Panduan Pejalan Kaki di New Delhi: Bertahan di Tengah Hiruk-Pikuk Lalu Lintas

Kesibukan jalan raya di New Delhi yang dipenuhi oleh pergerakan sepeda motor, kendaraan roda tiga, dan gerobak pedagang, menunjukkan menyempitnya ruang bebas pejalan kaki
Kondisi jalanan New Delhi yang bising dan padat di mana para pejalan kaki sering kali harus berbagi ruang secara langsung dengan kendaraan bermotor dan aktivitas pedagang kaki lima

DEAL PARALEGAL | Pejalan kaki di New Delhi belajar satu hal sejak langkah pertama menyusuri jalanan ibu kota India: berjalan kaki di kota ini mungkin tidak selalu nyaman, tetapi ketidaknyamanan tidak otomatis berarti perjalanan harus berakhir dengan rasa takut.

Pejalan kaki akan berhadapan dengan lalu lintas yang padat, suara klakson yang datang silih berganti, kendaraan yang bergerak rapat, trotoar yang tidak selalu utuh, serta berbagai aktivitas kota yang mengambil ruang di sisi jalan. Situasi tersebut membuat berjalan kaki di New Delhi membutuhkan perhatian lebih dibandingkan sekadar mengikuti trotoar dari satu titik ke titik lain.

Read More

Kota New Delhi memiliki karakter jalan yang sangat berbeda dari kota-kota yang sejak awal dirancang dengan orientasi kuat kepada pejalan kaki. Sejumlah kajian mengenai lingkungan pedestrian Delhi bahkan menggambarkan kondisi berjalan kaki sebagai sangat tidak bersahabat, terutama karena persoalan infrastruktur, lebar trotoar, perilaku lalu lintas, dan fasilitas penyeberangan.

Pejalan kaki sering kali harus menyesuaikan diri dengan ritme kota. Trotoar yang seharusnya menjadi ruang eksklusif pejalan kaki dapat berhadapan dengan kendaraan yang parkir, pedagang, aktivitas komersial, atau bahkan sepeda motor yang menggunakan ruang tersebut untuk menghindari kepadatan lalu lintas. Fenomena sepeda motor menggunakan trotoar sebagai jalur alternatif juga masih menjadi sorotan di Delhi pada 2026.

Jalanan New Delhi karena itu menghadirkan paradoks. Kota ini bukan tempat yang membuat setiap langkah pejalan kaki otomatis menjadi ancaman, tetapi kota ini juga belum dapat disebut sebagai kota yang nyaman untuk berjalan kaki.

Pejalan kaki yang memahami pola lalu lintas dan memilih jalur dengan hati-hati tetap dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Pemerintah dan kepolisian Delhi sendiri memberikan panduan agar pejalan kaki menggunakan trotoar, menyeberang melalui zebra cross, lampu lalu lintas, subway, atau jembatan penyeberangan apabila tersedia.

Trotoar menjadi persoalan terbesar dalam cerita tentang kenyamanan berjalan kaki di Delhi. Audit terhadap jalan yang dikelola Delhi Public Works Department menemukan bahwa hanya sekitar 25 persen trotoar yang dinilai layak digunakan, sementara 84 persen tidak memenuhi lebar yang dipersyaratkan standar Indian Roads Congress.

Angka tersebut menjelaskan mengapa pengalaman berjalan kaki di New Delhi bisa terasa melelahkan. Persoalannya bukan semata-mata jumlah kendaraan, melainkan ruang yang seharusnya memberikan rasa nyaman kepada manusia yang berjalan kaki.

Pejalan kaki akhirnya harus menjadi pengamat sekaligus pengambil keputusan. Ketika trotoar terputus, seseorang harus menentukan apakah tetap berada di sisi jalan, mencari jalur alternatif, atau menunggu kesempatan untuk melewati bagian yang padat. Ketika hendak menyeberang, seseorang harus membaca gerak kendaraan sebelum mengambil langkah.

Kondisi tersebut tidak berarti semua jalan New Delhi berbahaya. Tingkat risiko sangat bergantung pada lokasi, waktu, kepadatan lalu lintas, kualitas infrastruktur, dan perilaku pengguna jalan. Penelitian mengenai persepsi keselamatan pedestrian di Delhi menunjukkan bahwa sejumlah karakteristik lingkungan—termasuk jumlah lajur, lebar trotoar, kecepatan dan volume kendaraan—berpengaruh terhadap persepsi risiko pejalan kaki.

Kota ini juga sedang bergerak memperbaiki infrastrukturnya. Pada pertengahan 2026, Municipal Corporation of Delhi melaporkan sekitar 74 persen target pembangunan kembali jalan internal telah diselesaikan, meskipun sejumlah warga masih mengeluhkan ruas jalan yang belum tersentuh perbaikan.

Pemerintah Delhi juga terus menghadapi persoalan lebih luas mengenai bagaimana ruang jalan dibagi antara kendaraan dan manusia. Para ahli keselamatan jalan di India berulang kali menyoroti pentingnya perencanaan yang menempatkan pejalan kaki sebagai bagian utama dari sistem transportasi, bukan sekadar pengguna jalan yang harus menyesuaikan diri dengan kendaraan.

Pejalan kaki di New Delhi dengan demikian bukan sedang memasuki sebuah medan yang harus ditakuti, melainkan sebuah ruang urban yang menuntut kewaspadaan.

Klakson yang keras tidak selalu berarti kendaraan akan menerjang. Kepadatan kendaraan tidak selalu berarti tidak ada ruang untuk menyeberang. Trotoar yang tidak sempurna tidak selalu membuat perjalanan mustahil. Namun semuanya menuntut kemampuan membaca situasi.

Warga lokal telah lama hidup dengan ritme tersebut. Mereka berjalan, menyeberang, berhenti, menunggu, kemudian kembali bergerak. Bagi pendatang, pola itu pada awalnya dapat terasa membingungkan. Setelah beberapa saat, pola lalu lintas mulai terbaca sebagai sebuah bahasa kota—bahasa yang tidak tertulis tetapi dipahami melalui kebiasaan.

New Delhi juga memperlihatkan bahwa keamanan jalan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan marka, trotoar, lampu lalu lintas atau jembatan penyeberangan. Keselamatan merupakan pertemuan antara desain kota, penegakan aturan, perilaku pengemudi dan kemampuan pejalan kaki mengambil keputusan.

Pemerintah sendiri mengakui pentingnya ruang berjalan yang layak. Dokumen kebijakan Delhi Development Authority sebelumnya mencatat persoalan lemahnya penegakan aturan terhadap ruang pedestrian, penggunaan trotoar oleh kendaraan bermotor, parkir di ruang pejalan kaki, serta masih adanya ruas jalan tanpa trotoar. (DDA)

Jalanan New Delhi akhirnya menghadirkan potret sebuah kota besar yang sedang bernegosiasi dengan pertumbuhan mobilitasnya sendiri. Kendaraan membutuhkan ruang. Pedagang membutuhkan ruang. Parkir membutuhkan ruang. Pejalan kaki pun membutuhkan ruang.

Pejalan kaki sering menjadi pihak yang paling mudah kehilangan ruang ketika semua kepentingan tersebut bertemu.

Namun pejalan kaki juga menjadi bagian paling nyata dari denyut kehidupan kota. Mereka bukan sekadar orang yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka adalah warga yang pergi bekerja, membeli makanan, menuju stasiun, mengunjungi pasar, bertemu keluarga, atau sekadar menikmati suasana jalan.

New Delhi mungkin belum menawarkan pengalaman berjalan kaki yang mulus, teduh, tenang, dan sepenuhnya nyaman. Kota ini masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam menyediakan trotoar yang kontinu, aman, mudah diakses, dan bebas hambatan.

Tetapi kota ini juga menunjukkan sesuatu yang lebih sederhana: berjalan kaki tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Pejalan kaki yang datang ke New Delhi sebaiknya tidak melihat jalanan kota sebagai ruang yang harus ditakuti, melainkan ruang yang harus dipahami. Kewaspadaan, pemilihan jalur, penggunaan fasilitas penyeberangan, dan kemampuan membaca lalu lintas menjadi kunci.

New Delhi adalah kota yang membuat pejalan kaki belajar bertahan dalam ketidaknyamanan—sebuah kota yang jalanannya mungkin keras, bising, padat dan tidak selalu ramah, tetapi kehidupan di dalamnya tetap bergerak.

Dan di antara deru mesin, klakson, debu, trotoar yang terputus dan manusia yang bergegas, pejalan kaki tetap menemukan jalannya sendiri.

Bukan karena jalanan New Delhi selalu nyaman.

Melainkan karena kota sebesar itu tidak pernah benar-benar berhenti berjalan. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
Channel Whatsapp Deal Channel

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Are you human? Please solve:Captcha