Sahur Gratis Komunitas Muslim Champa di Hainan: Tradisi Ramadhan yang Menguatkan Solidaritas

Relawan komunitas Muslim menyiapkan hidangan sahur gratis di sebuah restoran halal di Sanya, Pulau Hainan, sebagai bentuk solidaritas Ramadhan bagi warga Muslim setempat. Dok :P Deal Channel

DEAL RILEKS | Menjelang pukul tiga dini hari di kota pesisir Sanya, Pulau Hainan, suasana yang biasanya sunyi mulai berubah menjadi lebih hidup. Di sebuah restoran halal sederhana yang terletak tidak jauh dari perkampungan Muslim, lampu dapur telah menyala terang. Beberapa orang tampak sibuk mengaduk sup panas, menanak nasi dalam panci besar, dan menata piring-piring makanan di meja panjang.

Restoran itu milik seorang pengusaha Muslim keturunan Hui. Namun pada bulan Ramadhan, tempat tersebut berubah fungsi menjadi dapur komunitas. Bersama sejumlah relawan, pemilik restoran menyiapkan sahur gratis bagi umat Islam yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.

Read More

Yang menarik, sebagian relawan tidak hanya berasal dari lingkungan setempat. Beberapa Muslim datang dari daerah lain di Hainan untuk membantu menyiapkan makanan bagi jamaah yang akan berpuasa.

 

Kolaborasi Komunitas Muslim

Komunitas Muslim di selatan Hainan memang tidak besar, tetapi keberagamannya mencerminkan sejarah panjang pertemuan budaya di wilayah itu. Selain etnis Hui yang telah lama dikenal sebagai komunitas Muslim Tiongkok, terdapat pula kelompok kecil keturunan Champa yang dikenal sebagai Utsul.

Bagi komunitas Utsul, Ramadhan merupakan momen penting untuk memperkuat hubungan sosial. Tradisi sahur berjamaah telah lama menjadi bagian dari kehidupan mereka. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan sahur kolektif itu berkembang menjadi program berbagi makanan gratis yang melibatkan berbagai kelompok Muslim.

Di restoran halal tersebut, para relawan datang membawa bahan makanan—beras, sayuran, ikan, dan daging halal. Mereka kemudian memasak bersama di dapur yang sempit tetapi hangat oleh semangat kebersamaan.

“Ramadhan adalah waktu untuk berbagi,” kata seorang relawan yang datang dari kota lain di Hainan. “Kami ingin memastikan setiap Muslim di sini bisa makan sahur dengan layak sebelum berpuasa.”

 

Dapur yang Tidak Pernah Sepi

Sejak pukul dua dini hari, aktivitas di dapur restoran sudah berlangsung intens. Para relawan membagi tugas: ada yang memotong sayuran, ada yang menggoreng ikan, sementara yang lain menyiapkan minuman hangat dan kurma.

Menu sahur yang disiapkan mencerminkan perpaduan budaya kuliner. Nasi putih dan sup sayuran khas Tiongkok disajikan berdampingan dengan hidangan sederhana yang lebih dekat dengan tradisi Asia Tenggara, seperti ikan berbumbu dan sayur tumis.

Setelah makanan siap, piring-piring itu disusun di meja panjang di halaman restoran. Warga Muslim dari berbagai penjuru kampung mulai berdatangan, sebagian berjalan kaki dari rumah, sebagian lagi datang dengan sepeda motor.

Di antara mereka terdapat pekerja restoran, mahasiswa, pedagang kecil, dan anggota komunitas Utsul yang tinggal di kampung sekitar.

 

Sahur sebagai Ruang Sosial

Sahur gratis ini tidak hanya bertujuan menyediakan makanan. Ia juga menjadi ruang pertemuan bagi komunitas Muslim yang relatif kecil di Hainan.

Di meja-meja makan, percakapan berlangsung dalam berbagai bahasa—Mandarin, dialek lokal, hingga bahasa Tsat yang digunakan oleh masyarakat Utsul. Anak-anak duduk bersama orang tua mereka, sementara para relawan terus menambah piring bagi tamu yang baru datang.

Seorang tetua komunitas mengatakan bahwa kegiatan sahur bersama seperti ini memperkuat rasa persaudaraan di antara Muslim yang berasal dari latar belakang berbeda.

“Di sini kami berasal dari berbagai tempat,” katanya. “Tetapi ketika Ramadhan datang, kami merasa seperti satu keluarga.”

 

Menyambut Fajar di Kampung Muslim

Menjelang waktu Subuh, kegiatan makan sahur perlahan berakhir. Para relawan mulai membersihkan meja dan dapur, sementara jamaah berjalan menuju masjid terdekat untuk menunaikan salat berjamaah.

Ketika azan Subuh berkumandang, halaman restoran yang sebelumnya ramai kembali sunyi. Namun jejak kebersamaan masih terasa dari panci-panci besar yang baru saja kosong dan kursi-kursi yang baru ditinggalkan para tamu.

Di Pulau Hainan yang dikenal sebagai destinasi wisata tropis, kegiatan sederhana ini memperlihatkan sisi lain kehidupan masyarakatnya: sebuah komunitas kecil yang menjaga tradisi Ramadhan melalui semangat berbagi.

Bagi Muslim Champa dan komunitas Muslim lainnya di Hainan, sahur gratis bukan hanya soal makanan sebelum berpuasa. Ia menjadi simbol solidaritas—sebuah cara untuk memastikan bahwa tidak ada seorang pun yang menyambut fajar Ramadhan sendirian. (ath)

 

Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G

Related posts