DEAL EKBIS | Xining, Qinghai — Ketika matahari tenggelam di balik pegunungan Qinghai dan udara dataran tinggi mulai menggigit kulit, kota Xining berubah wajah. Lampu-lampu neon menyala, tenda-tenda kaki lima dibuka, dan pasar malam perlahan menggeliat seperti nadi yang baru dipacu. Di antara riuh tawar-menawar dan aroma asap panggangan, satu identitas tampak menonjol: label halal yang terpasang di banyak gerai, menjadi penanda jejak panjang Islam di kota ini.
Xining, yang dikenal sebagai salah satu simpul komunitas Muslim Hui di Tiongkok barat laut, menghadirkan pasar malam bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi juga panggung kebudayaan. Di sepanjang lorong pasar, spanduk bertuliskan karakter Mandarin berdampingan dengan aksara Arab sederhana. Di bawah cahaya lampu, perempuan berkerudung dan lelaki berpeci putih melayani pembeli—baik warga lokal maupun wisatawan yang penasaran mencicipi cita rasa khas Hui.
Contents
Aroma yang Mengisahkan Identitas
Asap tipis mengepul dari tusukan daging kambing yang dipanggang di atas bara. Rempah jintan dan lada Sichuan berpadu dalam wangi yang tajam namun menggoda. Di meja lain, mi tarik tangan (lamian) ditarik panjang oleh tangan-tangan cekatan, direbus cepat, lalu disajikan dalam kuah bening dengan irisan daging sapi halal. Roti pipih hangat, kue wijen, hingga yogurt khas Qinghai tersusun rapi, semuanya menyandang klaim halal sebagai jaminan kepercayaan.
Bagi komunitas Muslim Hui, halal bukan sekadar sertifikasi administratif. Ia adalah etika produksi dan konsumsi yang dijaga turun-temurun. Penyembelihan hewan mengikuti tata cara syariat, dapur dipisahkan dari bahan non-halal, dan kepercayaan menjadi modal utama yang tak ternilai. Di pasar malam, prinsip itu terlihat dalam cara pedagang menjelaskan asal-usul bahan, bahkan dengan bangga menunjukkan izin usaha halal yang terpajang di sudut kios.
Ekonomi yang Tumbuh dari Tradisi
Pasar malam Xining juga mencerminkan dinamika ekonomi lokal. Banyak gerai merupakan usaha keluarga yang diwariskan lintas generasi. Orang tua mengelola dapur, anak-anak membantu melayani atau mengatur pembayaran digital melalui kode QR—sebuah perpaduan antara tradisi dan teknologi modern Tiongkok yang sangat maju dalam sistem transaksi nontunai.
Produk halal di sini tidak terbatas pada makanan. Tersedia pula kosmetik berlabel halal, teh herbal, rempah-rempah kemasan, hingga pakaian muslim sederhana yang dijajakan di lapak-lapak kecil. Semua itu menunjukkan bahwa halal telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi tersendiri, menopang penghidupan ribuan keluarga Hui di Xining.
Antara Regulasi dan Kepercayaan
Di Tiongkok, pengaturan label halal berada di bawah regulasi lokal yang berbeda-beda antarprovinsi. Di Qinghai, pemerintah daerah memberikan pengakuan terhadap usaha makanan halal sebagai bagian dari karakter ekonomi komunitas Hui. Namun, kontrol dan pengawasan tetap dilakukan untuk memastikan standar keamanan pangan terpenuhi. Bagi pedagang, kepatuhan pada aturan bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga cara menjaga reputasi.
Meski demikian, dinamika sosial dan kebijakan yang lebih luas terkadang memengaruhi ekspresi identitas keagamaan di ruang publik. Pasar malam menjadi ruang kompromi: identitas Islam tetap hadir melalui produk dan praktik, meski simbol-simbol visualnya sering kali tampil sederhana.
Malam yang Menyatukan
Di antara tawa anak-anak dan denting peralatan masak, pasar malam Xining menghadirkan suasana yang hangat. Wisatawan Han, pelancong asing, hingga warga lokal berbaur tanpa sekat mencolok. Mereka duduk di bangku plastik rendah, berbagi meja panjang, mencicipi sate kambing atau semangkuk mi panas yang menghangatkan tubuh di udara dingin dataran tinggi.
Di sinilah produk halal menjadi jembatan budaya. Ia tidak hanya melayani kebutuhan religius komunitas Muslim, tetapi juga memperkaya khazanah kuliner kota. Halal berubah menjadi identitas sekaligus komoditas—sebuah simbol kepercayaan yang mampu menembus batas etnis dan agama.
Ketika malam semakin larut dan satu per satu lampu mulai dipadamkan, pasar malam Xining menyisakan aroma rempah yang masih menggantung di udara. Di balik setiap tusuk sate dan mangkuk mi, tersimpan cerita tentang keberlanjutan tradisi, ketahanan ekonomi keluarga, dan negosiasi identitas di tengah arus modernitas.
Melihat produk halal di sepanjang pasar malam Xining berarti menyaksikan bagaimana iman menjelma menjadi praktik sehari-hari—dalam rasa, dalam transaksi, dan dalam cara sebuah komunitas menjaga jati dirinya di bawah cahaya lampu-lampu kota yang tak pernah benar-benar tidur. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G








