Merah di Dinding-Dinding Ibadah: Jejak Budaya dan Iman dalam Masjid-Masjid Tiongkok

Warna merah di masjid Tiongkok mencerminkan harmoni budaya dan iman dalam sejarah panjang Islam di negeri Cina. Dok : Deal Channel

DEAL ZIQWAF | Xining / Beijing / Xi’an — Di banyak sudut Tiongkok, dari kota tua Xi’an hingga dataran tinggi Qinghai, masjid-masjid berdiri dengan wajah yang mungkin mengejutkan sebagian pelancong Muslim dari Timur Tengah. Pilar-pilar kayu dicat merah menyala, balok atap dihias ukiran berwarna emas, dan gerbang masuk menyerupai kuil tradisional Tiongkok. Di balik pintu itu, saf-saf salat tersusun rapi menghadap kiblat, dan ayat-ayat Al-Qur’an terukir dalam kaligrafi Arab.

Merah—warna yang dalam tradisi Tiongkok melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan kemakmuran—menjadi elemen dominan dalam banyak masjid bersejarah di negeri ini. Ia bukan sekadar pilihan estetika, melainkan refleksi dialog panjang antara Islam dan kebudayaan Cina yang telah berlangsung lebih dari seribu tahun.

Read More

 

Warna yang Berakar pada Peradaban

Dalam kosmologi Tiongkok kuno, merah dikaitkan dengan unsur api, energi kehidupan, dan perayaan. Ia menghiasi istana kekaisaran, kuil-kuil Konfusianisme, hingga rumah-rumah tradisional. Ketika Islam masuk melalui Jalur Sutra pada abad ke-7 dan seterusnya, para pedagang Arab dan Persia tidak membangun masjid dengan memaksakan arsitektur asing sepenuhnya. Mereka beradaptasi.

Hasilnya adalah bangunan ibadah yang memadukan struktur halaman dalam (siheyuan), atap bertingkat dengan ujung melengkung, serta pilar kayu merah yang kokoh. Di Masjid Agung Xi’an, salah satu yang tertua di Tiongkok, warna merah berpadu dengan kaligrafi Arab yang terpahat di papan kayu. Tidak ada kubah besar mendominasi lanskap; yang ada adalah atap berlapis seperti paviliun klasik Cina.

Di Xining, komunitas Muslim Hui juga merawat tradisi ini. Masjid Dongguan, misalnya, menampilkan kombinasi warna merah, hijau, dan putih. Pilar merah menopang bangunan utama, sementara di dalamnya terpampang mihrab dengan sentuhan dekoratif bernuansa Timur Tengah.

 

Antara Identitas Etnis dan Spiritualitas Islam

Bagi suku Hui—kelompok Muslim terbesar di Tiongkok—warna merah dalam masjid bukan pertentangan dengan ajaran Islam. Ia dipahami sebagai bagian dari identitas budaya lokal. Islam datang membawa prinsip tauhid dan tata cara ibadah, tetapi tidak menghapus ekspresi artistik setempat selama tidak bertentangan dengan akidah.

Merah di dinding dan tiang tidak mengubah arah kiblat. Ukiran naga atau motif awan yang kadang menghiasi bagian luar tidak menggeser ayat-ayat suci yang tertera di dalam. Di sinilah akulturasi terjadi: Islam mempertahankan esensinya, sementara budaya Cina memberi wadah visualnya.

Kaligrafi Arab sering berdampingan dengan aksara Mandarin yang menjelaskan ajaran moral atau sejarah masjid. Dalam beberapa kasus, seni kaligrafi berkembang menjadi gaya khas Sino-Arabic, di mana huruf Arab ditulis dengan sapuan kuas seperti karakter Cina.

 

Nuansa Arab yang Tetap Hadir

Meski kental dengan warna dan bentuk tradisional Cina, nuansa Arab dan Islam tetap terasa kuat. Di banyak masjid modern, terutama yang dibangun atau direnovasi pada abad ke-20 dan ke-21, kubah dan menara mulai dihadirkan lebih jelas. Warna hijau dan putih—yang sering diasosiasikan dengan dunia Islam—melengkapi dominasi merah.

Interior ruang salat biasanya lebih universal: karpet hijau atau biru, mihrab menghadap Makkah, lampu gantung kristal, dan kaligrafi ayat Al-Qur’an menghiasi dinding. Saat azan berkumandang, bahasa Arab mengalun, menembus batas budaya.

Merah di luar, hijau di dalam—sebuah metafora visual tentang dua dunia yang tidak saling meniadakan.

 

Harmoni yang Diuji Waktu

Dalam beberapa tahun terakhir, ekspresi arsitektur keagamaan di Tiongkok mengalami penyesuaian mengikuti kebijakan tata kota dan standar nasional. Sebagian masjid menampilkan gaya yang lebih menyerupai arsitektur tradisional Cina dibandingkan model Timur Tengah. Warna merah pun semakin ditekankan sebagai simbol keselarasan dengan identitas nasional.

Namun bagi jamaah yang datang lima waktu sehari, warna hanyalah latar. Yang utama adalah sujud, doa, dan kebersamaan. Pilar merah menjadi saksi bisu generasi demi generasi yang menjaga iman di tanah yang mayoritasnya bukan Muslim.

 

Merah sebagai Jembatan

Melihat warna merah dalam masjid-masjid Tiongkok berarti menyaksikan sejarah panjang pertemuan peradaban. Ia adalah simbol kompromi yang tidak menghapus keyakinan, melainkan membingkainya dalam konteks lokal. Dalam warna itu, tersimpan pesan bahwa Islam di Tiongkok bukan entitas asing, melainkan bagian dari lanskap budaya yang telah berakar selama berabad-abad.

Di senja hari, ketika cahaya matahari menyentuh pilar-pilar merah dan bayangannya memanjang di pelataran, masjid tampak seperti lukisan klasik. Di dalamnya, jamaah berdiri dalam saf yang sama seperti umat Islam di mana pun di dunia. Warna mungkin berbeda, arsitektur mungkin unik, tetapi arah doa tetap satu.

Merah, dalam masjid-masjid Tiongkok, akhirnya bukan sekadar warna. Ia adalah narasi tentang adaptasi, harmoni, dan keyakinan yang menemukan bentuknya sendiri—tanpa melupakan akar Arabnya, tanpa melepaskan tanah Cina tempat ia tumbuh. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts