DEAL TEKNO | CEO OpenAI Sam Altman kembali mengingatkan dunia akan sisi gelap di balik pesatnya adopsi kecerdasan buatan, khususnya di kalangan anak muda. Dalam sebuah konferensi Federal Reserve, Altman menyuarakan kekhawatiran mendalam terhadap meningkatnya ketergantungan generasi muda pada ChatGPT untuk mengambil keputusan pribadi hingga menentukan arah hidup. Menurutnya, fenomena ini bukan kasus terisolasi, melainkan gejala umum yang berpotensi mengikis kemandirian berpikir dan membentuk ketergantungan psikologis terhadap teknologi.
Contents
📌 1. Kekhawatiran Transparan dari Sam Altman
Dalam sebuah konferensi perbankan Federal Reserve baru‑baru ini, CEO OpenAI Sam Altman menyampaikan kekhawatiran serius mengenai ketergantungan berlebihan anak muda terhadap ChatGPT. Ia menyatakan, “People rely on ChatGPT too much. There’s young people who say things like, ‘I can’t make any decision in my life without telling ChatGPT … I’m gonna do whatever it says.’ That feels really bad to me.”.
Menurut Altman, perilaku tersebut bukanlah “hal pinggiran”, melainkan “a really common thing with young people” yang bisa menjadi bahaya nyata.
⚠️ 2. Resiko Kognitif dan Dampak Sosial
Altman juga menyoroti potensi dampak buruk AI terhadap fungsi otak dan produktivitas belajar. Studi MIT menunjukkan bahwa penggunaan ChatGPT secara berlebihan dapat menurunkan keterlibatan otak dan melemahkan kemampuan berpikir kritis.
Di sisi lain, menurut laporan Business Insider, penelitian Common Sense Media menyebutkan bahwa 72% remaja AS telah menggunakan AI companion dan banyak yang mempercayai nasihatnya; hal ini meningkatkan kecemasan akan ketergantungan emosional terhadap AI.
Walau teknologi ini canggih dan kadang memberi hasil lebih efektif daripada konseling manusia, Altman memperingatkan bahwa menyerahkan pilihan hidup sepenuhnya ke AI tetap saja “feels bad and dangerous“.
🧠 3. Privasi, Legalitas, dan Kesadaran Digital
Altman menyoroti bahwa ChatGPT tidak dilindungi oleh prinsip privasi hukum seperti dokumen seorang psikolog atau dokter. Bahkan dalam kasus hukum, percakapan dengan AI bisa dijadikan bukti.
Selain itu, Altman mendesak agar masyarakat dan pengembang AI meningkatkan literasi digital: ada batasan bagaimana data pribadi digunakan, disimpan, atau dibagikan.
✅ 4. Solusi dan Upaya Pendidikan AI
Sebagai respons, OpenAI melalui Leah Belsky (VP Pendidikan) mendorong agar ChatGPT diperlakukan sebagai alat bantu, bukan mesin jawaban. Model “Study Mode” dirancang untuk menstimulus pemikiran kritis dan pembelajaran aktif.
Dalam konteks pendidikan, model moderasi penggunaan AI—seperti pertanyaan pemandu atau pilihan jawaban—juga terbukti mengurangi penggunaan tidak reflektif AI oleh siswa.
Dikutip dari Kompas.com bos ChatGPT mengatakan, “Orang‑orang punya tingkat kepercayaan yang sangat tinggi terhadap ChatGPT … AI itu masih bisa ‘berhalusinasi’.”
Ketergantungan berlebihan anak muda pada ChatGPT sebagai penasihat hidup penting mendapat perhatian. Menurut Sam Altman, meskipun AI seperti ChatGPT sangat berguna, menjadikan AI sebagai satu-satunya acuan pengambilan keputusan—tanpa pertimbangan manusia—dapat mengikis kemandirian berpikir dan membuat ketergantungan psikologis. Pemahaman literasi digital, verifikasi informasi, dan batasan antara AI dan profesional manusia harus ditegakkan agar teknologi tetap bermanfaat tanpa merusak perkembangan kritis dan etika pengguna. (wam)
Pastikan anda terus menerima berita update dari Deal Channel dan Alwas Mart Media melalui Whatsapp Channel:
https://whatsapp.com/channel/0029VaFToFG8kyyGpriTkR0G






