825–1830. Diponegoro datang untuk melakukan perundingan, tetapi ditangkap dan kemudian diasingkan ke Makassar. Raden Saleh, yang hidup dalam lingkungan seni Eropa dan Jawa, tidak sekadar mengulang dokumentasi kolonial. Ia menyusun kembali adegan tersebut dengan menempatkan Diponegoro sebagai pusat perhatian.
Di dalam lukisan, Diponegoro tampil mengenakan pakaian putih dan sorban hijau. Sikap tubuhnya terlihat tegas, sementara para pejabat dan tentara Belanda mengelilinginya. Kereta yang terlihat di sekitar adegan mengisyaratkan perjalanan menuju pengasingan. Sejumlah pengikut Diponegoro digambarkan menunduk atau berlutut, memperkuat suasana kekalahan dan tekanan.
Salah satu aspek yang membuat karya ini menarik adalah kehadiran Raden Saleh sendiri. Kajian seni mencatat sang pelukis menyisipkan dirinya dalam beberapa figur pengikut Diponegoro. Keputusan tersebut memberi lapisan personal: pelukis tidak berdiri sepenuhnya di luar sejarah yang ia gambarkan.
Lukisan itu pernah berada dalam koleksi kerajaan Belanda dan kemudian dikembalikan kepada Indonesia pada 1978. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkannya sebagai cagar budaya peringkat nasional pada 2018. Kini karya tersebut menjadi bagian penting dari koleksi kepresidenan dan memori budaya Indonesia.
Nilai terbesar lukisan ini terletak pada kemampuannya mempertemukan seni, politik dan sejarah. Raden Saleh menggunakan bahasa lukisan Eropa untuk menyampaikan perspektif yang tidak sepenuhnya tunduk pada narasi kolonial. Karena itu, karya tersebut tetap relevan dibaca bukan hanya sebagai gambar penangkapan seorang pangeran, tetapi sebagai pernyataan mengenai martabat, kekuasaan dan ingatan sejarah. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel






