Perempuan Muslim Hui di Xining: Meniti Profesionalisme di Tengah Batas Tradisi

Perempuan Muslim Hui di Xining meniti karier profesional sambil menjaga tradisi dan identitas Islam di tengah dinamika modern Tiongkok. Dok : Deal Channel

DEAL GENDER | Xining, Qinghai — Di kota pegunungan yang menjadi simpul pertemuan sejarah Jalur Sutra ini, perempuan Muslim suku Hui menjalani kehidupan yang bergerak di antara dua tarikan besar: semangat kesetaraan modern Tiongkok dan norma sosial yang masih berakar kuat dalam keluarga serta tradisi. Xining bukan sekadar pusat administratif Provinsi Qinghai, tetapi juga ruang sosial tempat identitas agama, budaya, dan profesionalisme saling berkelindan.

Komunitas Hui, salah satu kelompok Muslim terbesar di Tiongkok, telah lama berasimilasi secara kultural dengan masyarakat Han. Bahasa sehari-hari mereka adalah Mandarin, cara berpakaian mengikuti arus nasional, namun dalam urusan keyakinan dan etika hidup, nilai-nilai Islam tetap menjadi pegangan. Dalam konteks dunia kerja, perempuan Hui menjadi bagian dari statistik nasional yang menunjukkan partisipasi perempuan Tiongkok yang relatif tinggi—lebih dari empat dari sepuluh tenaga kerja adalah perempuan.

Read More

Namun angka partisipasi tidak serta-merta mencerminkan kesetaraan penuh. Data ketenagakerjaan nasional menunjukkan adanya kesenjangan penghasilan antara pekerja laki-laki dan perempuan pada posisi yang sebanding. Perempuan, dalam banyak kasus, masih menerima pendapatan yang lebih rendah dibandingkan kolega laki-laki mereka. Fenomena ini juga berkaitan dengan segmentasi pekerjaan yang kerap menempatkan perempuan pada sektor layanan, administrasi, atau pekerjaan yang dianggap “ramah keluarga”.

Di Xining, gambaran itu terlihat nyata. Banyak perempuan Muslim Hui bekerja di sektor perdagangan halal, pendidikan dasar, layanan publik, hingga usaha keluarga. Sebagian lainnya merintis usaha kecil, membuka restoran, toko pakaian, atau berdagang di pasar tradisional. Pilihan ini bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan juga cara menyesuaikan jam kerja dengan tanggung jawab domestik yang masih dominan dibebankan kepada perempuan.

Tekanan peran ganda menjadi realitas sehari-hari. Di satu sisi, mereka terdorong untuk berkontribusi pada pendapatan keluarga dan meningkatkan kualifikasi diri. Di sisi lain, ekspektasi sosial mengenai peran sebagai ibu dan pengelola rumah tangga tetap kuat. Dalam konteks ini, kesetaraan bukan hanya persoalan akses pekerjaan, tetapi juga pembagian tanggung jawab yang adil di ranah domestik.

Selain itu, tantangan struktural masih membayangi. Praktik diskriminasi dalam proses rekrutmen—seperti preferensi terhadap pelamar laki-laki untuk posisi tertentu—masih ditemukan di sejumlah wilayah Tiongkok. Walaupun kebijakan nasional menegaskan komitmen terhadap pemberdayaan perempuan dan perlindungan tenaga kerja, implementasinya belum sepenuhnya seragam di semua daerah.

Bagi perempuan Muslim Hui, dimensi lain yang turut dipertimbangkan adalah identitas agama. Menjaga prinsip halal, cara berpakaian yang sesuai keyakinan, dan komitmen terhadap waktu ibadah menjadi bagian dari negosiasi keseharian di ruang kerja. Meski komunitas Hui relatif terintegrasi secara sosial, sensitivitas terhadap identitas tetap menjadi faktor penting dalam membangun karier.

Pemerintah pusat sendiri menargetkan peningkatan kualitas pekerjaan perempuan melalui program pembangunan jangka panjang yang mencakup akses pendidikan, perlindungan maternitas, serta penguatan partisipasi di sektor formal. Kebijakan ini mencerminkan upaya untuk mempertahankan proporsi perempuan dalam angkatan kerja sekaligus memperbaiki kondisi kerja mereka.

Di Xining, kualitas pekerja perempuan Muslim Hui tidak hanya diukur dari produktivitas, tetapi juga dari daya lenting menghadapi perubahan. Mereka adalah generasi yang tumbuh dalam pendidikan modern, akrab dengan teknologi digital, dan memiliki aspirasi profesional yang semakin luas. Banyak di antara mereka melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi, memasuki profesi teknis, bahkan terlibat dalam kewirausahaan berbasis komunitas.

Meski demikian, perjalanan menuju kesetaraan yang substantif masih menyisakan jarak. Kesenjangan upah, pembatasan tak tertulis dalam promosi jabatan, serta beban sosial yang tidak sepenuhnya setara menunjukkan bahwa transformasi struktural memerlukan waktu.

Di antara lorong-lorong pasar halal dan gedung-gedung perkantoran modern Xining, perempuan Muslim Hui terus menapaki ruang profesionalnya. Mereka bergerak dengan ketenangan khas dataran tinggi Qinghai—tidak selalu menonjol, tetapi konsisten. Dalam diri mereka, kesetaraan bukan sekadar wacana kebijakan, melainkan proses panjang yang dijalani setiap hari: bekerja, menjaga keluarga, mempertahankan iman, dan membangun masa depan. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts