Sahur Komunal Muslim Champa di Hainan: Tradisi Ramadhan yang Menjaga Warisan Leluhur

Komunitas Muslim keturunan Champa di Hainan berkumpul untuk sahur bersama, mempertahankan tradisi Ramadhan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dok : Deal Channel

DEAL GENDER | Di salah satu sudut selatan Pulau Hainan, tepatnya di wilayah pesisir kota Sanya, kehidupan sebuah komunitas kecil Muslim keturunan Champa bergerak dengan ritme khas ketika bulan Ramadhan datang. Saat sebagian besar kawasan wisata itu masih diselimuti kesunyian malam, lampu-lampu rumah di perkampungan Muslim mulai menyala satu per satu.

Warga keluar dari rumah mereka dan berjalan menuju halaman masjid atau dapur-dapur komunitas. Di tempat inilah mereka menjalankan sebuah tradisi lama: makan sahur secara berjamaah sebelum memulai puasa.

Read More

Bagi masyarakat Muslim Champa yang dikenal sebagai Utsul, sahur bersama bukan sekadar aktivitas makan sebelum fajar. Tradisi ini telah berkembang menjadi simbol kebersamaan sosial, pengikat identitas komunitas, sekaligus cara mempertahankan warisan budaya leluhur Asia Tenggara di tengah masyarakat modern Tiongkok.

 

Akar Sejarah Champa di Pulau Hainan

Jejak keberadaan komunitas Utsul di Hainan berhubungan dengan sejarah panjang migrasi masyarakat Champa dari kawasan Vietnam. Setelah kerajaan Champa mengalami kekalahan besar pada abad ke-15, sebagian pengikutnya menyeberang laut dan menetap di Pulau Hainan.

Di wilayah ini mereka membangun komunitas kecil yang bertahan hingga sekarang. Jumlah populasi mereka relatif terbatas, hanya beberapa ribu orang yang sebagian besar tinggal di kampung-kampung Muslim di sekitar Sanya.

Walau secara administratif digolongkan sebagai bagian dari etnis Hui oleh pemerintah Tiongkok, masyarakat Utsul memiliki ciri budaya yang berbeda. Mereka masih mempertahankan bahasa Tsat, bahasa dari rumpun Chamic yang memiliki hubungan dengan bahasa-bahasa di Asia Tenggara.

Bahasa ini masih terdengar dalam percakapan sehari-hari di lingkungan keluarga maupun ketika warga berkumpul dalam kegiatan sosial.

 

Sahur Bersama sebagai Perekat Komunitas

Memasuki bulan Ramadhan, kehidupan di kampung-kampung Utsul menjadi lebih hidup pada dini hari. Sekitar pukul tiga pagi, beberapa keluarga mulai menyiapkan hidangan sahur berupa nasi, ikan, sayur, serta sup khas pesisir.

Tak lama kemudian, warga berdatangan membawa peralatan makan dari rumah mereka. Mereka duduk berkelompok di halaman masjid atau ruang pertemuan kampung untuk menikmati sahur secara bersama-sama.

Tradisi ini diyakini telah berlangsung sejak generasi awal komunitas Champa menetap di Hainan. Pada masa lalu, makan bersama sebelum fajar menjadi cara menjaga solidaritas di antara para perantau yang hidup jauh dari tanah asal mereka.

Selain memenuhi kebutuhan fisik sebelum berpuasa, sahur komunal juga berfungsi sebagai ruang sosial tempat warga saling berbagi kabar dan memperkuat hubungan kekeluargaan.

 

Kehidupan Islam di Tengah Lingkungan Non-Muslim

Walaupun hidup di wilayah yang mayoritas penduduknya bukan Muslim, masyarakat Utsul tetap mempertahankan praktik keagamaan mereka secara konsisten. Pola makan halal dijaga dengan ketat, sementara kegiatan ibadah tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Sebagian perempuan di komunitas ini juga mengenakan penutup kepala berwarna cerah yang menutupi rambut dan leher. Penampilan tersebut sering disebut memiliki kemiripan dengan tradisi busana Muslim di kawasan Asia Tenggara.

Masjid di kampung Utsul tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kehidupan sosial. Di sana warga berkumpul untuk pengajian, perayaan hari besar Islam, hingga kegiatan sahur berjamaah selama Ramadhan.

 

Tradisi Lama di Tengah Arus Modernisasi

Namun kehidupan masyarakat Utsul tidak terlepas dari perubahan zaman. Pulau Hainan kini berkembang pesat sebagai kawasan pariwisata internasional, dan kota Sanya menjadi salah satu destinasi utama wisatawan domestik maupun mancanegara.

Perkembangan ini membawa dinamika baru bagi komunitas Muslim setempat. Banyak generasi muda yang bekerja di sektor pariwisata atau memilih merantau ke kota-kota besar. Bahasa Mandarin juga semakin dominan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, tradisi sahur berjamaah tetap dijaga sebagai bagian penting dari identitas komunitas. Bagi para tetua kampung, kegiatan ini bukan hanya tentang makan sebelum puasa, tetapi juga cara mengingat sejarah panjang yang menyatukan mereka sebagai keturunan Champa.

 

Ramadhan di Persimpangan Budaya

Ketika azan Subuh terdengar dari masjid kecil di kampung Utsul, warga yang sebelumnya berkumpul untuk sahur segera berdiri membentuk saf salat. Setelah itu, mereka kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat atau bersiap memulai aktivitas harian.

Di pulau yang lebih dikenal dengan pantai tropis dan resor mewahnya, kehidupan komunitas kecil ini memperlihatkan sisi lain dari Tiongkok.

Melalui tradisi sahur berjamaah, masyarakat Muslim keturunan Champa di Hainan terus menjaga ingatan kolektif tentang asal-usul mereka. Tradisi tersebut menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini—sebuah warisan budaya yang tetap hidup di tengah perubahan zaman. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts