Angkot Jadul Masih Berkeliaran di Kota Medan: Nostalgia di Tengah Modernisasi Transportasi

DEAL PROFIL | Di tengah gemuruh modernisasi dan perkembangan transportasi publik yang semakin canggih, keberadaan angkutan kota (angkot) jadul di kota Medan masih menjadi pemandangan yang familiar dan penuh nostalgia. Meskipun sudah banyak bermunculan transportasi modern seperti bus rapid transit (BRT) dan layanan transportasi online, angkot jadul tetap setia melayani masyarakat Medan, menghubungkan berbagai sudut kota dengan warna dan cerita tersendiri.

Pada pagi yang cerah di persimpangan Jalan Sisingamangaraja, terlihat deretan angkot jadul dengan ciri khasnya yang mencolok. Dihiasi berbagai stiker dan lukisan khas yang penuh warna, serta musik dangdut atau pop klasik yang mengalun dari dalam, angkot-angkot ini menawarkan pengalaman unik bagi para penumpangnya. Sopir angkot, yang sebagian besar adalah pria paruh baya, dengan cekatan mengendarai kendaraan mereka, berhenti di setiap halte sembari berteriak menyebutkan tujuan.

Read More

Pak Herman, seorang sopir angkot yang telah menggeluti profesi ini selama lebih dari 30 tahun, mengungkapkan rasa cintanya terhadap pekerjaan ini. “Angkot ini bukan sekadar alat transportasi, tapi juga bagian dari hidup saya. Setiap hari saya bertemu dengan banyak orang, mendengar cerita mereka, dan itu membuat saya bahagia,” ujarnya sambil tersenyum. Pak Herman juga mengenang masa-masa kejayaan angkot pada era 80-an dan 90-an, di mana angkot menjadi primadona transportasi masyarakat Medan.

Di tengah hiruk-pikuk kendaraan modern, penumpang angkot jadul tetap setia. Bu Siti, seorang ibu rumah tangga yang sering menggunakan angkot untuk pergi ke pasar, merasa nyaman dengan keberadaan angkot jadul. “Saya sudah biasa naik angkot ini. Sopirnya ramah, dan saya bisa bertemu dengan banyak orang di dalamnya. Rasanya lebih akrab dan hangat,” katanya.

Namun, keberadaan angkot jadul tidak lepas dari tantangan. Banyak angkot yang sudah berusia tua dan mengalami masalah teknis, sehingga membutuhkan perawatan ekstra. Pemerintah Kota Medan sendiri telah mengupayakan berbagai program untuk memperbarui armada angkot, namun masih banyak sopir yang bertahan dengan angkot lama mereka karena alasan biaya dan keterikatan emosional.

Pengamat Perhubungan Kota Medan, Bapak Taufik Hidayat, menjelaskan bahwa pihaknya tengah berupaya mencari solusi terbaik untuk meningkatkan kualitas transportasi publik tanpa menghilangkan keberadaan angkot jadul. “Kami memahami nilai historis dan budaya yang dimiliki angkot jadul ini. Oleh karena itu, kami sedang merancang program revitalisasi yang dapat membantu para sopir memperbarui armada mereka dengan lebih terjangkau, tanpa kehilangan karakteristik uniknya,” ujar Bapak Taufik.

Di balik pesona klasiknya, angkot jadul juga membawa tantangan terkait keselamatan dan kenyamanan penumpang. Program revitalisasi ini diharapkan dapat meningkatkan standar keselamatan, serta memberikan kenyamanan yang lebih baik bagi penumpang. Selain itu, ada juga rencana untuk memberikan pelatihan kepada sopir angkot dalam hal pelayanan dan perawatan kendaraan.

Meski menghadapi berbagai tantangan, keberadaan angkot jadul di Medan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan kota. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi, tetapi juga sebagai saksi bisu dari sejarah dan perkembangan kota Medan. Angkot jadul adalah pengingat akan masa lalu yang penuh kenangan, serta bukti bahwa di tengah arus modernisasi, ada tradisi yang tetap bertahan dan dihargai.

Dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat, diharapkan angkot jadul dapat terus beroperasi dengan lebih baik, menawarkan pengalaman transportasi yang unik dan penuh nostalgia bagi setiap penumpangnya. Di kota Medan, angkot jadul bukan hanya sekadar kendaraan, tetapi juga bagian dari identitas kota yang kaya akan budaya dan sejarah. (ath)

Related posts