Menjejak Islam di Tanah Angin: Wajah Umat Hui di Xining

Menjejak Islam di Xining dan kisah keteguhan umat Hui menjaga identitas, masjid, dan tradisi di tengah modernisasi Tiongkok. Dok : Deal Channel

DEAL FOKUS | Xining, Provinsi Qinghai, Tiongkok — Di kota yang berdiri tenang di pelukan dataran tinggi barat laut Tiongkok ini, angin berembus dengan suhu yang berbeda. Ia membawa aroma pegunungan, debu sejarah Jalur Sutra, dan samar-samar suara doa yang meluncur dari pengeras suara masjid. Di sinilah, di antara bangunan modern dan jalan raya yang tertata, umat Islam suku Hui merawat identitasnya—perlahan, tekun, dan penuh keteguhan.

Xining bukan kota yang riuh oleh wisata global. Ia lebih menyerupai ruang pertemuan sunyi antara peradaban lama dan wajah Tiongkok kontemporer. Di kota inilah komunitas Muslim Hui hidup berdampingan dengan etnis-etnis lain, membentuk mosaik sosial yang kompleks. Wajah-wajah mereka sekilas tampak seperti warga Han pada umumnya, namun peci putih di kepala lelaki tua, kerudung lembut para perempuan, dan sapaan salam yang lirih menjadi penanda bahwa iman mengalir dalam keseharian mereka.

Read More

 

Masjid Dongguan: Jantung yang Berdenyut

Di pusat kota berdiri Masjid Dongguan, bangunan yang telah menua bersama sejarah. Didirikan berabad-abad silam, masjid ini menjadi poros spiritual sekaligus simbol ketahanan komunitas Hui. Arsitekturnya memadukan corak Timur Tengah dengan estetika Tiongkok, sebuah dialog visual antara dua peradaban besar.

Menjelang waktu salat, pelatarannya mulai dipenuhi langkah-langkah cepat. Pedagang menutup kios, mahasiswa bergegas dari kampus, sopir taksi memarkir kendaraan. Mereka berbaris rapi, menyatu dalam saf, menghadap arah yang sama—ke Ka’bah yang jauh di Makkah, ribuan kilometer dari Qinghai. Di momen itulah Xining terasa terhubung dengan dunia Islam yang luas.

Namun waktu juga membawa perubahan. Modernisasi dan penyesuaian kebijakan arsitektur telah mengubah sebagian wajah bangunan-bangunan keagamaan. Kubah dan menara yang dulu menjadi simbol visual Islam kini tak selalu terlihat menonjol. Meski demikian, yang tak berubah adalah denyut ibadah di dalamnya. Bentuk boleh berganti, tetapi doa tetap mengalir.

 

Islam dalam Dapur dan Jalanan

Islam di Xining tidak hanya hidup dalam mihrab dan mimbar. Ia hadir di dapur-dapur kecil yang mengepul sejak pagi. Restoran halal berjajar di sepanjang jalan; aroma daging kambing rebus, mi tarik tangan (lamian), dan roti pipih hangat menyatu dengan udara tipis dataran tinggi.

Di pasar tradisional, perempuan Hui menawar sayur sambil bercakap dalam dialek Mandarin bercampur logat lokal. Label halal terpasang di etalase, menjadi tanda kepercayaan antaranggota komunitas. Di sinilah agama menjelma menjadi etika konsumsi, tata cara penyembelihan, hingga aturan kebersihan yang dijaga turun-temurun.

Ramadan menjadi babak yang paling terasa. Siang hari mungkin tampak biasa, tetapi menjelang magrib suasana berubah. Lampu-lampu menyala, kurma dan teh manis tersaji, dan keluarga berkumpul dalam lingkaran sederhana. Malamnya, masjid dipenuhi jamaah tarawih. Suara lantunan ayat Al-Qur’an mengalun lembut, menembus sunyi pegunungan yang mengelilingi kota.

 

Identitas yang Ditenun Perlahan

Suku Hui adalah Muslim yang secara etnis dekat dengan mayoritas Han, namun secara keyakinan terhubung dengan tradisi Islam global. Mereka bukan pendatang baru; sejarah mencatat kehadiran mereka sejak masa Jalur Sutra ketika para pedagang Persia dan Arab berinteraksi dengan masyarakat lokal, lalu berasimilasi selama berabad-abad.

Identitas Hui tumbuh dalam proses panjang—sebuah hasil pertemuan budaya yang tidak selalu mudah. Bahasa mereka Mandarin, pakaian mereka sering kali mengikuti gaya nasional, tetapi dalam ritual dan keyakinan, mereka memegang ajaran Islam dengan teguh. Mereka adalah bukti bahwa Islam dapat berakar dalam konteks budaya yang berbeda tanpa kehilangan esensinya.

Di sekolah-sekolah agama, anak-anak belajar membaca Al-Qur’an dengan aksen Mandarin. Di rumah, orang tua menanamkan nilai kesederhanaan dan kerja keras. Banyak generasi muda Hui kini menjadi profesional—dokter, dosen, pengusaha—yang bergerak di ruang modern Tiongkok tanpa melepaskan identitas spiritualnya.

 

Antara Sunyi dan Keteguhan

Melihat umat Islam Hui di Xining bukanlah menyaksikan gegap gempita demonstrasi identitas. Yang terlihat justru ketenangan. Sebuah keberadaan yang tidak menonjolkan diri, tetapi juga tidak menghilang. Mereka menapaki hari-hari dengan disiplin kerja, kesalehan pribadi, dan solidaritas komunitas.

Di tengah perubahan sosial dan kebijakan yang terus berkembang, komunitas ini memilih bertahan dengan cara yang sunyi. Mereka merawat tradisi dalam lingkup keluarga, memperkuat jejaring ekonomi halal, dan menjaga masjid sebagai pusat kebersamaan.

Xining pada akhirnya bukan sekadar kota di peta Tiongkok barat laut. Ia adalah cermin kecil dari luasnya dunia Islam—bahwa iman tidak selalu hadir dalam warna yang sama, tetapi tetap bersumber dari keyakinan yang serupa. Di dataran tinggi Qinghai yang dingin dan berangin, umat Hui membuktikan bahwa identitas dapat tetap hidup, meski berada jauh dari pusat peradaban Islam yang sering dibicarakan.

Angin sore kembali berembus ketika azan magrib terdengar. Di antara hiruk pikuk kendaraan dan lampu kota yang mulai menyala, suara itu meluncur lembut, mengingatkan bahwa di sudut Tiongkok yang mungkin jarang disebut, cahaya Islam tetap menyala—tidak terang menyilaukan, tetapi cukup untuk menuntun langkah mereka yang menjaganya. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts