DEAL GENDER | MEKKAH — Di bawah sinar matahari yang merunduk makin hangat ketika Ramadhan menjelang Maghrib, ribuan kaki perempuan melangkah laksana benang tak terlihat yang menjahit ragam warna kehidupan di pasar dadakan kota suci ini. Pasar yang tumbuh bak oasis di tengah padatnya ritme peziarah — sejenak menjadi panggung niat, harap, dan doa.
Di lorong-lorong sempit yang terbentang antara tenda-tenda jualan beralas karpet, para perempuan berhenti sejenak. Ada yang mengikat hijabnya dengan rapi, mengusap keringat ringan, lalu tersenyum ramah pada penjual kurma, kacang, sirup, atau gantungan kecil bertuliskan doa. Suara tawar-menawar terdengar lembut, namun sarat kesungguhan, laksana melodi yang bersautan dengan lantunan ayat suci dari pengeras suara Masjidil Haram yang mengawang di kejauhan.
Siti, seorang jamaah asal Indonesia, berjalan perlahan sambil menuntun tangan putrinya yang masih kecil. “Aku ingin membeli kurma sebagai oleh-oleh, sekaligus sebagai penanda Ramadhan di tanah ini,” katanya, wajahnya berkilau tertangkap lentera sore. Di pasar tersebut, setiap barang yang dijajakan terasa lebih berarti — bukan sekadar komoditas, melainkan simbol kenangan dan kebersamaan.
Tidak sedikit perempuan dari berbagai negara ikut larut dalam kegiatan ini. Ada yang dengan wajah berseri mencari sajadah kecil berwarnai motif Arab, ada yang menawar sirup kurma untuk berbuka, dan ada pula yang terhenti hanya untuk menyapa sesama peziarah, bertukar kisah singkat tentang perjalanan umroh mereka. Lalu lalang mereka di pasar dadakan itu seakan memantulkan kerinduan yang sama: menghadirkan sejumput rumah di tengah kota yang tak henti dilimpahi doa jutaan hati.
Pasar itu sendiri tak pernah sunyi. Ketika azan Ashar berkumandang, suara-suara tawar semakin mesra, bagai benang merah yang mengikat antara kedalaman iman dan realitas keseharian. Para penjual ramah — banyak dari mereka ibu dan perempuan yang turut meramaikan Ramadhan kali ini — menebar senyum hangat pada setiap pengunjung. Selembar kurma yang dibungkus bukan hanya komoditas, tapi bagian kecil dari rasa syukur yang mereka bagi.
Di ujung lorong, seorang perempuan tua duduk sambil menatap lautan manusia. “Ramadhan di Mekkah ini lebih dari sekadar bulan,” lirihnya. “Ia adalah ladang doa yang dituai dalam setiap langkah, terutama ketika kita berjalan menuju pasar ini untuk sekadar berbicara, melihat, dan merasakan.”
Begitu mentari mulai merendah dan suara adzan Maghrib kian menggema, perempuan-perempuan itu pun melangkah pelan menuju Masjidil Haram, membawa kurma, sirup, dan oleh-oleh kecil itu sebagai penanda kisah Ramadhan mereka di tanah suci. Di lorong pasar dadakan yang sederhana itu, setiap langkah perempuan bukan sekadar lalu lalang — ia adalah untaian harap dan doa, berkelindan di bawah langit Ramadhan yang penuh berkah. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G






