DEAL EKBIS | Sumatera Utara — Deru hujan yang tak kunjung reda sejak beberapa hari terakhir mengubah sejumlah wilayah pesisir barat Sumatera Utara menjadi zona krisis. Pemerintah provinsi menetapkan status tanggap darurat, setelah akses jalan utama menuju Sibolga dan Tapanuli Tengah lumpuh total akibat longsor, banjir bandang, dan kerusakan infrastruktur di sepanjang lintasan.
Keadaan yang semula diprediksi sebagai hujan musiman berubah menjadi bencana yang melumpuhkan mobilitas, ekonomi, dan aktivitas masyarakat. Narasi ini menggambarkan potret kedaruratan yang dihadapi warga di kawasan tersebut.
Contents
- 1 LEDE: Terisolasi di Tengah Hujan
- 2 Hujan Tak Berhenti, Tanah Tak Lagi Stabil
- 3 Dampak: Ekonomi Tersendat, Warga Terjebak
- 4 Upaya Pemerintah: Excavator Diterjunkan, namun Cuaca Menghambat
- 5 Kesaksian Warga: “Kami Tidak Berani Tidur”
- 6 Ancaman Lanjutan: Air Masih Tinggi, Hujan Belum Berhenti
- 7 Harapan Warga: Kepastian Jalan Dibuka dan Bantuan Masuk
LEDE: Terisolasi di Tengah Hujan
Sejak subuh, jalan lintas yang menghubungkan berbagai kecamatan menuju Sibolga tertutup material longsor—lumpur, batu berukuran besar, hingga pohon tumbang memenuhi badan jalan. Beberapa titik bahkan terputus total karena badan jalan tergerus arus air.
“Tidak ada satu pun kendaraan yang bisa lewat. Kami terjebak antara dua longsor,” ungkap seorang sopir angkutan umum yang terpaksa bermalam di dalam kendaraan karena akses belum bisa dibuka.
Dalam rekaman warga, terlihat mobil dan truk yang mengantre puluhan meter tanpa kepastian kapan jalur dapat dilewati kembali.
Hujan Tak Berhenti, Tanah Tak Lagi Stabil
Hujan intens dengan durasi panjang membuat kontur tanah di perbukitan Tapanuli Tengah jenuh air. Ketika daya dukung tanah melemah, tebing-tebing sepanjang jalan lintas pesisir Barat menjadi rapuh.
Beberapa kejadian krusial terjadi secara beruntun:
- Longsor besar di jalur Mela—Sibolga yang memutus total akses.
- Banjir bandang dari hulu sungai yang melimpas ke permukiman dan persawahan.
- Saluran drainase rusak, membuat air mengalir liar ke jalan raya.
- Tiang listrik tumbang, menyebabkan pemadaman di sebagian wilayah.
Petugas BPBD, TNI, dan Polri bekerja siang-malam di tengah hujan yang terus turun, namun material longsor yang terus bergerak membuat pembukaan akses menjadi sangat sulit.
Dampak: Ekonomi Tersendat, Warga Terjebak
Kawasan Sibolga dan Tapanuli Tengah dikenal sebagai koridor penting pasokan logistik lokal. Ketika akses terputus:
- Truk-truk pengangkut bahan makanan dan kebutuhan pokok terhenti.
- Nelayan tidak bisa menjual hasil tangkapan ke pasar kota.
- Ojek dan angkutan desa tak dapat beroperasi.
- Warga yang hendak berobat ke fasilitas kesehatan besar tertahan di perjalanan.
“Anak saya harus kontrol ke rumah sakit Sibolga, tapi kami terpaksa kembali karena jalannya tidak bisa dilewati,” ujar seorang warga Kecamatan Barus yang kebingungan.
Pedagang kecil menjadi kelompok paling terdampak. Banyak dari mereka mengandalkan pasokan harian dari Sibolga untuk kebutuhan toko dan warung.
Upaya Pemerintah: Excavator Diterjunkan, namun Cuaca Menghambat
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menetapkan status tanggap darurat, memungkinkan pengerahan alat berat tambahan dari berbagai kabupaten. Namun kondisi di lapangan jauh dari ideal.
- Excavator tidak bisa masuk titik longsor karena jalanan licin dan terjal.
- Curah hujan tinggi membuat risiko longsor susulan sangat besar.
- Pandangan terbatas mempersulit petugas yang bekerja malam hari.
Dalam laporan sementara, terdapat sejumlah rumah di bantaran sungai yang terendam air setinggi dada orang dewasa. Beberapa warga dievakuasi ke titik pengungsian sementara di gedung sekolah dan balai desa.
Kesaksian Warga: “Kami Tidak Berani Tidur”
Di beberapa desa perbukitan, warga memilih berjaga sepanjang malam. Gemuruh dari tebing yang rapuh menjadi tanda bahaya yang kapan pun bisa berubah menjadi longsor besar.
“Setiap kali terdengar suara keras dari atas bukit, kami langsung keluar rumah,” kata seorang ibu rumah tangga dari Kecamatan Sitahuis.
Kondisi psikologis masyarakat tertekan, terutama bagi mereka yang rumahnya berada di lereng atau dekat aliran sungai yang meluap.
Ancaman Lanjutan: Air Masih Tinggi, Hujan Belum Berhenti
BMKG memperkirakan curah hujan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. Itu berarti:
- Potensi longsor susulan tetap mengintai.
- Resiko banjir bertambah pada area dataran rendah.
- Upaya pembukaan akses jalan kemungkinan tertunda.
Pemerintah daerah telah mengimbau warga untuk menghindari bepergian jika tidak mendesak, serta memprioritaskan evakuasi mandiri bila tinggal di zona rawan.
Harapan Warga: Kepastian Jalan Dibuka dan Bantuan Masuk
Masyarakat berharap bantuan makanan, selimut, obat-obatan, serta air bersih bisa segera menjangkau wilayah terisolasi. Mereka juga menantikan pembukaan jalur utama agar kegiatan ekonomi dapat pulih.
“Bukan hanya jalan, tapi kehidupan kami ikut terhenti,” ujar seorang pedagang ikan di Sibolga dengan mata berkaca-kaca.
Bencana hidrometeorologi yang melumpuhkan akses ke Sibolga dan Tapanuli Tengah mengingatkan bahwa kawasan pesisir barat masih sangat rentan terhadap cuaca ekstrem dan kerusakan lingkungan. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan medan yang berat, solidaritas masyarakat serta kesigapan pemerintah menjadi kunci menghadapi krisis.
Selama hujan belum berhenti, Sumatera Utara masih harus waspada penuh. Jalan yang lumpuh bukan sekadar hambatan fisik — tetapi simbol perjuangan warga yang harus bertahan di tengah ketidakpastian. (ath)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G






