DEAL FOKUS | Kereta api di New Delhi berjalan seperti ingatan yang menolak dilupakan. Deru roda besi, gerbong yang dipenuhi manusia, pengumuman keberangkatan yang bersahutan, serta arus penumpang yang tak pernah benar-benar berhenti menghadirkan sebuah pemandangan yang kontras dengan citra India sebagai negara teknologi yang sedang melaju menuju masa depan.
New Delhi Railway Station sendiri memiliki akar dari masa kolonial. Fasilitas kereta di kawasan tersebut mulai dibangun pada 1926, ketika New Delhi sedang dibentuk sebagai ibu kota kekaisaran Inggris, dan stasiun itu kemudian menjadi bagian penting dari kota baru yang diresmikan pada 1931.
Kereta api India menyimpan sejarah yang bahkan lebih tua daripada stasiun New Delhi. Delhi Junction, yang lazim disebut Old Delhi Railway Station, memiliki sejarah sejak 1860-an dan bangunan yang berdiri sekarang dibuka pada 1903. Pemerintah India melalui National Mission on Monuments and Antiquities mencatat Old Delhi Railway Station sebagai warisan bangunan bergaya kolonial dan menyebutnya sebagai salah satu stasiun yang dibangun Inggris di India.
Old Delhi Railway Station memperlihatkan bagaimana kekuasaan kolonial pernah menanamkan infrastruktur ke jantung kota. Bangunan berwarna merah dengan menara dan bentuk yang mengingatkan pada benteng bukan sekadar tempat kereta berhenti. Bangunan itu berdiri dekat kawasan Chandni Chowk dan Red Fort, mempertemukan sejarah Mughal dengan teknologi transportasi yang dibawa dan dikembangkan pada masa pemerintahan Inggris.
Penumpang hari ini memberikan makna yang berbeda terhadap peninggalan tersebut. Mereka tidak datang untuk mengenang Inggris. Mereka datang karena kereta adalah kebutuhan sehari-hari: untuk bekerja, pulang kampung, berdagang, bersekolah, mengunjungi keluarga, atau mengejar kesempatan ekonomi di kota lain.
India bahkan menunjukkan paradoks besar melalui jaringan keretanya. Indian Railways menyebut jaringan nasionalnya sebagai salah satu jaringan kereta terbesar di dunia dan mencatat sekitar 23 juta penumpang per hari dalam laporan yang diterbitkannya.
Kereta yang tampak tua tidak otomatis kehilangan fungsi. Gerbong yang mungkin terlihat sederhana bagi mata wisatawan justru menjadi ruang bergerak bagi jutaan manusia. Kursi, pintu, jendela, lorong, dan pegangan tangan menjadi bagian dari rutinitas sosial yang berlangsung setiap hari dalam skala luar biasa besar.
New Delhi memperlihatkan wajah India yang tidak selalu masuk dalam brosur tentang teknologi, gedung pencakar langit, dan kereta semi-cepat. Kota ini memperlihatkan bahwa modernitas tidak selalu datang secara seragam. Sebagian jaringan transportasi berkembang dengan teknologi baru, sementara sebagian lainnya tetap beroperasi dengan bentuk dan pengalaman perjalanan yang terasa jauh lebih tua.
Indian Railways sendiri sebenarnya sedang bergerak menuju modernisasi. Kehadiran Vande Bharat, misalnya, menjadi simbol perubahan tersebut. Kereta semi-cepat itu dirancang dan diproduksi di India serta membawa fitur yang lebih modern, termasuk peningkatan kenyamanan dan kecepatan.
Namun modernisasi tidak serta-merta menghapus wajah lama. New Delhi Railway Station masih menghadapi persoalan kepadatan dan kekacauan arus manusia. Laporan New Indian Express pada Januari 2026 menggambarkan stasiun tersebut sebagai simpul yang sangat sibuk, dengan 16 peron dan 18 jalur yang menghadirkan tantangan besar dalam pengelolaan penumpang. Pemerintah pun kembali mendorong rencana pembangunan dan penataan ulang stasiun.
Old Delhi Station menghadapi cerita yang berbeda. Pemerintah dan otoritas perkeretaapian melihat perlunya mempertahankan karakter sejarah bangunan tersebut sembari meningkatkan fungsinya. Hindustan Times melaporkan pada 2026 bahwa ada upaya untuk memberikan perhatian lebih besar terhadap pelestarian stasiun tua tersebut di tengah pembangunan fasilitas kereta yang lebih modern di Delhi.
Kereta tua akhirnya tidak bisa semata-mata dinilai dari usia gerbong atau kemilau fasilitasnya. Nilai sebuah kereta juga terletak pada kemampuannya membawa manusia dalam jumlah besar dari satu tempat ke tempat lain dengan biaya yang dapat dijangkau.
Penumpang Delhi memahami kenyataan itu dengan cara yang sederhana. Mereka naik, duduk, berdiri, tidur, berbicara, makan, membaca, kemudian turun ketika perjalanan berakhir. Kereta bagi mereka bukan museum yang bergerak, melainkan bagian dari kehidupan.
Delhi karena itu menyimpan ironi yang menarik. Kota yang berdiri sebagai pusat pemerintahan India modern masih memperlihatkan rel dan stasiun yang membawa jejak masa kolonial. India di satu sisi mengembangkan kereta semi-cepat dan teknologi transportasi baru, tetapi di sisi lain jutaan orang tetap bergantung pada sistem kereta konvensional yang telah menjadi tulang punggung mobilitas selama beberapa generasi.
Kereta tua itu tetap laku keras bukan karena nostalgia terhadap Inggris. Kereta itu bertahan karena kebutuhan manusia jauh lebih kuat daripada perubahan zaman.
Rel yang dibangun pada masa kolonial akhirnya memperoleh kehidupan baru setelah kemerdekaan. Gerbong yang dahulu menjadi bagian dari proyek kekuasaan imperial kini membawa rakyat India sendiri—pekerja, pedagang, mahasiswa, keluarga, wisatawan, dan jutaan warga yang setiap hari bergerak mencari kehidupan.
Kereta itu mungkin belum sepenuhnya modern. Tetapi selama peron masih dipenuhi manusia dan suara roda besi masih terdengar meninggalkan stasiun, kereta tersebut belum kehilangan masa depannya. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel









