DEAL PROFIL | Di wilayah paling barat Tiongkok, jauh dari hiruk-pikuk kota besar seperti Beijing atau Shanghai, berdiri bangunan-bangunan yang menjadi saksi bisu perjalanan spiritual dan budaya selama berabad-abad: masjid-masjid di Xinjiang. Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid di wilayah ini adalah pusat kehidupan komunitas Muslim Uyghur—tempat berkumpul, belajar, hingga mempererat solidaritas sosial.
Namun kini, masjid-masjid di Xinjiang berdiri di antara dua realitas: sebagai simbol warisan Islam yang kaya, sekaligus berada dalam bayang-bayang kebijakan ketat pemerintah terhadap praktik keagamaan.
Contents
Jejak Sejarah Islam di Tanah Barat Tiongkok
Islam masuk ke wilayah Xinjiang sejak abad ke-10 melalui Jalur Sutra, dibawa oleh para pedagang dan ulama dari Asia Tengah. Masjid-masjid dibangun dengan gaya arsitektur khas yang menggabungkan unsur Turkestan, Persia, dan elemen lokal Uyghur. Salah satu yang paling ikonik adalah Masjid Id Kah di Kashgar, masjid terbesar di Tiongkok yang telah berdiri sejak abad ke-15.
Dengan gerbang kuning megah dan halaman luas, Id Kah bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat kegiatan keagamaan dan sosial. Pada masa lalu, ribuan orang berkumpul di sini untuk salat Jumat dan merayakan hari besar Islam. Interiornya dipenuhi ukiran kayu tradisional, karpet tebal, dan suasana spiritual yang hangat.
Namun Id Kah hari ini jauh lebih sepi dibandingkan dekade lalu. Kamera pengawas dan pemeriksaan keamanan menjadi pemandangan biasa, dan aktivitas keagamaan lebih dibatasi secara administratif.
Transformasi Masjid dan Pengawasan Ketat
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah Tiongkok menerapkan kebijakan yang disebut “de-ekstremisasi” di Xinjiang, yang berdampak besar pada kebebasan beragama komunitas Muslim. Laporan dari berbagai organisasi HAM internasional mencatat bahwa banyak masjid mengalami renovasi, penutupan, bahkan pembongkaran. Simbol-simbol keagamaan seperti kubah dan menara di beberapa tempat juga dilucuti.
Sebuah laporan dari Australian Strategic Policy Institute (ASPI) mencatat bahwa lebih dari 8.500 masjid telah dihancurkan atau dirusak sejak 2017, meskipun pemerintah Tiongkok membantah klaim ini dan menyebut bahwa masjid tetap “dimodernisasi” dan “dipelihara”.
Pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa kebijakan mereka bertujuan untuk melawan radikalisme agama dan menjaga stabilitas sosial. Namun bagi banyak Muslim Uyghur, masjid yang dulu menjadi tempat pelipur lara kini menjadi simbol hilangnya ruang ekspresi keimanan.
Masjid sebagai Ruang Sosial yang Terkikis
Selain fungsi spiritual, masjid di Xinjiang dulunya juga berperan sebagai ruang pendidikan informal. Di sana, anak-anak belajar mengaji, warga mendiskusikan isu komunitas, dan acara sosial keagamaan berlangsung meriah. Kini, banyak masjid yang hanya diizinkan dibuka pada waktu tertentu, dengan aktivitas terbatas, dan pengawasan ketat dari aparat lokal.
Beberapa warga yang berhasil diwawancarai secara anonim menyebutkan bahwa kehadiran ke masjid harus dicatat, dan anak-anak di bawah umur dilarang mengikuti kegiatan keagamaan. Dalam beberapa kasus, bahkan menyimpan Al-Qur’an atau materi dakwah dianggap mencurigakan.
Warisan yang Masih Bertahan
Meski demikian, beberapa masjid besar seperti Masjid Yanghang di Urumqi atau Masjid Emin di Turpan masih berdiri dan dikunjungi wisatawan. Masjid Emin, yang dibangun pada abad ke-18, memiliki menara setinggi 44 meter dan dikelilingi kebun buah serta pemukiman khas Uyghur. Masjid ini menjadi situs budaya yang dilestarikan oleh negara, meskipun fungsinya sebagai tempat ibadah telah berkurang.
Ironisnya, masjid-masjid tua kini lebih sering dijadikan destinasi wisata sejarah dibandingkan pusat aktivitas religius. Di satu sisi, ini menjaga bangunan tetap utuh. Di sisi lain, identitasnya sebagai jantung komunitas Muslim semakin memudar.
Harapan yang Masih Menyala
Di tengah pembatasan, sebagian masyarakat tetap menjaga nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari secara personal. Doa dipanjatkan dalam diam, puasa dijalankan di rumah, dan tradisi keagamaan tetap diajarkan dalam lingkup keluarga. “Islam bukan hanya soal tempat ibadah. Ini soal keyakinan yang kita bawa dalam hati,” ujar seorang warga Uyghur lansia dari Korla, dengan lirih.
Dalam lanskap politik yang kompleks dan tekanan global terhadap Tiongkok, nasib masjid-masjid di Xinjiang menjadi cermin tarik-ulur antara warisan sejarah, kontrol negara, dan ketegangan identitas. Namun seperti doa yang terus terucap meski dalam bisu, keberadaan masjid tetap menjadi simbol harapan—bahwa suatu hari nanti, tempat-tempat itu akan kembali menjadi ruang terbuka untuk iman, ilmu, dan komunitas. (ath)








