Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah simbol perjumpaan peradaban, menjadi saksi bisu masuknya Islam ke Tiongkok sejak abad ke-7 Masehi.
Contents
Masjid Huaisheng: Mengingat Sang Nabi di Negeri Timur
Terletak di Jalan Guangta, Distrik Yuexiu, Masjid Huaisheng (怀圣寺) yang berarti “Memperingati Sang Nabi” diyakini dibangun pada era Dinasti Tang sekitar tahun 627 M. Masjid ini didirikan untuk mengenang Nabi Muhammad SAW oleh Sa’ad bin Abi Waqqas—seorang sahabat Rasulullah yang dipercaya datang berdakwah ke Tiongkok.
Bangunannya memadukan gaya Arab kuno dan elemen lokal Tiongkok. Fitur menonjolnya adalah menara cahaya setinggi 36 meter yang menyerupai mercusuar, diduga digunakan sebagai penunjuk arah bagi kapal-kapal muslim yang memasuki pelabuhan Guangzhou.
“Masjid ini seperti jembatan sejarah,” ujar Li Jiang, peneliti sejarah agama di Sun Yat-sen University. “Ia menunjukkan bahwa Islam bukan hal asing di Tiongkok.”
Keheningan dalam Riuh: Oase Religius di Tengah Kota
Di tengah hiruk pikuk Guangzhou modern, Masjid Huaisheng menjadi tempat spiritual yang tenang. Halamannya teduh dengan pepohonan, area wudu yang bersih, dan kaligrafi Arab yang menghiasi pintu utama masjid memberikan suasana damai.
Setiap hari Jumat, ratusan jamaah—baik etnis Hui lokal maupun pelajar dari Asia Selatan dan Timur Tengah—berkumpul untuk sholat dan mengenang sejarah panjang Islam di negeri ini.
Warisan Budaya, Diplomasi, dan Wisata Religi
Masjid ini juga menjadi ikon diplomasi budaya. Dalam acara Forum Jalur Sutra dan kerja sama antarnegara muslim, masjid ini kerap dikunjungi delegasi dari negara-negara Islam.
Pada 2018, delegasi dari Indonesia dan Mesir melakukan kunjungan resmi sebagai bagian dari studi sejarah Islam di Asia. Kini, Masjid Huaisheng juga menjadi tujuan wisata religi populer, khususnya dari Indonesia, Malaysia, dan Turki.
Di sekitarnya, tersedia pasar halal dan toko suvenir muslim yang menjual sajadah, kurma, kaligrafi Arab, hingga makanan khas komunitas Hui seperti lanzhou lamian dan kambing panggang.
Tantangan dan Harapan Konservasi
Meskipun tetap aktif, masjid ini menghadapi tantangan konservasi akibat urbanisasi dan minimnya pemahaman generasi muda. Beruntung, pemerintah Guangzhou menetapkannya sebagai warisan budaya terlindungi.
Komunitas muslim lokal juga aktif mengadakan tur edukatif dan program sejarah agar generasi muda tetap terhubung dengan akar budaya Islam di Tiongkok.
Penutup: Warisan yang Tak Tergantikan
Masjid Huaisheng bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah warisan spiritual dan budaya yang telah bertahan lebih dari 1.300 tahun. Di tengah modernisasi kota, masjid ini berdiri sebagai pengingat bahwa perbedaan dapat berpadu dalam harmoni dan keyakinan bisa tumbuh dalam damai.
“Saya merasa seperti berada di dua dunia: Guangzhou modern dan masa lalu Islam. Masjid ini punya aura yang tak bisa dijelaskan.” — Fatimah Abdullah, wisatawan dari Malaysia









