DEAL RILEKS | Xining, Qinghai — Di jantung kota dataran tinggi Qinghai, ketika angin gunung berembus tipis dan langit biru membentang luas tanpa batas, berdirilah masjid-masjid megah milik komunitas Muslim Hui. Ia tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pernyataan arsitektural tentang bagaimana Islam menemukan rumahnya di tanah Tiongkok—di antara modernisme kota, tradisi arsitektur Cina, dan sentuhan nuansa Arab yang jauh dari padang pasir asalnya.
Dari kejauhan, siluetnya mencuri perhatian. Ada yang menampilkan kubah hijau zamrud dengan menara menjulang, mengingatkan pada lanskap Timur Tengah. Ada pula yang beratap lengkung khas arsitektur klasik Cina, lengkap dengan detail ukiran kayu dan warna merah serta emas yang anggun. Perpaduan itu bukan kebetulan, melainkan hasil dialog panjang antara sejarah, budaya, dan kebijakan zaman.
Contents
Dongguan: Simbol Sejarah yang Berlapis
Masjid Dongguan di Xining menjadi ikon paling dikenal. Berdiri sejak era Dinasti Ming, bangunan ini telah melewati berbagai periode—dari kejayaan Jalur Sutra hingga modernisasi Tiongkok abad ke-21. Wajahnya hari ini mencerminkan transformasi: struktur kokoh dengan ruang salat luas, dinding putih bersih, dan halaman lapang yang mampu menampung ribuan jamaah.
Masuk ke dalamnya, suasana berubah hening. Karpet terbentang rapi, kaligrafi Arab menghiasi dinding, sementara langit-langitnya memadukan motif geometris Islam dengan sentuhan dekoratif Tiongkok. Cahaya matahari menembus jendela-jendela tinggi, memantulkan bayangan lembut di lantai. Di ruang itu, perbedaan geografis seolah lenyap—Xining terasa dekat dengan Makkah, Istanbul, dan Kairo sekaligus.
Modernisme dalam Bingkai Tradisi
Namun masjid-masjid Hui di Xining tidak berhenti pada romantisme sejarah. Seiring perkembangan kota, beberapa bangunan diperbarui dengan teknologi konstruksi modern: beton bertulang, sistem tata suara canggih, pencahayaan LED, hingga fasilitas pendidikan dan perpustakaan di dalam kompleks. Modernisme hadir bukan sebagai penghapus tradisi, melainkan pelengkapnya.
Di luar, jalan raya yang ramai dilintasi kendaraan listrik dan bus kota menandai denyut urbanisasi Tiongkok. Di dalam masjid, saf-saf jamaah berdiri tenang menghadap kiblat. Kontras ini menghadirkan harmoni yang unik—antara dunia yang bergerak cepat dan ruang spiritual yang menuntut keheningan.
Sentuhan Cina, Jiwa Arab
Keunikan masjid Hui di Xining terletak pada keberaniannya memadukan dua warisan besar. Atap bertingkat dengan ujung melengkung ke atas—ciri khas bangunan tradisional Cina—bertemu dengan kubah dan menara yang lazim ditemui di dunia Arab. Warna hijau dan emas bersanding dengan merah bata dan ornamen kayu. Tidak ada dominasi tunggal; yang ada adalah akulturasi.
Bagi komunitas Hui, arsitektur ini menjadi simbol identitas ganda: Muslim dalam keyakinan, Tiongkok dalam kebudayaan. Mereka bukan pendatang baru; Islam telah berakar di wilayah ini selama berabad-abad melalui jalur perdagangan dan interaksi lintas bangsa. Masjid menjadi bukti fisik dari sejarah panjang itu.
Ruang Sosial dan Spiritualitas
Lebih dari sekadar bangunan, masjid di Xining berfungsi sebagai pusat komunitas. Di sana berlangsung pengajian, pendidikan anak-anak, pertemuan keluarga, hingga diskusi sosial. Pada hari Jumat dan bulan Ramadan, halaman masjid dipenuhi ribuan jamaah. Suara azan menggema di udara tipis dataran tinggi, menyatu dengan hiruk-pikuk kota.
Perempuan Hui dengan kerudung lembut berjalan berdampingan dengan laki-laki berpeci putih. Anak-anak berlari kecil di pelataran sebelum masuk kelas mengaji. Masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga ruang pembentukan identitas kolektif.
Antara Kebijakan dan Ketahanan
Seiring waktu, ekspresi arsitektur keagamaan di Tiongkok mengalami penyesuaian mengikuti kebijakan nasional tentang tata ruang dan simbol publik. Beberapa masjid mengalami renovasi, menyesuaikan tampilan agar lebih selaras dengan gaya arsitektur lokal. Meski demikian, esensi spiritual tetap terjaga di dalamnya. Kubah boleh berubah bentuk, menara bisa disederhanakan, tetapi saf dan doa tetap mengalir tanpa henti.
Di sinilah letak daya tahan komunitas Hui: kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan inti keyakinan. Masjid menjadi simbol keteguhan sekaligus keluwesan—menerima perubahan, namun tetap berpijak pada fondasi iman.
Cahaya Senja di Atas Kubah
Menjelang senja, cahaya keemasan menyentuh permukaan kubah dan atap lengkung masjid-masjid Xining. Bayangannya jatuh panjang di pelataran, menciptakan siluet yang puitis. Dalam momen itu, terlihat jelas bagaimana modernitas, tradisi Cina, dan nuansa Arab tidak saling meniadakan, melainkan berdialog dalam harmoni yang sunyi.
Masjid-masjid megah suku Hui di Xining bukan hanya destinasi arsitektur. Ia adalah narasi hidup tentang pertemuan peradaban—tentang Islam yang tumbuh di tanah jauh dari Timur Tengah, tentang identitas yang dirawat dalam bingkai budaya berbeda, dan tentang keyakinan yang terus berdenyut di tengah perubahan zaman.
Di kota pegunungan ini, di bawah langit Qinghai yang luas, kubah dan atap lengkung itu berdiri sebagai saksi bahwa peradaban dapat bertemu tanpa harus saling meniadakan—bahwa iman, ketika berakar kuat, mampu menjelma indah dalam bentuk apa pun. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G






